“SUARA YANG TAK DAPAT DILENYAPKAN”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA)
Oleh Leni Marlina
–
/1/
SUARA YANG TAK DAPAT DILENYAPKAN
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ada suara yang mereka kira telah mati,
padahal ia hanya bersembunyi di sela embusan angin,
menyelusup ke rongga-rongga laut
menjadi napas yang menghidupkan gelombang.
Ada tangan yang mereka coba patahkan,
padahal ia hanya melipat diri menjadi akar,
menjalar di bawah tanah,
menunggu saat yang tepat untuk merobek bumi.
Ada perlawanan yang mereka kira telah padam,
padahal ia hanya sedang belajar dari bara,
menyalakan dirinya di bawah abu,
menunggu saat untuk membakar sejarah yang keliru.
Kami berteriak,
Kami berbisik,
Keduanya tak tak dapat dilenyapkan.
Kami adalah kelam yang merayap di sekujur hari.
Kami adalah bayang-bayang yang mengintai tipu daya mereka untuk menguasai tanah ini.
Canberra, Australia, 2012
/2/
RAHIM YANG MENGGUGURKAN BATU
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kami telah melahirkan bangsa dari tulang kami sendiri,
tetapi kini mereka ingin menanam batu di rahim kami.
Kami telah mengasuh tanah dengan darah kami sendiri,
tetapi kini mereka ingin menukar laut dengan baja.
Lihatlah perahu-perahu yang dulu kami bangun
sudah menjadi puing di teluk sunyi.
Lihatlah sungai yang dulu kami peluk
sudah menjadi arus bisu, tercemar janji yang mengeras.
Mereka kira kami akan diam,
tapi kami adalah perut bumi yang tahu cara menggugurkan batu.
Kami adalah gelombang yang tahu cara menghancurkan karang.
Kami adalah suara yang tak pernah benar-benar tenggelam.
Canberra, Australia, 2012
/3/
TAK SUDI MENJADI PATUNG
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Mereka memahat kami dari batu yang paling dingin,
menjadikan kami hiasan yang tak perlu bicara.
Diberi baju indah berkancing emas permata,
diberi selendang sutra,
dipaksa tersenyum untuk para penguasa.
Di panggung-panggung seremonial kami diarak,
sebagai simbol,
sebagai pemanis,
saat tangan mereka menggenggam palu
yang diam-diam memecahkan tulang kami sendiri.
Tetapi kami bukan patung!
Kami adalah tanah yang bisa meledak kapan saja.
Kami adalah sejarah yang bisa menghidupkan nyala.
Kami adalah tubuh yang tahu cara menolak menjadi batu.
Canberra, Australia, 2012
/4/
SEBUAH HARI DI LAUT YANG DILUPAKAN
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Pagi ini laut datang kepadaku seperti seorang ibu
berbisik di antara buihnya:
“Jaga aku, nak. Mereka ingin membuatku bisu.”
Aku memungut ikan yang mati di tepi pantai,
kulitnya mengilat, matanya kosong,
kata-kata yang dulu berenang dalam tubuhnya telah tenggelam.
Jaring-jaring mengambang tanpa isi,
kapal-kapal diam seperti kepala yang tak lagi punya leher.
Di kejauhan,
suara mesin menggerogoti ombak,
seperti gigi yang menancap pada tubuh seorang ibu tua.
Tapi aku bukan anak yang lupa.
Aku akan mengingat namamu, laut,
seperti aku mengingat ibu yang mengandungku,
seperti aku mengingat tanah yang akan menampungku,
seperti aku mengingat janji yang tak boleh tenggelam.
Canberra, Australia, 2012
/5/
MENJADI BAYANG-BAYANG YANG MELOMPAT
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Mereka berkata: perempuan harus belajar tunduk.
Maka kami menjadi bayang-bayang di belakang laki-laki.
Mereka berkata: perempuan harus belajar diam.
Maka kami belajar berbisik dalam badai.
Tetapi bayang-bayang juga bisa melompat ke depan.
