May 6, 2026

Kepada Bapak Paulus Laratmase yang saya hormati,

Saya sangat berterima kasih atas resensi puisi saya yang Bapak Paulus tulis dan publikasikan di Media SAN (https://suaraanaknegerinews.com/suara-yang-tak-dapat-dilenyapkan-dan-rahim-yang-menggugurkan-batu-2/).

Di antara baris-baris yang Bapak tuliskan, saya merasa seakan sedang bercermin: melihat kembali luka-luka yang saya rajut menjadi puisi, dan mendapati bahwa ada seseorang di kejauhan yang tidak hanya membaca, tapi menyelami. Bukan hanya memahami makna kata, tapi menangkap nafas dan nadi dari tiap bait yang saya bisikkan dalam kesunyian.

Terima kasih, Bapak, karena telah membaca saya, bukan hanya tulisan saya.
Terima kasih karena telah memberi tempat bagi “suara” yang saya titipkan kepada angin, laut, akar, rahim, bara dan bayang-bayang. Terima kasih karena telah memeluk puisi saya dengan kejujuran dan keberanian.

Saya menulis “Suara yang Tak Dapat Dilenyapkan” dan “Rahim yang Menggugurkan Batu” dalam perasaan yang tidak bisa saya teriakkan. Di negeri orang, dalam sepi yang pekat, saya hanya bisa berbicara pada langit dan bumi yang sama-sama asing. Tapi dari sana, saya mulai merangkai kembali serpih-serpih dari tanah yang saya tinggalkan, dari tubuh-tubuh perempuan yang tak sempat menangis, dari akar-akar yang digunting tanpa ampun, dari laut yang dijual tanpa pamit.

Bapak menangkap semua itu. Bahkan lebih dari yang saya sadari saat menulis. Bapak menyambung kata-kata saya dengan peristiwa-peristiwa di Papua, di Aceh, di Maluku Utara, dan tempat lain yang sedang berdarah tapi tak lagi terdengar jeritnya. Melalui resensi Bapak, saya merasakan Bapak membacakan puisi saya kembali dengan suara yang lebih lantang, lebih terang, dan lebih menohok daripada ketika saya pertama kali menuliskannya.

Saya tertegun saat Bapak menulis:

“Rahim yang dizalimi tidak akan tinggal diam.”
Itu adalah kalimat yang barangkali seharusnya saya tulis sendiri, tapi Bapaklah yang menuliskannya untuk saya. Dan untuk kami semua yang menyimpan bara dalam dada.

Bapak Paulus, saya bukan penyair besar. Saya hanya perempuan yang menulis agar tak hancur. Tapi lewat resensi Bapak, saya merasa ditemani, diangkat, dan dikuatkan. Bahwa tulisan saya bisa ikut hadir dalam percakapan tentang keadilan, lingkungan, sejarah, dan kemanusiaan—itu lebih dari cukup bagi saya.

Saya percaya, kata-kata adalah tubuh dari harapan yang terus diusir, tapi tak pernah bisa mati. Dan hari ini, saya tahu bahwa harapan itu sedang hidup di dalam tulisan Bapak.

Terima kasih atas ruang, waktu, dan hati yang Bapak berikan kepada karya saya. Semoga suara-suara yang kita jaga ini, akan terus menyala… meski kadang hanya berupa bisikan dari bawah tanah.

Dengan penuh rasa hormat dan cinta pada kata,

Leni Marlina

Padang saat turun hujan lebat, musim sunyi yang tak pernah lelah dan menyerah.