Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Yusufachmad Bilintention

Puisi ini lahir dari kerinduan yang menyeberangi batas negara, bahasa, dan budaya. Ia adalah nyanyian persaudaraan yang tak lekang oleh jarak, sebuah ikrar bahwa sahabat, selera, dan suara hati mampu menyatukan kita dalam irama yang abadi.

LAGU KITA BERSAUDARA

Pernah puisiku terombang di antara dua suara,
ingin ke Ankara, lidahku pun keliru mengejanya.
Mungkin karena rindu yang terlalu ingin tiba—
sahabat di sana hadir dalam angan yang tak bersuara.

Ah, deringnya tak seindah harapan:
terputus, seolah angka dan aksara enggan bersapa.
Di pelataran komunitas sastra, angin sejuk menyentuh jiwa,
memperbaiki harpa yang retak oleh khianat dan laba.

Awalnya bangga, lalu terjerat oleh nama yang tak setia—
namun kutemukan kembali permata: sahabat yang mulia.
Di pelataran Nusantara, Melayu kata-angka terus menyala,
asa kulantunkan dalam “Pujaanku” yang sederhana.

Lagu Isabella bergema di Singapura, Malaysia, Indonesia,
kudamba irama Rhoma dan kelembutan Siti Nurhaliza.
Ibuku penyuka India, ayahku kagum kungfu dari Cina,
aku jatuh cinta pada nasi kebuli dan sambosa.

Ibarat lagu Melayu, lidah dan telingaku terus merindu—
film, kuliner, dan lagu: semuanya ada padamu.
Kita tak hanya bersahabat, tapi juga berselera:
sejiwa, sehati, senada dalam irama yang tak pernah tua.

Tunggu aku di sana, di negeri yang lebih dari Ankara.
Aku tak ingin pena ini sekadar sama,
aku ingin kita punya lagu merdu yang bersaudara.

puisi Lagu Kita Bersaudara bersama dua puisimu lainnya sudah masuk ke ontologi puisi “Akar Serumpun Anyaman Rasa.” Puisi ini bukan sekadar untaian kata, melainkan jembatan rasa. Ia mengikat sahabat, keluarga, dan bangsa dalam satu harmoni: lagu persaudaraan yang tak pernah usang.