KEMATIAN (1)
Ilustrasi gambara: Anto Narasoma
Oleh: Paulus Laratmase)*
–
Setelah membaca puisi berjudul “Di Kesunyian Kompleks Itu” karya Anto Narasoma, “Rumah Duka, Sajakku Mengalirkan Genangan Air Mata” karya Lasman Simanjuntak dan “Pasang Matamu Tak Lagi Terbuka” karya Yusuf Achmad menggugah dan menginspirasi hati saya menuangkan buah pikiran dalam sebuah refleksi kiritis terkait judul puisi yang menurut hemat saya bertemakan “Kematian” dari tiga sastrawan yang sangat inspiratif. Refleksi kritis ini saya beri judul “Kematian”.
Bagian pertama tulisan saya, berangkat dari kondisi subjek penulis atas karya sastranya terkat realitas ketiadaan sebagai definisi awal konsep “kematian” atau “ketiadaan” itu sendiri.
———–
“lihatlah,
di ruang pertemuan
yang luas terpapar
sesosok bangkai
tak tampak lagi
keangkuhan dan kesombongan yang diusung ke sana-sini”
(Oleh Anto Narasoma)
(https://suaraanaknegerinews.com/di-kesunyian-kompleks-itu/;
—————————–
“Para mata tanpa berkedip
Kosong, penuh kenangan
Sepasang mata menjerit,”Terlalu cepat.”
Berpasang-pasang mata penuh warna putih sedikit hitam
Menyisakan penyesalan, kesedihan teramat dalam”
(Oleh Yusuf Achmad)
—————————–
Lasman Simanjuntak menulis sajaknya:
“sepi terkunci rapi
di sudut ruangan
bunga mawar putih
berbaris tegak
semerbak
bau kematian
jasadnya perkasa
terbaring dingin
wangi peti mati
diawetkan
untuk satu abad”
https://suaraanaknegerinews.com/rumah-duka-sajakku-mengalirkan-genangan-air-mata/)
—————————–
Rasio memampukan ketiga sastrawan mendefinisikan konsep “kematian” dengan caranya, dari sudut pandangnya sendiri. Narasi puitisnya melukiskan betapa luluh hati menatapi ketiadaan yang dimaknai sebagai “kematian.”
Membaca dari bait ke bait, analogi-analogi ketiga sastrawan terkait “kematian” bermuara pada makna sebuah faktisitas manusiawi di mana “roh” atau perpisahan antara “roh” dari “tubuh” yang sering diistilahkan sebagai “corpus”.
Yang menjadi acuan di sini adalah tubuh yang dapat diperiksa, diobservasi lahiriah dan objektif ditetapkan bahwa jasad itu tidak lagi dihidupi oleh jiwa rohani, bagian dari materi organic yang sebelumnya berada sebagai “tubuh manusiawi” kini berhenenti berada sebagai kehadiran pribadi.
Pribadi telah terpisah atau menjauhkan diri dengan meninggalkan sebuah jasad atau jenazah. Berangkat dari factum ini, maka kematian berarti berhentinya kehidupan (animatio) atau terpisahnya jiwa dari tubuh.
Itu sebabnya jika menelisik bait per bait puisi para sastrawan di atas, kematian digambarkan sebagai kehilangan kehadiran “ in absentia” pribadi seseorang yang dalam relasi sosiologisnya sulit untuk dipisahkan dari makna kehidupan kebersamaannya dengan orang lain selagi masih hidup. Demikian Yusuf Achmad menulis:
“Para mata tanpa berkedip
Kosong, penuh kenangan
Sepasang mata menjerit,”Terlalu cepat.”
Berpasang-pasang mata penuh warna putih sedikit hitam
Menyisakan penyesalan, kesedihan teramat dalam”
Bahkan Lasman Simanjuntak lebih sedikit radikal menarasikan kesedihan itu, katanya:
oi, rumah duka
di sini
sajakku
mengalirkan
genangan air mata
agar kami semua
para pelayat
ingat giliran siapa
turun perlahan (pasti!)
ke dunia orang mati
Ketiadaan tubuh subjektif identik dengan kematian itu sendiri. Di sana fungsi-fungsi relasi sosial: entah itu kedudukan, pangkat, jabatan, kekayaan dan segalam macam keinginan kebertubuhan menjadi sirnah. Berbagai keingingina dan kesombongan corporal subjektif menjadi “tiada,” demikian Anto Narasoma menarasikan bait puisinya:
“lihatlah,
di ruang pertemuan
yang luas terpapar
sesosok bangkai
tak tampak lagi
keangkuhan dan kesombongan yang diusung ke sana-sini”.
https://suaraanaknegerinews.com/di-kesunyian-kompleks-itu/; https://suaraanaknegerinews.com/rumah-duka-sajakku-mengalirkan-genangan-air-mata/
)*Paulus Laratmase adalah Direktur Eksekutif LSM Santa Lusia, tinggal di Papua.