Bisikan bisa berubah menjadi gelombang yang menghancurkan tebing.
Mereka ingin kami hanya menjadi penari di pesta,
tetapi kami adalah suara yang menggetarkan panggung.
Mereka ingin kami hanya menjadi ibu yang tak berkuasa di rumah,
tetapi kami adalah ibu bagi sebuah generasi yang tak bisa dikalahkan.
Canberra, Australia, 2012
/6/
PEREMPUAN YANG MELAHIRKAN LANGIT
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Mereka bilang perempuan lahir dari tanah.
Tapi aku melihat perempuan yang melahirkan langit.
Ia merobek malam dari rahimnya,
menumpahkan bintang-bintang ke laut,
membiarkan bulan tumbuh dari tulang belulangnya.
Ia pernah bernama Laut,
tetapi tangannya dikurung pagar-pagar besi.
Ia pernah bernama Hujan,
tetapi tubuhnya dikeringkan oleh pabrik dan kapal-kapal raksasa.
Ia pernah bernama Cahaya,
tetapi suara-suara menggantinya menjadi bayangan.
Namun, bagaimana kau mengurung langit?
Bagaimana kau menghapus hujan dari tubuhnya?
Bagaimana kau melarang perempuan yang telah menulis ulang namanya
di halaman terakhir sejarah?
Jangan kau kira ia hilang,
ia hanya menunggu malam berikutnya
untuk kembali melahirkan dunia dari ketiadaan.
Canberra, Australia, 2013
/7/
RATAPAN DI ATAS KAPAL YANG TAK PERNAH BERLABUH
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ada seorang perempuan berdiri di ujung dermaga.
Ia bukan menunggu,
ia mengukur jarak antara langit dan laut,
antara keadilan dan kenyataan,
antara tanah yang dijanjikan dan tanah yang dirampas.
Mereka bilang ia bukan nelayan.
Mereka bilang ia hanya istri nelayan.
Mereka bilang laut itu bukan miliknya,
meskipun asin gelombang telah lama menjadi darahnya sendiri.
Jadi ia berdoa tanpa suara,
dengan mata yang sudah kehabisan air mata.
Angin mendengar, laut mendengar,
tapi kapal-kapal besi itu tetap datang,
menulis ulang garis pantai,
menghapus jejak kaki yang sudah ada sebelum sejarah ditulis.
Ketika laut tak lagi mengenali dirinya,
ia tahu: ia harus berlayar
bukan untuk pulang,
tetapi untuk menuntut kembali yang telah direbut.
Canberra, Australia, 2013
/8/
TIDAK DILAHIRKAN UNTUK BERLUTUT
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ada perempuan yang dilahirkan untuk tunduk,
dan ada yang dilahirkan untuk menulis ulang aturan.
Yang pertama diajari cara menundukkan kepala,
yang kedua diajari cara membakar aturan itu hingga menjadi abu.
Ia bukan mawar dalam pot,
bukan anggrek dalam kaca,
bukan bunga dalam buku harian.
Ia adalah akar yang menembus beton,
duri yang tidak bisa dicabut,
angin yang menampar wajah mereka yang lupa bahwa langit tidak bisa dibeli.
Ia mendengar tanahnya diambil,
lautnya dikurung,
namanya dihapus dari sejarah.
Maka ia berdiri,
bukan untuk menangis,
tetapi untuk menulis ulang takdirnya sendiri
dengan darah, dengan luka,
dengan kata-kata yang lebih tajam dari pedang mana pun.
Dan jika kau bertanya siapa ia,
lihatlah ke arah yang tidak berani kau tatap.
Di sanalah ia berdiri.
Di sanalah sejarah baru dimulai.
Canberra, Australia, 2013
/9/
BIARKAN KAMI BERTERIAK
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tuhan,
di manakah suara kami Engkau sembunyikan?
Kami telah mengirim doa dalam lipatan ombak,
tetapi gelombang hanya mengembalikan garam.
Kami telah mengukir harapan di tanah ini,
tetapi akar-akar besi mencengkeramnya lebih dulu.
