Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

PUISI DIKDIK SADIKIN

/1/

Di Ambang Pintu Yang Tak Pernah Kau Buka

Puisi: Dikdik Sadikin

Di antara dua detik yang retak,
aku belajar bahwa cinta kadang memilih
menjadi pisau yang pelan
menusuk tanpa bersuara.

Kau tahu,
aku hanyalah sehelai bayang yang menunggu
disentuh remangmu.

Biarlah aku menjadi kata
yang kau hapus sebelum terbaca,
atau bara kecil yang kau padamkan sebelum sempat menyala,
asal hangatmu masih mengalir pelan di darahku.

Ada malam-malam
ketika hatiku adalah rumah sakit kecil
yang lampunya tak pernah padam,
menjaga denyut yang tersisa
hanya karena namamu masih berkeliaran
di lorong-lorongnya.

Dan jika suatu hari kau pergi
ah, betapa sunyi akan merayap
ke sela-sela tulangku,
mengajari duka untuk berdiri tanpa gemetar.

Aku bisa merunduk pada takdir,
bisa mencuri sedikit harap dari udara,
asal boleh kurasakan hangat tubuhmu
menyentuh dadaku
sekali saja,
seperti doa yang tak selesai dipanjatkan.

Lihatlah,
di lututku ada debu pengharapan
yang tak kunjung kering.

Di suaraku ada pintu
yang selalu terbuka untukmu,
bahkan ketika kau menutup semua pagi
di dalam diriku.

Yang kuminta sederhana,
namun dalam:
cintailah aku.

Cintailah aku
meski dari jauh,
meski dengan getir yang kau bawa,
meski dengan kepergianmu sendiri.

Bogor, 26 November 2025

/2/

Di Antara Langkah yang Menjauh

Aku pergi sebelum sempat habis hujan. Di jalan yang basah itu, setiap tetes yang jatuh seolah menuliskan namamu di tanah, lalu menghapusnya sendiri.

Aku tahu, jika aku tinggal, aku hanya akan menjadi batu di tengah arusmu: menghalangi sungaimu menemukan lautnya.

Maka aku pergi, tapi bayangmu menempel di udara seperti bau hujan yang enggan reda.

Kita pernah menjadi dua cahaya di cermin yang sama, saling menyala, saling membakar. Kini aku hanya membawa sisa nyala itu dalam dada yang dingin, kenangan yang manis sekaligus menggigit, seperti gula di bibir luka.

Kekasih, jangan tangisi perpisahan ini. Aku bukan rumah bagi mimpimu, hanya jendela yang sempat kau buka sebelum pagi. Kau butuh udara yang lebih luas, bukan bayangan yang terus menatapmu dari balik tirai.

Di langkah-langkah yang menjauh, aku belajar mencintaimu tanpa menggenggam.

Cinta, ternyata, tak harus dimiliki untuk hidup. Ia hanya perlu dikenang agar tetap bernapas. Dan di setiap napas itu, aku masih mencintaimu, dengan cara yang tak bersuara, tak bersentuhan, tapi abadi.

Semoga dunia memperlakukanmu lembut, seperti matahari pada pucuk-pucuk daun muda. Semoga kau menemukan semua yang pernah kau cari, dan ketika kau menatap langit suatu sore nanti, mungkin tanpa sengaja, kau akan mengingat seseorang yang dulu berjalan pergi sambil mencintaimu dengan seluruh diamnya.

Karena cinta, sebagaimana doa, tak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berubah bentuk, menjadi angin, menjadi cahaya, menjadi langkah yang menjauh sambil berbisik pelan:

Aku akan selalu mencintaimu.

Bogor, 28 Oktober 2025

——————

Tentang Penyair Dikdik Sadikin

Penulis | Akuntan | Mantan Direktur Pengawasan Pengembangan SDM dan Budaya

Dikdik Sadikin adalah seorang profesional multifaset yang menjembatani dunia keuangan, tata kelola, dan sastra. Sebagai akuntan berpengalaman serta mantan Direktur Pengawasan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Budaya, ia telah berperan penting dalam memperkuat integritas kelembagaan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Di luar kiprahnya dalam layanan publik, Dikdik dikenal sebagai penulis bersemangat dengan suara naratif yang khas. Ia pernah memimpin sebuah media pengawasan, di mana kepemimpinan editorialnya memberikan kedalaman analisis dan kejernihan perspektif dalam membahas isu-isu terkait tata kelola dan akuntabilitas.

Sebagai penulis aktif di berbagai platform nasional, Dikdik terus membagikan pemikirannya melalui cerpen, puisi, dan artikel opini. Karyanya menampilkan perpaduan matang antara ketelitian analitis dan ekspresi kreatif—sebuah gaya yang mampu menangkap kompleksitas pengalaman manusia sekaligus menegaskan komitmennya pada etika profesional.

Tentang Penerjemah

 

Leni Marlina adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang. Ia telah mengabdikan diri sebagai pendidik sejak 2006, sembari terus menulis puisi yang berakar pada empati, ingatan, dan lanskap jiwa serta tanah kelahirannya.

Karya-karyanya telah terbit dalam buku tunggal maupun antologi, dan juga hadir di berbagai platform digital, termasuk Suara Anak Negeri News, tempat banyak puisi dan esainya dibaca oleh khalayak luas.

Pada tahun 2025, ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus Direktur ASEAN untuk Penyair ACC SHILA. Pada tahun yang sama, ia kembali menerima amanah sebagai Direktur Nasional (Indonesia) untuk International Panorama Literary Festival (IPLF) 2026 yang diselenggarakan oleh Capital Writers International Foundation.

Untuk informasi lebih lanjut atau untuk berpartisipasi dalam festival tersebut, silakan kunjungi: www.panoramafestival.org