April 21, 2026

Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) “Di Bawah Jantung Baja Kota”

leni3

Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) "Di Bawah Jantung Baja Kota". Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artwork No. 107 by AI.

Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) “Di Bawah Jantung Baja Kota”

/1/

Di Bawah Jantung Baja Kota

Puisi oleh Leni Marlina

1>
Di bawah jantung baja
kota, kau lihat rumah yang bukan rumah— dinding kayu gemetar di tengah gedung raksasa, atapnya berteriak pada angin kota, “mengapa kami terus terjepit?”

Ayah kami telah lama berpulang, menjadi cerita bisu yang terus menghantui: wajahnya kabur di foto, senyumnya retak, pandangannya kosong —seperti meja makan yang tak kenal kenyang.

Ibu terbaring di pojok, terperangkap dalam peluh dan sakit meradang, matanya menyisir celah pintu, mencari bayang kakak yang menjajakan sisa gorengan di trotoar kota yang berdengung. Dia tak pulang malam ini, dan adik-adik mulai menggigit jemari mencari rasa kenyang dari kulit mereka sendiri.

Aku duduk di sudut, melarikan diri ke dalam dunia yang kusarikan dari lembaran buku perpustakaan— Aku kunyah cerita, aku teguk sajak, aku hirup dongeng-dongeng masa silam, hingga perutku yang kosong mulai berbaur dengan imaji-imaji kenyang.

2>
Dan di luar sana, gedung-gedung mengejek: “Berjuanglah, bocah kecil, mengapa engkau terus menggigil?” Beton itu menyeringai dalam terik lampu jalan, menunjukkan wajah yang tak kenal malam, sedang kami hidup di baliknya, di antara retak-retak takdir yang teramat sunyi untuk mereka dengar.

Adik-adik terbaring di lantai tanah, bermimpi tentang piring penuh; Aku mulai terlelap, tubuhku tersandar pada tubuh ibu, menganyam sisa-sisa mimpi dan cerita tentang negeri subur yang nampaknya hanya ada di halaman buku.

3>
Gedung-gedung itu tinggi, angkuh, dan haus —rakus akan bayang sendiri, menutup pandangan kami ke langit. Katanya, ini tanah yang makmur, tapi di bawah jantung kota beton baja ini, kami hanyalah bayang, nyawa yang terus menggantung pada helai-helai fajar yang akan datang.

Beton yang angkuh, dan lampu-lampu berwarna akhirnya membocorkan rahasia, bahwa esok tak pasti sementara kami hidup terbelenggu di sini. Doa ibu menyelinap di malam, seperti serat tipis yang mengikat kami pada harap yang kecil.

Tak ada sorak sorai, tak ada tepuk tangan, hanya kami yang terus terperangkap dalam cerita yang tak terucap. Namun, biarlah malam ini kami terlelap, meminjam kenyang dari lembar-lembar buku, dan mencari hangat dari tubuh yang terbungkus debu.

Kami, mungkin nyawa yang lupa dikenal negeri sendiri, di bawah bayang beton, dalam kota yang tak mau mengerti.

Tapi kau musti tahu, bahwa kami tetap bernapas, tetap bermimpi, suatu hari kami akan berdiri, hingga kita bisa berbagi nikmatnya mentari pagi, dan hasil bumi negeri ini.

Padang, Sumbar, 2007.

/2/

Di Tengah Jalan

Oleh Leni Marlina

Bukan tentang ladang yang luas
Atau rumah kayu di tengah desa—
Tetapi tentang langkah-langkah kaki
Yang tak henti mengayun, mencari jalan
Di belantara kota yang tak kenal ampun.

Dinding beton menjulang tinggi,
Mengaburkan langit biru,
Menghalangi angin pagi
Yang dulu datang sebagai teman.

Di balik sorotan lampu jalan
Dan deru kendaraan tanpa henti,
Ada mimpi yang tak pernah padam—
Menanti celah kecil,
Menanti janji di ujung waktu.

Tangan-tangan lelah yang berkerja
Mengulurkan harap kepada malam,
Mengubah keringat menjadi roti,
Mengubah lelah menjadi tawa anak-anak
Yang menunggu di rumah penuh impian.

Bukan lagi sekadar menghidupi,
Tapi mencari makna dalam setiap hari,
Menghitung langkah,
Mengukur napas,
Menggenggam harap di tengah deru kota.

Kami bukan hanya pejuang
Dalam cerita lama yang pudar.
Kami adalah api di tengah badai,
Terus berpijar, terus berlari,
Di jalan yang belum pernah kami pilih.

Padang, Sumbar, 2003

/3/

Gema Langkah

Oleh Leni Marlina

Di tepian jalan, langkah kami mengayun,
Bukan dengan kebesaran atau bendera,
Tapi dengan tekad yang sunyi,
Yang terus berdetak di dada.

Langit tak selalu cerah,
Tanah tak selalu ramah,
Namun langkah tak pernah goyah,
Terus berjalan meski napas mulai patah.

Anak-anak tidur di pangkuan malam,
Tertawa di balik mimpi,
Tak tahu bahwa tangan kami penuh luka,
Mengayun langkah, menantang hari demi hari.

Tidak ada panggung untuk perjuangan ini,
Tidak ada sorak sorai atau lagu.
Hanya kami,
Dan jalan panjang yang terus menunggu,
Seolah ingin bertanya:
Sampai kapan kau akan bertahan?

Kami hanya bisa tersenyum
Pada dunia yang tak peduli—
Karena perjuangan ini bukan untuk dipahami,
Hanya untuk dijalani,
Dalam diam,
Dalam sunyi,
Menuju esok yang entah kapan pasti.

Padang, Sumbar, 2003

————————-
Puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2003 dan 2007. Puisi tersebut direvisi kembali serta dipublikasikan pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.

Leni Marlina merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat. Ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair & Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Selain itu, Leni terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga merupakan pendiri dan pemimpin sejumlah komunitas digital yang berfokus pada sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:, (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (World Children’s Literature Community/ WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) POETRY-PEN International Community; (3) Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat): https://tinyurl.com/zxpadkr; (4) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02.