Kami pernah menjadi ombak,
tapi mereka menyulap kami menjadi kubangan.
Kami pernah menjadi tanah,
tapi mereka merubah kami menjadi jalan yang mereka injak.
Jika ini yang mereka sebut surga,
maka biarkan kami tinggal di neraka yang bisa kami miliki sendiri.
Jika ini yang mereka sebut kedamaian,
maka biarkan kami membangun perang yang lebih adil.
Mereka menginginkan kami diam,
maka biarkan kami berteriak dalam cara yang tidak bisa mereka dengar.
Canberra, Australia, 2013
/10/
Berjalan Tanpa Bayangan
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Mereka mendirikan tugu,
tetapi di bawahnya tertanam tulang-tulang yang tak pernah mereka sebut.
Mereka menanam bendera,
tetapi warnanya diambil dari darah yang telah mengering.
Kami berjalan tanpa bayangan,
karena matahari telah dipagari gedung-gedung tanpa jendela.
Kami berbicara tanpa suara,
karena udara terlalu penuh dengan jargon yang tidak kami mengerti.
Mereka ingin tanah ini menjadi saksi,
tetapi saksi tidak bisa berbicara jika mulutnya dipenuhi semen.
Mereka ingin sejarah ini tetap hidup,
tetapi sejarah hanya bisa bernapas jika tidak dikubur di bawah kepentingan.
Jika kota ini harus terbakar,
maka biarkan kami yang menyalakan apinya.
Canberra, Australia, 2013
/11/
Perempuan yang Melahirkan Angin
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku mengenal perempuan yang melahirkan angin,
tapi anaknya dicuri dan dijadikan bayangan.
Aku mengenal perempuan yang bisa menghentikan hujan,
tapi namanya dihapus dari buku-buku yang mereka baca.
Ia pernah bicara dengan batu-batu,
tapi kini mereka hanya mengenalnya sebagai patung di museum.
Ia pernah membelah laut dengan tangannya sendiri,
tapi kini hanya diingat sebagai istri seseorang.
Mereka bilang, perempuan adalah tulang rusuk,
tapi siapa yang bilang bahwa rusuk tak bisa mematahkan dada yang menindihnya?
Mereka bilang, perempuan diciptakan dari cahaya,
tapi siapa yang bilang bahwa cahaya tak bisa membakar mereka yang tak pantas menerimanya?
Jika pemimpin dunia itu harus laki-laki,
maka biarkan kami menjadi guru dan penjaga kunci perdamaian dunia.
Melbourne, Australia, 2013
/12/
ISTANA TANPA CERMIN
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ada istana yang tidak memiliki cermin.
Di dalamnya, perempuan-perempuan berjalan tanpa wajah,
karena mereka diajari bahwa kecantikan adalah pantulan, bukan keberadaan.
Mereka diajarkan cara tersenyum sebelum tahu cara berbicara,
diajar cara berdiri sebelum tahu cara melangkah.
Tangan mereka dipenuhi gelang emas,
tapi kosong dari goresan perjuangan.
Mereka tidak tahu bagaimana menulis sejarah,
karena mereka hanya diajari cara menandatangani undangan.
Mereka tidak tahu bagaimana membakar api,
karena mereka hanya diajari cara menjadi penerang di ruang tamu.
Mereka pikir mereka adalah ratu,
tapi mereka hanya bayangan yang dibiarkan hidup di balik tirai beludru.
Jika cermin itu akhirnya ditemukan,
maka siapa yang pertama kali akan lari?
Maka bangkitklah perempuan,
berdiri di atas kaki kakimu sendiri,
untuk dirimu yang kau hargai,
untuk keluargamu yang kau cintai,
untuk bumi gersang yang menunggu kau tanam kembali.
Canberra, Australia, 2013
/13/
Membangun Kehidupan
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di hari terakhir,
perempuan itu mengambil jarum dan benang dari luka di tangannya sendiri.
Ia mulai menjahit langit yang robek,
karena para lelaki sibuk melukis langit baru untuk diri mereka sendiri.
