April 11, 2026
leni doa

/1/

Fajar di Ufuk Hati

Puisi: Leni Marlina

Fajar turun perlahan,
menyentuh atap rumah,
menyapa jendela yang masih terpejam.

Bulan memandang diam,
seperti guru yang menunggu muridnya belajar sabar.

Di udara yang lembap,
tercium aroma doa yang belum sempat diucapkan.
Segala keraguan bersembunyi di balik cahaya pertama.

Aku berdiri di ambang pagi,
menunggu Ramadhan menyingkap rahasia hatiku
bahwa menahan lapar dan dahaga bukan sekadar tubuh,
tapi memberi ruang untuk jiwa berbicara.

Dan aku tahu:
bulan ini akan menuntunku
cara menahan, cara memberi,
dan cara mencintai yang tak terlihat.

Bukitinggi, Sumbar, 2006

/2/

Jam Dinding di Bulan Ramadhan

Puisi: Leni Marlina

Jam di rumahku tidak pernah berhenti.
Ia menatap waktu seperti kakek menatap cucunya
yang baru belajar menahan lapar dan haus.

Detaknya bukan bunyi,
melainkan langkah-langkah halus tak kasatmata
yang menyeberangi udara,
menyentuh dinding,
lalu pulang duduk di pangkuan jarum sahur dan iftar.

Aku pernah mencoba menghentikannya dengan menahan napas.
Tapi waktu tidak punya paru-paru,
jadi ia tidak ikut berhenti.

Kata Ibu, waktu itu sabar,
guru langit yang mencatat pahala dan niat.

Namun aku melihatnya lain:
waktu itu pengasih.
Ia duduk di kursi kayu senja,
menunggu aku berani mengucapkan doa
dengan suara hati sendiri.

Jika suatu hari jam itu letih berdetak,
aku akan meminjam nadinya
dan menempelkannya di dada
agar jantungku belajar
bagaimana kesetiaan berjalan di bulan suci.

Bukitinggi, Sumbar, 2006

/3/

Rahasia Hujan Saat Ramadhan

Puisi: Leni Marlina

Aku bertanya pada hujan
dengan bahasa yang belum selesai kupelajari.

Hujan tidak menjawab.
Ia hanya menulis titik-titik air di buku bumi
seperti malaikat yang memeriksa niat setiap mukmin.

Setiap tetes adalah huruf,
setiap genangan adalah kalimat,
dan sungai
sebuah kitab panjang
yang dibaca bulan
setiap malam tanpa lampu.

Aku bertanya lagi:
apakah menahan lapar itu sakit?

Hujan tersenyum lewat bau tanah
bau yang seperti pelukan Ibu
yang datang tanpa suara
namun selalu tepat waktu.

Lalu aku mengerti sedikit:
menahan bukan lawan dari memberi.
Menahan adalah jalan lain
menuju asal yang lebih tinggi.

Sejak itu
setiap kali aku lemah,
aku mendengarkan dadaku
barangkali ada hujan kecil
yang sedang pulang ke nurani.

Bukitinggi, Sumbar, 2006

/4/

Sepatu Kecil Punya Peta Rahasia Ramadhan

Puisi: Leni Marlina

Sepatuku kecil,
tetapi solnya menyimpan atlas rahasia.

Di sana ada debu jalanan sahur
seperti benua yang baru lahir,
ada garis pasir tipis
seperti khatulistiwa puasa pertamaku.

Ibu membersihkannya setiap sore,
namun tanah selalu kembali
barangkali bumi tahu
kaki kecilku suka menapaki jalan doa.

Ayah berkata:
langkah besar mengubah dunia.

Aku diam.
Aku pernah melihat semut
memindahkan butiran roti
dengan langkah yang hampir tak terdengar.

Sepatuku tidak mengenal jauh.
Ia hanya mengenal maju
menuju kebaikan.

Dan aku mulai percaya:
jarak bukan panjang jalan,
melainkan keberanian pertama
ketika kaki memutuskan
menahan diri dan memberi.

Bukitinggi, Sumbar, 2006

/5/

Pelangi di Saku Ramadhan

Puisi: Leni Marlina

Aku ingin menyimpan pelangi di saku
tidak seluruhnya,
cukup biru untuk tenang saat tarawih,
kuning untuk harap pagi sahur,
merah untuk keberanian berbagi sebelum fajar.

Kakak bilang pelangi itu tamu langit,
ia datang tanpa alamat
dan pergi tanpa pamit.

Namun aku pernah melihatnya diam
di genangan wudhu,
bergetar kecil
seperti rahasia doa yang belum yakin ingin dikabulkan.

Aku mencoba menangkapnya
dengan dua jari hati-hati.
Ia pecah menjadi cahaya
dan menempel di mataku.

Sejak itu aku tahu:
pelangi memang tidak bisa dimiliki
karena ia tidak diciptakan untuk disimpan,
melainkan untuk ditemukan lagi
setiap kali kita kehilangan arah di bulan suci.

Bukitinggi, Sumbar, 2006

/6/

Sebelum Tidur di Malam Ramadhan

Puisi: Leni Marlina

Sebelum tidur
aku melipat hari
seperti sajadah setelah tarawih
pelan, rapi,
meski masih ada kerutan kecil
bernama khawatir.

