/1/
HUJAN DERAS DAN HUTAN YANG MEMBUKA RAHASIA DAN LUKA
Puisi: Leni Marlina
Hujan turun,
menggetarkan permukaan tanah
seperti ketukan pertama dari sesuatu
yang enggan memberi pernyataan.
Setiap titik memukul bumi
dengan tata bahasa yang lahir
tanpa guru, tanpa penafsir.
Dari lereng bukit dan hutan yang terisak,
batang-batang panjang meluncur
menyiratkan garis yang menghunus malam.
Mereka tidak rebah—
mereka digiring turun,
diseret gravitasi yang membawa kabar
tentang kesunyian yang kehilangan pelindung.
Lumpur menggulung warna
yang tak pernah terdaftar
dalam ingatan manusia.
Ia menyeret serpih yang dulu tegak,
aroma yang pernah menetap,
dan luka yang memilih sendiri
kepada siapa ia bertahan.
Rumah-rumah miring
seperti huruf yang kehilangan vokal;
tiangnya mencatat peristiwa
tanpa sanggup menyuarakannya.
Di arus yang menelan halaman depan,
atap mengembara
dengan bekas langkah
yang tak lagi mengenali pemiliknya.
Banjir bandang mengangkat benda-benda
yang tidak diberi nasib untuk bergerak:
jendela yang copot dari engsel,
kursi yang berputar mencari lantai,
dinding yang masih mengingat suara
meski ruangnya telah hilang.
Di tengah hiruk yang tak bersuara,
langit merapatkan tubuhnya—
bukan untuk mengancam,
melainkan menyingkap.
Ia membawa pantulan yang getir:
bekas tebas, bekas geser, bekas lenyap—
semua disodorkan tanpa jeda.
Bumi, dengan napas terseret,
menyusun ulang dirinya
seperti seseorang
yang meraba keretakan tulang
tanpa mengaduh.
Namun di sela pecahan,
muncul sebuah gerak kecil:
tangan yang memungut papan,
bayangan yang menuntun tubuh lain
melintasi air setinggi lutut,
mata yang menatap lumpur
tanpa memilih pergi.
Gerak itu tidak menawar,
tidak meminta, tidak memohon.
Ia sekadar hadir—
seperti akar yang menolak mati
di tanah yang diporakporandakan.
Pada akhirnya,
ketika aliran mereda,
ketika kayu berhenti mengembara,
ketika tanah menemukan kembali beratnya,
tinggallah arsip itu:
bumi yang merekam,
air yang memanggil,
langit yang mengingatkan,
dan manusia yang, meski terlambat,
mulai membaca
apa yang dulu diabaikan.
Saat Banjir Bandang, Sumatra, Indonesia, 2015 & 2025
/2/
TANAH YANG BERBICARA DALAM ARUS GELAP
Puisi: Leni Marlina
Tidak ada yang benar-benar siap
ketika suara bawah tanah tiba-tiba
naik ke permukaan.
Ia tidak berteriak—
ia hanya mendesis,
seperti sesuatu yang terlalu lama
dipaksa diam.
Hujan yang turun malam itu
tidak memanggil angin,
tidak memanggil petir.
Ia memanggil bayangan.
Bayangan yang selama ini
menempel di sela akar,
menunggu saat
ketika tubuh bumi melemah.
Di lembah yang dulu penuh hijau,
air datang tanpa wajah.
Ia tidak membawa dendam,
namun ia mengingat
semua yang dilupakan.
Ia menyusuri jalan kecil
yang pernah dilangkahi rusa,
menyusuri patahan
yang ditinggalkan paruh tahun kemarau.
Bangunan-bangunan yang tegak
menyerahkan dirinya
kepada suara asing itu.
Bukan runtuh—
melainkan menunduk
seperti seseorang yang baru sadar
ada tubuh lain
yang ikut menanggung beratnya.
Di antara arus yang menebal,
ada benda-benda yang
mulanya tampak tak penting:
sehelai kain
yang masih menyimpan bau sabun,
sebuah sendok
yang belum selesai membersihkan pagi,
sepotong kayu
yang pernah menjadi sandaran punggung.
Semua itu berputar
seperti huruf-huruf
yang mencari kalimat baru
untuk menjelaskan kehilangan.
