Resensi Puisi “Suara yang Tak Dapat Dilenyapkan” dan “Rahim yang Menggugurkan Batu” Karya Leni Marlina
Oleh: Paulus Laratmase
–
Identitas Karya
Judul Puisi: “Suara yang Tak Dapat Dilenyapkan dan Rahim yang Menggugurkan Batu”
Penulis: Leni Marlina
Tahun Penulisan: 2012
Tempat Penulisan: Canberra, Australia
Afiliasi Penulis: PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA
Sinopsis Isi Puisi
a. Suara yang Tak Dapat Dilenyapkan
Puisi ini menggambarkan suara-suara perlawanan yang tak pernah benar-benar mati. Mereka hanya diam untuk sementara, menunggu waktu yang tepat untuk bangkit kembali. Simbol-simbol seperti angin, laut, bara, dan akar menjadi metafora kekuatan yang tersembunyi namun abadi. Subjek kolektif “kami” dalam puisi ini mewakili kelompok yang tertindas namun masih memiliki daya untuk melawan, bersuara, dan bertahan.
b. Rahim yang Menggugurkan Batu
Puisi ini melanjutkan tema perlawanan, kali ini dari perspektif yang lebih konkret: tubuh perempuan, tanah, laut, dan lingkungan yang dirusak oleh kekuasaan. “Rahim” digunakan sebagai simbol kekuatan penciptaan dan kehidupan, yang kini dilukai oleh kekuasaan patriarkal dan kapitalistik (“menanam batu”, “menukar laut dengan baja”). Meski demikian, puisi ini menegaskan bahwa kekuatan perempuan dan alam tak akan diam, mereka tahu cara untuk “menggugurkan batu” dan “menghancurkan karang”.
Gaya Bahasa dan Teknik Penulisan
Leni Marlina menulis dengan gaya simbolik-metaforis yang kuat. Ia menggunakan banyak elemen alam (angin, laut, bara, akar, gelombang, karang) untuk menyampaikan tema ketahanan, perlawanan, dan keadilan. Penggunaan anafora (pengulangan struktur kalimat), seperti “Ada suara…”, “Kami adalah…”, membangun ritme dan kekuatan naratif puisi secara bertahap.
Terdapat pula ironi dalam puisi ini: musuh menyangka bahwa mereka telah menang, bahwa suara telah lenyap, tangan telah patah, rahim telah mati, padahal semua itu justru menyimpan potensi ledakan yang lebih besar. Ini menunjukkan perlawanan dalam diam, kekuatan dalam luka, dan kebangkitan dalam keterasingan.
Tema dan Makna
a. Perlawanan dan Ketahanan
Kedua puisi menekankan bahwa kekuasaan bisa menindas, tetapi tak bisa memadamkan semangat hidup. Perlawanan dalam puisi Leni Marlina merupakan perlawanan yang tumbuh dari luka, dari trauma, dan dari kehendak untuk tidak dilenyapkan.
b. Perempuan dan Tanah
Dalam Rahim yang Menggugurkan Batu, terdapat personifikasi rahim sebagai metafora bumi dan perempuan. Ini menekankan hubungan erat antara tubuh perempuan dan alam. Keduanya adalah sumber kehidupan, tetapi juga korban eksploitasi. Namun, mereka tidak pasrah; mereka justru memiliki kekuatan untuk menggugurkan dan menghancurkan.
c. Kolonialisme dan Ekspansi Kapital
Ada kritik tersirat terhadap kolonialisme modern dan eksploitasi kapitalistik. “Menukar laut dengan baja”, “janji yang mengeras”, dan “batu di rahim” menggambarkan dampak industrialisasi dan perampasan tanah terhadap komunitas adat, perempuan, dan alam.
Konteks Sosial dan Politik
Leni Marlina menulis dua puisi ini di Canberra, Australia, tempat yang juga memiliki sejarah kolonialisme dan marginalisasi terhadap masyarakat adat (Aborigin). Kemungkinan besar, ini menjadi latar perenungan tentang nasib komunitas tertindas, baik di Australia maupun di tanah air penulis: Indonesia. Leni membawa suara dari pinggiran ke pusat, dan menyuarakan mereka yang tak bisa bersuara melalui puisi.
