Refleksi Paulus Laratmase atas Tulisan: Pascal Tethool dan Theo van den Broek.
–
Dalam suasana yang sering kali dipenuhi hiruk-pikuk perayaan, dua suara: Pascal Tethool dan Theo van den Broek hadir sebagai pengingat yang lembut namun tegas: bahwa makna Natal, etika kehidupan, dan panggilan iman sesungguhnya tidak pernah jauh dari kejujuran, ketulusan, dan solidaritas kepada sesama yang menderita.
Pascal Tethool memulai dengan sebuah refleksi sederhana namun kuat:
“KEJUJURAN sering membuatmu dijauhi, tidak memiliki teman yang banyak. Tetapi KEJUJURAN membuatmu mendapatkan SAHABAT yang Tulus. Maka janganlah takut untuk dikorbankan karena kesetiaanmu pada nilai nilai etika moral: KEJUJURAN, kesetiaan, keikhlasan, keterbukaan dan persaudaraan.
Selamat merajut persahabatan tanpa batas, karena disana akan ada saling menghargai, mendukung dan memberikan manfaat positif, Salve.”
Pascal Tethool. Salam Damai! Untuk dipertimbangkan oleh para tokoh gereja-gereja.
Seruan ini menjadi pesan moral personal. Di tangan Pascal, nilai-nilai kejujuran dan kesetiaan berubah menjadi fondasi spiritual yang mengajak gereja dan masyarakat untuk menjaga nurani, terutama ketika mereka berhadapan dengan realitas sosial yang menyakitkan. Kejujuran, menurutnya, adalah panggilan untuk hidup apa adanya, sekalipun harus berhadapan dengan risiko keterasingan. Tetapi justru dari situlah tumbuh persahabatan sejati, persaudaraan autentik, dan persekutuan yang dilandasi cinta.
Kesaksian Pascal seakan menemukan gema yang sangat kuat dalam refleksi Theo van den Broek. Seusai menghadiri Festival Literasi dan Resiliensi dari Tanah Papua di Waena sebuah forum yang mengangkat penderitaan 103.218 pengungsi Papua, Theo menuliskan kesedihan dan kegelisahannya. Ia terpukul mendengar kisah para saksi, tergerak oleh peluh dan luka yang diungkapkan di ruang pertemuan. Saat ia duduk mereguk kopi Papua, ia mendapati sebuah ironi pahit: berita bahwa pemerintah daerah menyumbang dana besar untuk perayaan Natal.
Melihat “kemenduaan dunia kita”, Theo bertanya: di manakah hati nurani kita? Sudahkah kita menjadi gereja yang hadir, gereja yang hidup, gereja yang bukan hanya merayakan Natal tetapi menghidupi Natal?
Dan Theo menutup dengan sebuah ungkapan yang menggugah:
Dalam pergulatan batinnya seusai menghadiri Festival Literasi dan Resiliensi dari Tanah Papua, Theo van den Broek merumuskan sebuah undangan profetis yang menggugah nurani gereja. Ia mengajak seluruh umat untuk kembali pada inti Natal melalui perayaan yang sangat sederhana, berpusat pada ibadah dan kehidupan keluarga, bukan pada pesta atau kemewahan yang kerap membuat esensi kelahiran Kristus kehilangan maknanya. Bagi Theo, kesederhanaan Natal tidak saja pilihan estetis, tetapi sikap iman yang mengakui bahwa di tengah penderitaan ribuan pengungsi, kemegahan bukanlah bahasa kasih.
Seruan ini kemudian diperluas menjadi panggilan solidaritas yang konkret: seluruh penghematan biaya perayaan dan persembahan Natal sepenuhnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan para pengungsi. Dalam pandangannya, setiap rupiah yang tidak dihabiskan untuk dekorasi, panggung, atau rangkaian acara dapat diubah menjadi beras, selimut, obat-obatan, dan dukungan hidup yang mendesak. Ia juga mendorong agar frekuensi perayaan Natal yang selama ini berlangsung panjang dan berulang dibatasi serta dimulai pada tanggal 24 Desember sebagai bentuk disiplin liturgis dan empati sosial, sehingga gereja tidak kehilangan arah di tengah realitas kemanusiaan yang begitu mendesak.
Akhirnya, Theo menegaskan peran moral gereja sebagai suara kenabian bagi pemerintah. Gereja, katanya, perlu mendorong pemerintah agar membatalkan perayaan Natal besar-besaran di luar gereja dan mengalihkan seluruh anggaran tersebut bagi para pengungsi. Bahkan jika gereja menerima bantuan Natal dari pemerintah, bantuan itu sebaiknya dipakai secara khusus untuk pengungsi, sebuah sikap tegas yang menunjukkan bahwa gereja tidak sekadar merayakan Natal, tetapi mewujudkannya. Dengan demikian, seruan Theo bukan hanya refleksi iman, tetapi peta jalan bagi gereja untuk menempatkan pengungsi sebagai pusat perhatian dan cahaya Natal tahun ini.