Langit menutup jaraknya;
warna kelabunya
menggeser batas antara jauh dan dekat.
Di balik tirai tebalnya,
terdapat gumam
tentang ratusan langkah
yang hilang arah,
tentang suara-suara kecil
yang bertahan
di antara riuh yang tidak memilih.
Namun di tengah gelap air,
ada sesuatu yang lain:
sebuah keputusan
yang lebih keras daripada batu
yang terseret arus.
Seseorang menutup pintu
agar angin tidak masuk,
seseorang menyalakan lampu
agar malam tidak semakin pekat,
seseorang mengangkat tubuh lain
yang nyaris menyerah.
Gerakan-gerakan itu
bukan perlawanan—
melainkan pengakuan
bahwa manusia
tidak diciptakan
untuk berjalan sendirian.
Dan ketika air akhirnya
membiarkan dirinya surut,
tanah yang terpapar
mengeluarkan suara halus,
seperti bisikan
yang tiba-tiba bisa terdengar:
bahwa setiap jejak yang hilang
ada penggantinya,
bahwa setiap luka yang terbuka
membentuk peta baru,
bahwa setiap bencana
mengajar manusia
mengenali dirinya
lebih jujur
daripada hari-hari cerah biasanya.
Saat Banjir Bandang, Sumatra, Indonesia, 2015 & 2025
/3/
SUARA YANG TERTINGGAL DI BALIK ARUS
Puisi: Leni Marlina
Ada saat
ketika air yang melintas
tidak hanya membawa benda,
tetapi juga suara
yang tidak pernah dimaksudkan
untuk keluar dari mulut bumi.
Suara itu datang
dalam bentuk getaran halus,
menyentuh batu,
daun,
bahkan udara tipis
yang menggantung di antara batang-batang basah.
Tak seorang pun mendengarnya penuh—
hanya serpihannya
yang jatuh di telinga
seperti pesan
yang ditulis separuh sadar.
Di dusun yang memeluk rabun sore,
penduduk keluar
tanpa alasan yang jelas.
Mereka berdiri di tepi jalan
yang lenyap bentuknya,
seakan mencari sesuatu
yang lebih tua
daripada kecemasan mereka.
Air yang lewat
tidak tinggi,
namun mengandung denyut
yang membuat mereka kembali diam.
Seolah sungai,
yang selama ini dipanggil dengan nama manis,
tiba-tiba memperkenalkan dirinya
dengan nama lain—
nama yang tidak ramah,
tetapi jujur.
Di antara arus itu,
ada sepotong potret
yang berputar mengikuti gelombang,
bibirnya tersenyum
meski dunia di sekelilingnya
telah berubah menjadi samar.
Ada sehelai selendang
yang melilit ranting kecil,
seperti tangan
yang enggan melepaskan harapan terakhir.
Ada batu pipih
yang bergeser perlahan,
menggeser pula cerita
yang pernah duduk di atasnya.
Langit menebal
tidak dengan awan,
melainkan dengan kesadaran
bahwa sesuatu
telah bergerak terlalu jauh.
Warnanya turun,
mengendap ke permukaan air,
membentuk lapisan tipis
yang membuat arus
tampak seperti nadi
yang diperbesar.
Namun manusia
memiliki cara lain
untuk kembali.
Seseorang berjalan
menyusuri tepi yang rapuh—
melihat jejak yang tidak utuh
dan tetap mengikuti arahnya.
Seseorang menyalakan suara kecil
dalam dirinya,
suara yang menyebut nama rumah,
nama cinta,
nama kehilangan,
dan tidak menyerah
meski tak ada yang menjawab.
Ketika malam datang
dan air mulai mereda,
suara yang tadi tercecer
menemukan tubuhnya kembali.
Ia tidak kembali menjadi kata-kata—
ia menjadi keputusan:
bahwa manusia
akan terus berdiri
bahkan ketika tanahnya goyah;
akan terus berjalan
bahkan ketika jalannya hilang;
akan terus mencari
bahkan ketika yang dicari
hanyut jauh.
Saat Banjir Bandang, Sumatra, Indonesia, 2015 & 2025
/4/
LANGIT YANG MENYIMPAN WAJAH AIR
Puisi: Leni Marlina
Ada hari
ketika langit tidak sekada mendung—
ia berubah menjadi permukaan lain
yang memantulkan wajah air
dengan ketepatan yang nyaris menakutkan.
