Ketika Negara Merasa Mampu
Opini oleh Paulus Laratmase
–
Respons Presiden Prabowo Subianto terhadap tawaran bantuan internasional bagi korban bencana di Sumatera menegaskan satu hal penting: negara ingin menunjukkan kapasitas, kemandirian, dan kontrol. Pernyataan bahwa “Indonesia mampu” dan bahwa situasi “terkendali” merefleksikan logika negara modern, logika administrasi, statistik, dan kedaulatan. Namun justru di sinilah persoalan etis itu muncul.
Dalam perspektif kemanusiaan yang lebih dini dari negara, kemampuan negara bukanlah ukuran utama dalam situasi bencana. Ukuran yang paling mendasar adalah sejauh mana penderitaan manusia direspons dengan kerendahan hati moral, bukan dengan rasa cukup diri politik. Bencana bukanlah ujian kekuatan negara, melainkan ujian nurani kemanusiaan.
Negara boleh dan memang wajib menunjukkan kehadiran: Presiden meninjau lokasi, membuka akses jalan, mengapresiasi petugas, dan merencanakan hunian baru. Semua itu adalah tindakan administratif yang penting. Namun kemanusiaan bertanya lebih dalam: apakah kehadiran negara juga berarti membuka diri terhadap solidaritas universal ketika penderitaan masih berlangsung?
Pernyataan bahwa bencana ini “hanya terjadi di tiga provinsi dari 38 provinsi” dan karena itu “situasi terkendali” mencerminkan cara pandang negara yang mengukur penderitaan dengan skala wilayah, bukan dengan skala kemanusiaan. Bagi manusia yang kehilangan rumah, anak yang kelaparan, atau warga yang terisolasi berminggu-minggu, angka provinsi tidak relevan. Satu nyawa yang terancam sudah cukup untuk memanggil solidaritas dunia.
Di sinilah tulisan “Kemanusiaan Lebih Dini dari Negara” menemukan relevansinya. Manusia ada sebelum negara. Solidaritas ada sebelum birokrasi. Naluri saling menolong tidak lahir dari sidang kabinet, tetapi dari kesadaran purba bahwa penderitaan sesama adalah panggilan moral. Ketika dunia menawarkan bantuan, itu bukan karena Indonesia dianggap lemah, melainkan karena manusia di belahan dunia lain masih mengenali manusia Indonesia sebagai sesamanya.
Menolak bantuan internasional dengan alasan “kami mampu” mengandung risiko moral: menggeser fokus dari korban ke citra negara. Seolah-olah menerima bantuan berarti merendahkan martabat bangsa. Padahal dalam etika kemanusiaan, justru sebaliknya: martabat bangsa diukur dari kesediaannya menempatkan nyawa manusia di atas gengsi politik.
Kunjungan Presiden yang berulang kali ke lokasi bencana patut diapresiasi sebagai simbol kepedulian. Namun kepedulian simbolik tidak selalu identik dengan keterbukaan etis. Kehadiran fisik negara tidak otomatis meniadakan kebutuhan solidaritas global. Dalam sejarah kemanusiaan, bahkan negara-negara besar dan kuat sekalipun, Amerika Serikat, Jepang, Turki menerima bantuan internasional saat bencana besar melanda. Mereka tidak runtuh martabatnya; justru martabat mereka diteguhkan karena mengutamakan manusia, bukan citra kekuasaan.
Di titik inilah puisi “Tuan Katakan Dusta” kembali menggema sebagai peringatan moral. Bukan untuk menuduh Presiden berdusta secara personal, tetapi untuk mengingatkan bahaya ketika bahasa kekuasaan terlalu cepat menyebut “terkendali” sementara penderitaan belum sepenuhnya reda. Puisi itu berbicara tentang jarak antara kata-kata negara dan pengalaman rakyat, jarak yang jika dibiarkan, dapat berubah menjadi luka kolektif.