Ia merangkai bintang dari air mata,
menganyam bulan dari bekas luka yang tak bisa disembunyikan.
Ia tidak bertanya apakah dunia akan berubah,
ia hanya tahu bahwa dunia harus tetap ada.
Ketika akhirnya ia selesai,
langit yang ia jahit bukan langit yang pernah mereka kenal.
Ia tidak lagi berwarna biru,
tetapi memiliki serat,
jejak jemari yang bekerja tanpa dilihat.
Dan di setiap simpul yang ia buat,
tersimpan nama perempuan-perempuan yang tak pernah masuk dalam sejarah.
Dan ketika langit baru itu terangkat,
akhirnya dunia tahu siapa yang benar-benar membangun kehidupan.
Canberra, Australia, 2013
/14/
MENJADI SESUATU YANG TAK BISA KAU TANGKAP
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI Sumbar, Penyala Literasi Sumbar, FSM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Aku tidak akan menjadi batu,
karena batu bisa kau pecahkan.
Aku tidak akan menjadi air,
karena air bisa kau bendung.
Aku tidak akan menjadi angin,
karena angin bisa kau jinakkan.
Aku akan menjadi sesuatu
yang tak bisa kau tangkap,
tak bisa kau namai,
tak bisa kau kuburkan.
Aku akan menjadi kelam di balik kelopak matamu,
menyelusup diam-diam ke dalam mimpi tipu dayamu,
menjadi waktu yang membunuh kelicikanmu perlahan,
menjadi sunyi yang menikam akal busukmu di tenggorokan.
Aku adalah ketakutan yang tak bisa kau enyahkan.
Aku adalah kenangan yang tak bisa kau bakar.
Aku adalah suara yang tak bisa kau tenggelamkan.
Aku bukan kau,
Aku bukan kita,
Aku adalah kami yang takkan membiarkan suaranya dibungkam lagi.
Canberra, Australia, 2012
——————————————-
Kumpulan puisi “SUARA YANG TAK BISA DILENYAPKAN” di atas, yang terdiri dari puisi No. 1–14, awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina pada tahun 2012, murni sebagai hobi pribadi dan koleksi pribadi. Saat itu, ia berada di masa pertengahan program Master of Writing and Literature (dengan fokus pada Kajian Sastra, Penulisan Kreatif, dan Sastra Anak) di Australia, dengan dukungan beasiswa dari pemerintah Indonesia. Bertahun-tahun kemudian, puisi-puisi ini ditinjau kembali, direvisi, dan untuk pertama kalinya secara bertahap diterbitkan melalui platform digital pada tahun 2025.
Leni Marlina aktif terlibat dalam dunia kepenulisan dan sastra, khususnya sebagai anggota Komuitas Penulis Indonesia (SATU PENA, cabang Sumatera Barat) sejak didirikan pada tahun 2022, serta sebagai bagian dari Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Ia juga merupakan anggota Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional (ACC) di Shanghai, dan pada tahun 2024, ia dianugerahi peran sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Perjalanannya di dunia sastra mencakup keterlibatan sebelumnya dengan Victorian Writers Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia mengabdi sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Di luar bidang akademik dan sastra, Leni juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada bahasa sastra, literasi pendidikan, dan pemberdayaan sosial. Komunitas-komunitas tersebut meliputi:
✨ 1. World Children’s Literature Community (WCLC) – https://shorturl.at/acFv1
✨ 2. Poetry-Pen International Community – Wadah bagi ekspresi puisi global
✨ 3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) – Komunitas Puisi Inspirasi Masyarakat Indonesia. https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
✨ 4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia) – https://rb.gy/5c1b02
✨ 5. Linguistic Talk Community – Ruang diskusi mendalam tentang bahasa
✨ 6. Literature Talk Community – Wadah bagi para pecinta sastra
✨ 7. Translation Practice Community – Menjembatani bahasa melalui penerjemahan
✨ 8. English Language Learning, Literacy, and Literary Community (EL4C) – Mendukung perkembangan bahasa dan literasi