April 20, 2026

“Ketika Kawanku Pergi”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI

LENI KETIKA KAWANKU PERGI

Ilustrasi "Ketika Kawanku Pergi": Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI. Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-99 (Assisted by AI).

/1/

Ketika Kawanku Pergi

Puisi Leni Marlina

Kawanku,
Angin datang, mengunyah pagi
menyeret namamu di ujung gerimis.

Aku mendengar jejakmu
menjadi desir—
patah,
utuh,
patah lagi.

Di langit, burung menggambar huruf terakhir dari namamu,
lalu membiarkannya gugur
di halaman kota yang kau tinggalkan,
Aku lepas kepergianmu dengan air mata yang tertahankan.

Padang, Sumbar, 2017

/2/

Laut yang Kehilangan Ombaknya

Puisi Leni Marlina

Laut pagi itu lupa bagaimana menggulung ombak.
Ia melihatmu pergi,
dan tiba-tiba,
seluruh gelombangnya terhenti.

Garam mengeras di bibir pantai,
karang-karang membeku dalam kebisuan.
Burung camar terbang lebih lambat,
menunggu namamu kembali,
di antara napas laut yang tersendat.

Tapi kau sudah pergi,
Dan ombak itu tak pernah kembali lagi,
Aku masih berharap pada aroma laut negeri ini,
yang akan membawamu kembali ke sini,
suatu hari nanti.

Padang, Sumbar, 2017

/3/

Hujan yang Tak Jadi Turun

Puisi Leni Marlina

Hujan itu sudah beranjak dari awan,
sudah jatuh setetes,
lalu kembali.

Sudah ingin turun,
tapi ada yang menahannya.

Sudah jatuh separuh,
tapi namamu menyalakan matahari.

Hujan itu akhirnya tidak jadi hujan.
Hanya kabut.
Hanya rindu yang tak sampai ke tanah.

Padang, Sumbar, 2017

/4/

Pohon yang Menggugurkan Satu Nama

Ada satu daun jatuh lebih awal
pagi itu, tepat ketika kau melangkah pergi.

Ia berputar dalam udara
mengukur jarak antara perpisahan dan doa.

Ranting-ranting menahan tangis,
tapi akarnya tahu:
setiap musim akan membawa pulang
segala yang jatuh.

Padang, Sumbar, 2017

/5/

Ketika Kita di Jembatan

Puisi Leni Marlina

Jembatan ini mendadak berhenti di tengah.
Langkahmu ada di sana, tapi tak bisa lewat.

“Pergilah,” kataku.
“Jangan,” bisik jembatan.

Kakimu melayang di atas ragu-ragu.
Dan aku berdiri di sini,
setengah berharap kau tetap di seberang,
setengah lagi menunggu jembatan ini runtuh
agar kita tak perlu memilih.

Padang, Sumbar, 2017

/6/

Kota yang Kehilangan Bayang-bayang

Puisi Leni Marlina

Sejak kau pergi, kawanku,
jalan-jalan kehilangan bentuk.
Bayang-bayangmu dulu memanjang di trotoar ini,
tapi kini,
matahari pun seolah tak tahu,
ke mana ia harus jatuh.

Malam datang lebih awal.
Lampu jalan hanya menyala setengah.
Dan aku berdiri di perempatan,
menunggu sesuatu yang tak lagi memiliki arah.

Padang, Sumbar, 2017

/7/

Burung yang Terbang di Dalam Mimpi

Puisi Leni Marlina

Aku melihatmu terbang,
tapi hanya di dalam tidurku.

Setiap kali aku bangun,
kau kembali berada di sini—
di kursi yang kosong.

Aku ingin tidur lebih lama.
Mungkin di mimpi keempat,
kau belum sempat pergi.

Padang, Sumbar, 2017

/8/

Sungai yang Berhenti Mengalir

Puisi Leni Marlina

Sungai ini tiba-tiba kehilangan arah.
Airnya berputar di tempat,
seperti ragu apakah harus mengalir
atau menunggu sesuatu yang hilang.

Dulu, ada suara perahu di sini.
Dulu, ada sepasang tangan yang mencelupkan rindu
ke dalam arus yang tak kembali.

Sekarang, hanya diam.
Dan sungai itu bertanya kepada dirinya sendiri,
tentang arti kehilangan yang tak bisa dijelaskan.

Padang, Sumbar, 2017

/9/

Bayangan yang Lupa Pulang

Puisi Leni Marlina

Aku melihatnya kemarin,
bayanganmu tertinggal di trotoar itu.
Ia berdiri di sana, kebingungan.

“Mestinya aku ikut dia,” katanya.
“Tapi dia berjalan terlalu cepat.”

Sejak saat itu, aku selalu melihatnya di sana,
menempel pada lampu jalan,
menunggu pemiliknya kembali.

Padang, Sumbar, 2017

/10/

Senja yang Terlambat Tiba

Puisi Leni Marlina

Hari itu, matahari seakan enggan tenggelam,
Senja seakan terlambat tiba,
Seolah-olah menunggu sesuatu.

Langit berubah jingga terlalu lama,
dan burung-burung kembali ke sarangnya dua kali.

Mungkin, ia hanya menunggumu
berjalan satu langkah lebih dekat
sebelum benar-benar melepaskan hari.

Tapi kau tetap pergi.
Dan senja itu akhirnya padam,
melepas kepergianmu dalam ikhlas dan damai,
Semoga engkau selamat dan cepat sampai.

Padang, Sumbar, 2017
———————————–

Kumpulan puisi “Ketika Kawanku Pergi” ini awalnya ditulis secara bilingual (Inggris & Indonesia) oleh Leni Marlina tahun 2017. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni juga merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)