Dalam Rahim yang Menggugurkan Batu, Leni Marlina menyampaikan jeritan dari tanah yang dirusak, rahim yang dipaksa menanggung beban yang tak wajar, dan laut yang ditukar dengan baja. Simbol ini sangat relevan dengan kondisi yang terjadi di Raja Ampat dan Maluku Utara saat ini, di mana tanah-tanah adat yang dulunya dihormati sebagai bagian dari kehidupan spiritual dan ekologis masyarakat, kini dilubangi untuk tambang nikel demi kebutuhan industri global.
Masyarakat adat yang telah “melahirkan bangsa dari tulang mereka sendiri” justru didepak dari ruang hidupnya, menyaksikan alam yang rusak tanpa daya tawar. Mereka menjadi saksi bisu dari keserakahan yang disahkan oleh negara.
Kondisi serupa juga terjadi di Papua, yang menjadi lambang terakhir dari paru-paru hijau Indonesia. Puisi Suara yang Tak Dapat Dilenyapkan menemukan gaungnya di sini: ada suara masyarakat adat yang selama ini diabaikan, disangkal keberadaannya, atau dipaksa diam. Namun suara itu, sebagaimana kata Leni Marlina, tak pernah benar-benar padam, hanya menyusup ke angin, menjalar menjadi akar. Illegal logging yang berlangsung masif bukan hanya membunuh pohon, tetapi juga membunuh bahasa, identitas, dan kepercayaan yang hidup dalam tubuh hutan itu sendiri. Perlawanan rakyat Papua terhadap kerusakan ini adalah bentuk bisikan yang bisa berubah menjadi teriakan sejarah.
Sementara itu, di Aceh, konflik administratif yang tampak teknis, seperti pemindahan pulau-pulau kecil ke provinsi lain, mengandung luka kultural yang dalam. Bagi masyarakat lokal, pulau-pulau bukan hanya titik koordinat dalam peta, melainkan warisan nenek moyang yang menyimpan sejarah, adat, dan batas harga diri. Dalam puisi Leni, “kami adalah bayang-bayang yang mengintai tipu daya mereka untuk menguasai tanah ini” bisa dibaca sebagai representasi dari kegelisahan Aceh akan bentuk baru kolonisasi internal. Di tengah diamnya media dan pusat kekuasaan, rakyat kecil tetap mencatat dan menjaga suaranya agar tak lenyap.
Semua kasus ini, dari Maluku Utara hingga Papua dan Aceh, menunjukkan bagaimana tubuh perempuan, tubuh bumi, dan tubuh komunitas adat sama-sama mengalami luka dari sistem kekuasaan yang menjajah secara sistematis. Leni Marlina mengangkat luka-luka itu bukan sebagai ratapan semata, melainkan sebagai peringatan: bahwa ketika suara tidak didengar, akar akan merobek bumi; bahwa rahim yang dizalimi tidak akan tinggal diam. Puisinya bukan hanya estetika sastra, melainkan suara kultural dan ekologis yang menyuarakan jeritan yang selama ini disenyapkan.
Kekuatan Puisi
“Puisi Suara yang Tak Dapat Dilenyapkan” dan “Rahim yang Menggugurkan Batu” karya Leni Marlina adalah dua karya yang menunjukkan bagaimana bahasa bisa menjadi alat perlawanan yang kuat.
Dengan bahasa yang padat dan estetis, Leni Marlina menciptakan keindahan bunyi dan imaji, menghadirkan daya dorong ideologis yang kuat. Puisinya menyatukan unsur artistik dengan kritik sosial-politik yang tajam, menjadikan puisi sebagai ruang simultan antara kontemplasi dan perjuangan.
Dalam kondisi Indonesia yang sarat luka ekologis dan ketimpangan sosial, seperti perampasan lahan di Maluku Utara, kerusakan ekologis di Papua, hingga konflik administratif atas pulau-pulau Aceh, puisi-puisi ini menggema sebagai suara hati yang mewakili mereka yang selama ini dibungkam.
