April 17, 2026

Kemenag Tanimbar Resmikan Gazebo “Lingat TsayaK Ngamone”, Simbol Duan Lolat

Oleh : joko

HUT RI ke-80 di Tanimbar: Merajut Toleransi Lewat Jalan Santai Kerukunan dan Peresmian Gazebo Persaudaraan

Aloysius Rumwarin: Tanimbar Rumah Bersama, Mari Hidupi Persaudaraan

http://suaraanaknegerinews.com | Suasana Sabtu pagi, 16 Agustus 2025, tampak berbeda di kota Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Ratusan warga dari berbagai kalangan tumpah ruah mengikuti Jalan Santai Kerukunan yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kepulauan Tanimbar.

Kegiatan ini dimulai dari Kompleks Pasar Baru Omele, Desa Sifnana, Kecamatan Tanimbar Selatan, lalu mengitari jalanan kota Saumlaki. Peserta berjalan santai penuh keakraban hingga garis finis di halaman Kantor Kemenag KKT, Jalan Ir. Soekarno, Saumlaki.

Acara pelepasan peserta berlangsung pukul 06.30 WIT dengan penuh semangat kebersamaan. Jalan santai ini tidak hanya sekadar olahraga, tetapi juga menjadi momentum merajut persaudaraan, sekaligus meneguhkan semangat nasionalisme menjelang peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80.

Peresmian Gazebo “Lingat Tsayak Ngamone”

Setelah jalan santai, rangkaian acara dilanjutkan dengan peresmian Gazebo Lingat Tsayak Ngamone di halaman kantor Kemenag KKT. Peresmian ini ditandai dengan doa bersama lintas agama dan sambutan para tokoh agama, antara lain perwakilan Uskup, MUI, serta pengurus FKUB.

Gazebo ini dimaknai sebagai “rumah persaudaraan” yang merangkul semua umat beragama, sejalan dengan nilai budaya lokal Duan Lolat. Tempat sederhana namun sarat makna ini diharapkan menjadi simbol keterbukaan, persaudaraan, dan toleransi masyarakat Tanimbar.

Sambutan Kepala Kemenag KKT

Dalam sambutannya, Kepala Kantor Kemenag KKT, Aloysius Paskhalis Rumwarin, S.Fil, menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan toleransi antarumat beragama di tengah tantangan bangsa.

“Kita sedang merayakan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Namun, akhir-akhir ini kita sering menyaksikan intoleransi, bahkan perusakan rumah ibadah di beberapa daerah. Karena itu, mari kita di Tanimbar memulai sesuatu yang baru, yang berpijak pada budaya Duan Lolat, budaya yang merangkul semua,” ujarnya penuh semangat.

Rumwarin menambahkan, Kementerian Agama adalah rumah semua agama. Di kantor ini terdapat bimas Kristen, Katolik, Islam, Kanwil, dan dalam waktu dekat juga akan hadir bimas Hindu-Buddha. Semua umat memiliki ruang yang sama.

“Sebagai Kepala Kantor Agama, saya harus adil untuk semua umat beragama. Pelayanan prima hanya akan tercipta ketika semua merasa dihargai dan tidak ada diskriminasi,” tegasnya.

Lingat: Simbol Persaudaraan Tanimbar

Lebih jauh, Rumwarin menjelaskan makna filosofis dari Lingat Sayat Ngamone. Kata Lingat menunjuk pada kesakralan persaudaraan, keakraban, dan kekerabatan yang sudah lama hidup dalam budaya Tanimbar. Lingat juga berarti rumah persinggahan, tempat orang duduk, terbuka, dan saling mengenal.

“Dari hal-hal kecil seperti pertemuan di Lingat ini, akan lahir hal-hal besar untuk kebaikan bersama. Inilah yang ingin kita tularkan: bahwa Tanimbar adalah rumah kita semua,” ujarnya.

Menebar Toleransi, Merawat Duan Lolat

Aloysius Rumwarin berharap, semangat persaudaraan ini bisa disebarkan lebih luas, terutama oleh media massa yang hadir.

“Tularkanlah kebaikan ini kepada seluruh masyarakat. Kerukunan di Tanimbar yang sudah terjaga ribuan tahun melalui budaya Duan Lolat, mari terus kita pelihara. Tugas kita adalah menularkan toleransi, agar masyarakat tetap hidup rukun dan damai,” pungkasnya.

0-3248×1440-0-0#

Harmoni dalam Perbedaan

Kegiatan jalan santai dan peresmian gazebo ini menjadi simbol nyata bagaimana persatuan, nasionalisme, dan cinta tanah air diwujudkan di bumi Duan Lolat.

Dalam suasana penuh keakraban, masyarakat Tanimbar sekali lagi menunjukkan bahwa kerukunan bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari jati diri mereka.