Di bawahnya,
bumi memejam
seolah ingin bersembunyi
dari sesuatu yang hanya ia kenal:
gerak halus yang mengetuk dari dalam,
desakan dingin
yang merayap seperti ingatan buruk
yang baru bangkit dari tidur panjang.
Hujan turun
tanpa riuh,
tanpa kemarahan.
Justru keheningannya
yang membuat tubuh-tubuh rapuh
di dalam rumah
merasa diguncang dari dalam.
Seperti ada nada jauh
yang memanggil nama mereka
tanpa izin.
Di antara pekat itu,
air mulai mengumpulkan dirinya—
bukan sebagai banjir,
bukan sebagai aliran.
Ia datang sebagai kehendak,
sebuah keputusan cair
yang telah lama dibuat
di balik akar, batu, dan sunyi.
Pohon-pohon yang kehilangan teman
di punggung bukit
membungkuk sejenak,
mengeluarkan suara kecil
yang hanya dipahami angin.
Bukan rintih,
melainkan pengakuan
bahwa mereka pun
pernah merasa takut.
Atap rumah
bergetar sebentar
sebelum menerima beban baru.
Dinding menahan diri,
mencoba mengingat
bagaimana rasanya
menjadi tempat berlindung
tanpa harus melawan.
Di halaman yang hampir hilang bentuk,
ada lentera kecil—
satu-satunya cahaya
yang tidak meminta apa pun.
Ia berkedip,
seolah mencoba menyesuaikan diri
dengan pergerakan air
yang mengubah setiap inci malam.
Dan di tengah semua itu,
manusia berdiri.
Bukan untuk melawan,
melainkan untuk memahami.
Seseorang meraba permukaan air,
mencari sesuatu
yang bahkan belum punya nama.
Seseorang menutup mata
dan mendengar dunia lama
yang terbelah perlahan.
Ketika akhirnya
fajar datang dengan langkah berat,
langit memulangkan wajah air
ke tempat asalnya.
Ia menyingkir tanpa jejak,
menyimpan diam
yang hanya bisa dibaca
oleh mereka
yang menyaksikan malam itu
hingga selesai.
Dan tanah,
meski basah dan koyak,
menyimpan satu kebenaran:
bahwa manusia
tidak pernah benar-benar kuat,
namun selalu—
selalu punya kemampuan
untuk kembali menyala
walaupun cahaya kemaren
telah hanyut pergi.
Ketika Banjir Bandang, Sumatra, NKRI
2015 & 2025
/5/
SETELAH BANJIR BANDANG
Puisi: Leni Marlina
Setelah banjir bandang, sesuatu jatuh dari bahasa:
pagi muncul seperti cahaya yang kehilangan ingatannya,
meraba pantai dengan sentuhan yang gemetar,
seolah takut menyentuh apa yang telah diseret malam.
Pasir—yang biasanya jinak dan empuk—
berubah menjadi halaman yang diremas paksa.
Di atasnya, batang-batang panjang
muncul sebagai frasa yang tercerabut dari naskah besar
yang disembunyikan gunung pada musim-musim sebelumnya.
Kayu-kayu itu tidak sedang menjadi kayu.
Mereka bisa saja tulang lanskap
yang dipindahkan paksa dari tubuh asalnya,
atau dokumen gelap
yang tercabut dari perpustakaan hutan
dan dilemparkan ke laut
sebelum sempat dimusnahkan tangan-tangan yang takut tanda tangan.
Beberapa masih membawa bekas hujan
seperti grafiti yang digoreskan badai dengan mata tertutup;
sementara raksasa-raksasa gelap itu
merentang seperti kronik yang muak
dan memutuskan menuliskan dirinya sendiri
tanpa editor.
Laut memperhatikan mereka
tanpa mata, tanpa niat, hanya dengan gerak:
mendekat, mundur, menimbang, kembali mendekat—
ritme yang lebih dekat pada interogasi
daripada pasang-surut.
Tak ada suara gergaji.
Tak ada jeritan pohon.
Tak ada alamat yang tertinggal.
