Era Nurza
–
Hujan jatuh lagi
berhari-hari tanpa jeda
seakan langit lupa cara menutup pintunya sendiri
Di hulu sungai rintiknya berubah menjadi arus
menyisir lereng menuruni batu
mengangkut tanah yang patah dari tubuh gunung
Sungai-sungai yang biasanya tenang
kini menggembung seperti dada yang menahan cemas
Air keruh penuh lumpur
membawa ranting, ingatan, dan ketakutan
yang hanyut menuju kampung-kampung kecil
yang hanya bisa menunggu
Luapan itu
datang seperti tamu tidak pernah diundang
Masuk ke rumah-rumah sekolah-sekolah
menyusup ke ruang perkantoran
yang pagi itu seharusnya sibuk mengeja rencana
Di dalam kelas bangku-bangku mengambang
seperti kapal kecil yang kehilangan kompas
Anak-anak hanya bisa memandang dari kejauhan
belajar tentang ketidakberdayaan
lebih cepat daripada belajar membaca
Air bersih lenyap
sumur tinggal kenangan basah
PDAM keruh seperti wajah langit yang sudah letih
Ibu-ibu memeluk galon kosong
seakan memeluk harapan terakhir yang belum retak
Di halaman masjid
orang-orang menampung hujan dalam ember
meski mereka tahu
air yang jatuh dari langit
tidak lagi sesuci doa yang mereka panjatkan
kota yang dulu sibuk berlari
kini berhenti sejenak
menghitung detik antara pasrah dan berharap
Hujan yang sama jatuh di mana-mana
namun rasanya tidak pernah sama
di hati yang kehilangan tempat pulang
Pada malam gelap dan basah
aku bertanya pada langit
“Berapa lama lagi kau mengulang luka ini?”
Namun ia tetap mendesis
menurunkan butir-butir jawaban
yang tak pernah bisa dibaca manusia
Di antara sirene dan lampu redup
ada doa yang berjalan perlahan
semoga besok
sungai kembali jernih
tanah kembali menahan dirinya
dan anak-anak kembali mengisi kelas
tanpa takut pada air yang menghafal jalan masuk
Sebab kita semua tahu
setiap banjir adalah peringatan
bahwa alam hanya menagih
apa yang dulu pernah ia berikan
tanpa banyak tanya.
Padang, 24 November 2025