Kentut
Yusuf Achmad
Geger surau itu, kentut menggelegar,
Jamaah saling pandang, mengejar suara kentut,
Curiga, saling pandang namun kentut menghilang,
Hanya baunya tenang melayang di hidung saat sembayang.
Ya kentut lalu, nongol dan bercerita ikhwalnya:
Jika suaraku, du-dut-dut, tersendat itu tanda aku tak sehat,
Bila suraku dut panjang, hatiku lagi lapang,
Lalu salah satu jamaah bertanya, “Bila tak bersuara?”
Artinya cintaku ditolak, kutak bahagia.
Bila bauku seperti jengkol, hatiku lagi dongkol,
Bau ikan asin tak jelas, karena kemauanku keras,
Melawan kalian salat dengan malas.
Saat kau cium bau bangkai, tandanya larangan bertikai.
Lalu jamaah lain, “Bau kentutku tak sedap,dan suaranya panjang,
Apakah maknanya?” tanyanya,
“O itu karena kamu harus segera bertaubat.”
“Mengapa?”
“Ya jika kau terus salat maka salatmu tak diterima.”
Semua tertawa terbahak, seperti kentut yang lepas.
Tiba-tiba, seorang jamaah dengan pipi merah
berkata, “Kentutku banyak warna dan rasa, apa maksudnya, ya?”
“Ah, itu tanda kamu penuh variasi,
tapi perlu diperiksa, mungkin kurang gizi!”
Seorang lagi menggumam, “Baunya kayak kambing,
padahal saya vegetarian, kok bisa?”
“Itu rahasia alam, kentut tak pandang bulu,
bisa mirip kambing, sapi, atau bahkan pemimpin lucu!”
“Kok lucu?”
“Ia karena kerjanya bagaikan kentut, ada suara tak ada wujud.”
Akhirnya, semua tertawa,
perut sakit karena tak henti tertawa.
Di surau yang tenang, kentut jadi cerita,
Seorang jamaah lain, semula diam ikut terbahak,
Diikuti bunyi kentut menyeruak.
Surabaya, 16-2025