Namun ironi menggumpal
di antara gurat serat kayu,
seperti sesuatu yang dulu merah
tetapi kini memilih warna lain untuk melanjutkan kisahnya.
Di tepi tumpukan,
sepenggal batang melengkung
dengan keanggunan aneh, hampir memalukan,
menyerupai fosil bulan sabit
atau huruf terakhir dari alfabet
yang sedang digulung balik oleh tangan
yang terlalu bersih untuk diingat.
Lengkungnya menunjuk ke hulu—
ke tempat akar pernah berunding
dengan batu, jam, dan cuaca;
ke tempat cahaya dulu datang
tanpa takut pada dirinya sendiri.
Sekarang hulu itu tinggal bayangan rembes
di punggung kayu-buang yang disingkirkan.
Pantai menjadi mesin arsip
yang menyala sendiri—
halaman-halamannya membuka
seperti dada yang siap
namun tetap kaget
atas apa yang ditemukan di dalamnya.
Laut akhirnya berbisik
dengan suara yang terdengar
seperti logam retak menyentuh angin:
Siapa yang menguliti lereng
lalu menyembunyikan jemarinya
di balik istilah “proyek” dan “progres”?
Siapa yang menukar degup tanah
dengan angka yang selalu lapar
dan tidak pernah mengucapkan terima kasih?
Siapa yang memindahkan batas hidup
ke dalam saku-paling-dalam
hingga sungai kehilangan kamusnya?
Pertanyaan itu berjalan
di sepanjang garis pantai
tanpa pakaian, tanpa penjelasan.
Tak ada yang menjawab.
Barangkali jawabannya justru ini:
Udara menjadi rapuh,
pantai menggigil,
dan kayu-kayu itu terdampar
sebagai metafora liar
yang menolak tunduk
kepada siapa pun yang menuliskannya.
Pantai—yang dulu hanya ingin menjadi tepi—
kini berubah menjadi bahasa baru bagi duka:
ruang gema yang mencatat nama
yang terlalu takut untuk disebut.
Karena apa pun yang dicabut dari lereng
tak pernah sungguh-sungguh hilang;
ia hanya memilih tempat lain
untuk membocorkan asal-usulnya.
Dan hulu serta hilir—
seluruhnya adalah satu makhluk:
bila satu luka dibuka,
seluruh tubuh ikut
mengambil warna merahnya.
Saat Banjir Bandang, Sumatra, Indonesia, 2015 & 2025
—-

—-
Tentang Leni Marlina Penyair, Penulis, Akademisi (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Sumbar, KEAI, ACC SHILA, ASM, PLS, PILF)
Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).
Sejak mulai menulis puisi pada tahun 2000, ia telah melahirkan ribuan karya yang merekam pergulatan batin, refleksi kontemplatif, isu-isu lingkungan alam dan sosial, gagasan kemanusiaan, serta kerinduan yang tak pernah padam akan perdamaian. Ketika menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis tanpa henti—menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran, menjaga kejernihan hati, dan menuntunnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Sejak tahun 2024, ia mulai membuka “samudra kata”-nya kepada publik melalui berbagai platform digital.
Karya-karya terbarunya meliputi The Beloved Teachers, L-BEAUMANITY (Love, Beauty, and Humanity), serta trilogi English Stories for Literacy—perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain menulis puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan teks jurnalistik. Karyanya tersebar dalam berbagai antologi cerpen, antologi puisi, dan publikasi digital. Di luar aktivitas akademik di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang, ia terlibat dalam komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi yang relevan dengan dinamika era digital.
Sebagai pendiri sekaligus ketua berbagai gerakan sosial, literasi, dan sastra digital—seperti Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia): Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy)—ia terus menjembatani berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan merenung secara berkelanjutan.
Atas dedikasinya pada dunia literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.
Tahun 2025, Leni ditunjuk dan dipercayakqn sebagai Indoensiam Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng Internatioanl Literary Association (ACC SHILA), sekaligus the ASEAN Directors for ACC SHILA Poets. Di tahun yang sama, Leni ditunjuk dan dipercayakan oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk International Panorama Literary Festival (IPLF) 2026 (www.panoramafestival.org):
Festival Sastra Panorama Internasional (PILF) 2026 Angkat Tema Bumi di Tengah Krisis Global