Simbolisme alam yang digunakan oleh Leni, merupakan cara ampuh menyuarakan perlawanan terhadap dominasi sistemik. Angin, akar, laut, bara, dan rahim hadir sebagai metafora puitis. Ia hadir sebagai representasi nyata dari kekuatan kolektif masyarakat adat, perempuan, dan alam yang dirusak.
Dalam konteks Indonesia, ketika hutan Papua ditebang tanpa ampun, ketika tambang-tambang raksasa menggali tubuh bumi di Papua, Maluku dan Sulawesi dan Kalimantan tanpa mengindahkan keberlanjutan, dan ketika batas-batas wilayah adat dikaburkan oleh birokrasi, maka simbolisme Leni menjadi medium untuk menyuarakan bahwa alam pun memiliki suara, bahwa rahim pun bisa menggugurkan batu, dan bahwa tanah tak selamanya pasrah pada kekuasaan.
Nada puisi Leni Marlina bergerak dari lirih yang penuh luka menuju nada kolektif yang tegas dan menggugah. Puisi transformatif yang menunjukkan bagaimana suara yang selama ini tersembunyi dalam bisik-bisik akar, dalam napas laut, dalam bara di bawah abu, pelan-pelan berubah menjadi kekuatan sosial yang siap membakar ulang sejarah yang keliru. Nada ini sangat mencerminkan semangat perlawanan rakyat kecil di Indonesia saat ini, yang mulai bersatu dan bersuara, meski melalui media alternatif, forum adat, atau seni. Seperti puisi Leni, perlawanan itu tidak selalu frontal, tetapi konsisten dan terus-menerus mengendap dalam tubuh rakyat.
Keunggulan politik dalam puisi-puisi ini terletak pada keberaniannya menyampaikan pesan ketidakadilan tanpa menjadi dogmatis. Leni Marlina tidak menggurui pembacanya; ia menawarkan pengalaman dan kesadaran melalui metafora yang tajam dan menyentuh. Di tengah dominasi narasi pembangunan yang sering melupakan hak komunitas lokal, puisi-puisi seperti ini menjadi ruang reflektif yang penting. Ia membangkitkan pertanyaan: sampai kapan suara-suara ini terus dibungkam?
Maka dari itu, “Suara yang Tak Dapat Dilenyapkan dan Rahim yang Menggugurkan Batu” menjadi naskah karya sastra perlawanan budaya yang relevan dan penting dalam konteks Indonesia kontemporer.
Bahasa yang padat dan imajinatif, tanpa kehilangan pesan politik dan sosialnya. Simbol-simbol alam sebagai kekuatan semantik dan politik. Nada puisi yang berganti dari lirih ke keras, dari bisikan ke teriakan, menunjukkan transisi dari luka ke perlawanan.
Kesimpulan dan Apresiasi
Puisi-puisi Leni Marlina adalah bentuk sastra perlawanan yang menyentuh dan mendalam. Ia menulis untuk menghidupkan kembali semangat juang dalam masyarakat yang terpinggirkan terutama perempuan dan komunitas adat. Puisinya mengajak pembaca untuk mendengar suara-suara yang nyaris dibungkam dan mengakui bahwa ada kekuatan besar dalam diam, dalam akar, dalam rahim, dalam bara yang menyala di bawah abu. Puisi ini patut diapresiasi sebagai bentuk ekspresi literer yang menggugah kesadaran, membangun solidaritas, dan membela kemanusiaan yang nyaris padam dalam struktur kekuasaan yang tidak adil.
Biak-Papua, 15 Juni 2025
Berikut Dua Puisi Leni Marlina:
Referensi:
1. Abdullah Ali, Abdulah Sungkar, Adnan Ghiffari dkk. Bencana Dari Berbagai Perspektif. (2024). Penerbit Pohon Cahaya. Yogyakarta.
2. Damsar (2010). Pengantar Sosiologi Politik. Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
2. S.A. Montong (1989). Filsafat Manusia. Pineleng.