“Gerakan nyata ini saya usulkan sambil terdorong oleh penghayatan Damai Natal dan di bawah motto khusus ‘Bintang Natal berhenti tepat di atas tempat Pengungsian’ (Mat. 2,9-10), disitulah Yesus dilahirkan.
PARA PENGUNGSI PAPUA LAYAK dijadikan pusat perHATIan KITA, diterangi CAHAYA dan DAMAI NATAL 2025.
Semoga dan salam damai!”
Theo van den Broek
Etika Kejujuran dan Natal yang Membumi
Jika dicermati, pesan Pascal dan Theo bukan dua suara yang berbeda, melainkan dua aliran yang bertemu pada satu sungai: sungai kejujuran nurani dan kasih yang nyata.
Pascal bicara tentang kejujuran sebagai nilai moral yang terkadang mahal harganya. Theo menunjukkan bahwa kejujuran itu sendiri memuncak dalam keberpihakan kepada mereka yang menderita, bahkan ketika itu membuat gereja terlihat “tidak populer” karena memilih kesederhanaan daripada kemewahan.
Pascal mengajak agar kita setia pada nilai keikhlasan, keterbukaan, persaudaraan. Theo menghidupkan nilai itu dalam bentuk tindakan konkret: bahwa persaudaraan tidak boleh berhenti sebagai konsep; ia harus hadir dalam bentuk beras, selimut, tenda, dan tangan yang menyapa pengungsi.
Pascal mengingatkan bahwa kejujuran membuat kita menemukan sahabat sejati. Theo mengajak gereja untuk menjadi sahabat sejati bagi ribuan pengungsi yang terabaikan.
Nilai moral yang diungkap Pascal menjadi kompas etis yang terwujud dalam seruan profetis yang digagas Theo.
Dan keduanya, “tanpa janjian” mengajak gereja untuk kembali pada jantung iman:
bahwa Natal bukan pesta, melainkan kehadiran kasih di antara mereka yang paling menderita, seperti tempat kelahiran Yesus sendiri: di kandang, di pinggiran, di antara yang tidak dianggap.
Arah Baru untuk Gereja-Gereja: Natal yang Menghidupkan Harapan
Dari kedua refleksi tersebut, tampak jelas bahwa gereja dipanggil untuk menyatukan kejujuran moral dengan kepekaan sosial sebagai bagian dari wajah imannya. Kejujuran bukan hanya persoalan pribadi, tetapi menjadi kompas etis yang menuntun gereja untuk berani melihat kenyataan apa adanya, termasuk penderitaan yang melingkupi ribuan pengungsi. Ketika perayaan liturgis berdamai dengan perayaan kemanusiaan, gereja menemukan kembali rohnya: bahwa doa dan solidaritas tidak pernah berdiri sendiri, dan bahwa iman sejati selalu menyapa mereka yang tersisih dalam sejarah.
Karena itu, Natal tidak boleh berhenti sebagai rangkaian acara, melainkan harus menjelma menjadi gerakan kasih yang menggerakkan tubuh Kristus untuk bertindak. Gereja tidak hanya dipanggil untuk menyanyikan Gloria di ruang-ruang ibadah, tetapi juga untuk membuka telinga kepada jeritan para pengungsi yang hidup tanpa rumah, keamanan, dan pengharapan. Di sanalah kesaksian iman memperoleh bobotnya, ketika pujian liturgis diiringi keberpihakan nyata kepada mereka yang menjadi pusat perhatian kasih Kristus sendiri.
Jika “Bintang Natal berhenti tepat di atas tempat pengungsian”, maka tugas gereja dewasa ini adalah berjalan menuju cahaya itu, membawa apa yang kita punya: doa, dana, tenaga, kehadiran untuk menerangi mereka yang selama ini hidup dalam kegelapan keterasingan.
Kejujuran, ketulusan, dan kasih yang diwartakan Pascal harus mewujud dalam tindakan solidaritas seperti yang diserukan Theo.
Natal sebagai Jalan Pulang bagi Kejujuran dan Kemanusiaan
Dua tulisan ini, dari Pascal Tethool dan Theo van den Broek menjadi catatan pribadi dan panggilan moral kepada gereja-gereja di Tanah Papua dan seluruh Indonesia:
untuk jujur menghadapi kenyataan penderitaan, untuk berani memihak pada mereka yang terpinggirkan, dan untuk menghidupi Natal sebagai peristiwa inkarnasi kasih yang sesungguhnya.
Dan bila kita berani jujur, seperti pesan Pascal, kita tidak akan kehilangan teman; kita akan menemukan sahabat sejati, termasuk di antara mereka yang hari ini menjadi pengungsi di tanahnya sendiri.
Di situlah gereja menemukan dirinya kembali.
Di situlah Natal menemukan maknanya yang paling dalam.
Salam damai bagi Tanah Papua.
Salam damai bagi Gereja.
Salam damai bagi para pengungsi, yang menjadi bintang penuntun bagi kita semua.