Kemanusiaan universal tidak pernah bertanya apakah suatu bangsa “mampu” atau “tidak mampu”. Ia hanya bertanya: apakah ada manusia yang terluka, lapar, dan terancam hidupnya? Jika jawabannya ya, maka solidaritas adalah kewajiban moral, bukan ancaman kedaulatan.
Kedaulatan yang matang tidak merasa inferior ketika dibantu. Justru kedaulatan yang rapuh adalah yang merasa harus selalu terlihat mampu, bahkan ketika rakyatnya masih menangis. Negara yang besar bukan negara yang menutup pintu bantuan, melainkan negara yang cukup dewasa untuk berkata: “Kami berdaulat, dan karena itu kami tidak menolak kasih.”
Pada akhirnya, pertanyaan ini layak diajukan kepada nurani negara:
Apakah kita ingin dikenang sebagai bangsa yang kuat menjaga gengsi, atau bangsa yang berani merendahkan ego demi menyelamatkan manusia?
Karena sebelum kita menjadi warga negara, kita adalah manusia. Dan kemanusiaan, seperti kasih, selalu lebih dini, lebih tinggi, dan lebih abadi daripada negara.
-000-
Tuan Katakan Dusta
Oleh: Dr. Wiratmadinata, SH.,M.H.,
–
Tak apa tuan berdusta
Pohon pohon itu tumbang karena sudah lapuk dan tua
Meskipun semua bersaksi…
Kayu itu putus rapi karena gergaji
bahkan ada nomornya pula
Tak Apa Karena Tuan Adalah Penguasa
Yang membuat putih jadi hitam
dan yang membuat hitam menjadi putih jua
Tak apa tuan berdusta
Bencana bandang kayu gelondonganitu hanya seram di dalam TV dan medsos saja
Meskipun dunia bersaksidasyatnya petaka
Kampung hilang… Jembatan hancur…
Kota kota terkurung
nyawa hilang dan bayi lapar berminggu minggu lamanya
Tak ada yang menyapa…
Tak apa karena tuan adalah penguasa…
Tak apa tuan katakana…
Ini hanya bencana biasa saja… Jadi bukanlah bencana negara
jadi tak butuh bantuan mancanegara.
Meski dunia tahu… di 18 Kabupaten dan Kota sudah 21 hari bantuan pangan tak ada
Ketika rakyat mau bicara
Malah kau tuding… Mereka adalah ancaman kepentingan asing
Tuan bilang
Tenang… Semua tersedia
Tapi itu hanya kata kata
Sudah berminggu minggu lamanya BBM langka, gas langka, komunikasi macet, spekulan menaikkan harga dan rakyat tidak lagi berbuat apa apa
Masih juga kau katakan … Semua baik baik saja
Sementara di Menar Meriah, rakyat berjalan ratusan kilo menjual cabe merah ditukar beras untuk selamatkan nyawa anak anaknya
Tak apa kalian bisa bicara suka-suka karena kalian penguasa
dan kami hanya rakyat jelata
Tapi kalian lupa, ini adalah zaman di mana dusta direkam dalam ingatan semesta
dan ketika ia diputar ulang sebagai fakta
maka kalian tak akan bisa lagi berdusta
Tak apa…
Tak apa tuan terus menerus berdusta di tengah keluhkesah, tangis dan doa kaum teraniaya
doa mereka akan menggetarkan pintu aras di mana Tuhan bertahta
Tak apa tuan berdusta
karena tuan adalah penguasa
yang putih bisa kalian hitamkan
dan yang hitam bisa kalian putihkan
Kami rakyat biasa hanya memiliki doa
dan doa ini adalah doa ribuan jiwa, doa jutaan jiwa perlahan menjadi miliaran doa yang akan menggerakkan tangan Tuhan mengunci mulutmu sampai tak lagi berdusta.
Aceh, Desember 2025
-ooo-