Aku berdoa:
semoga besok matahari tidak tersesat di tikungan awan,
semoga bulan tahu arah sahur,
semoga angin masih hafal
jalan pulang ke masjid.

Aku juga berdoa untuk hal-hal kecil:
agar pena tetap mau menulis doa,
agar bayangan tidak pergi saat lampu dimatikan,
agar malam tidak menutup pintu terlalu cepat.

Karena aku masih ingin tinggal sebentar di hari ini
hari yang belum dipagari waktu,
hari yang masih bisa kugambar ulang dengan warna kebaikan.

Jika Tuhan mengizinkan,
saat aku menjelang penghujung usia,
tetap membawa satu kantong pagi di hati,
supaya setiap lelah
aku bisa membuka resletingnya
dan menemukan matahari kecil
yang masih percaya padaku.

Bukitinggi, Sumbar, 2006

/7/

Saat Ramadhan Seluas Doa

Puisi: Leni Marlina

Ibu bilang langit itu jauh,
tapi setiap malam
ia turun ke mataku
dan tidur di sana
bersama doa-doa sahur.

Ayah bilang hidup itu perjuangan,
tapi kupikir hidup itu seperti puasa:
ia naik justru karena ditarik oleh kesabaran.

Aku belum tahu arti lemah,
karena semut yang jatuh pun
selalu menemukan jalan pulang
dengan ketekunan.

Jika suatu hari aku menua
dan lupa cara tersenyum,
tolong kembalikan aku
ke hari ini
saat Ramadhan masih seluas doa,
dan waktu belum tahu
cara berlari.

Bukitinggi, Sumbar, 2006

/8/

Malam yang Membisikkan Rahasia

Puisi: Leni Marlina

Malam menurunkan selimutnya
di atas kota yang masih terjaga.

Bintang-bintang berkelip seperti mata kecil anak-anak yang tersenyum di tengah sahur.
Angin membawa kabar:
setiap doa yang jatuh
tidak pernah kembali kosong.

Aku menutup mata,
dan mendengar detak jantungku sendiri
seperti drum kecil yang menandai perjalanan bulan ini.

Ramadhan tidak pergi begitu saja.
Ia menempel di jari-jari tangan,
di celah-celah kata yang kita ucapkan,
dan di napas terakhir malam.

Jika suatu hari aku lupa arah dan suara doa,
aku akan kembali ke sini,
ke malam yang membisikkan rahasia:
bahwa sabar itu indah,
dan memberi itu tak terbatas.

Bukitinggi, Sumbar, 2006

——-

Tentang Puisi & Penyair – Leni Marlina

Kumpulan puisi di atas pertama kali ditulis dua dekade yang lalu, dan pertama kali dipublikasikan di platform digital, khususnya media Suara Anak Negeri News tahun 2026.

Leni Marlina lahir di Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan sejak tahun 2000 berdomisili di Padang, Sumbar. Leni merupakan penyair, penulis, dan dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sejak tahun 2006. Karya terbarunya antara lain kumpulan puisi tunggal “The Beloved Teachers” (2025) dan “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025).

Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, dan resensi, serta menerjemahkan berbagai teks sastra dan jurnalistik untuk platform digital nasional dan internasional. Karya-karyanya secara konsisten menempatkan bahasa sebagai ruang refleksi, empati, dan peneguhan martabat kemanusiaan.

Di samping aktivitas akademik, Leni terlibat aktif dalam jurnalisme sastra dan kebudayaan. Ia bekerja sebagai penulis lepas dan kontributor di berbagai platform digital, serta dipercaya sebagai editor dan redaktur di sejumlah media. Di antaranya adalah Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com), yang berfokus pada isu-isu pendidikan, literasi, sastra, kebudayaan, serta nilai-nilai kemanusiaan. Kedua media tersebut digerakkan oleh komitmen yang sama, yakni “menyuarakan mereka yang tak bersuara”.

Kontribusi Leni dalam dunia sastra telah mengantarkannya menerima penghargaan Penulis Terbaik 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat pada ajang The 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta diberikan penghormatan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025).

Sejak tahun 2025, Leni dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus diamanahkan sebagai Direktur ASEAN untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk oleh Capital Writers International Foundation sebagai Direktur Nasional (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan di India pada Januari–Februari 2026.


Silahkan nikmati puisi lainnya tentang Ramadhan karya Leni Marlina di official link berikut:

Kumpulan Puisi Leni Marlina: “Ketika Ramadhan Datang Kembali”

——

Portrait of the Indonesian poet, Leni Marlina.
Image courtesy of the IPLF (International Panorama Literacy Festival) 2026 Organizing Committee, in collaboration with the Capital Writers International Foundation (www.panoramafestival.org).

Tentang Puisi & Penyair – Leni Marlina

Kumpulan puisi di atas pertama kali ditulis dua dekade yang lalu, dan pertama kali dipublikasikan di platform digital, khususnya media Suara Anak Negeri News tahun 2026.

Leni Marlina lahir di Baso, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, dan sejak tahun 2000 berdomisili di Padang, Sumbar. Leni merupakan penyair, penulis, dan dosen di Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sejak tahun 2006. Karya terbarunya antara lain kumpulan puisi tunggal “The Beloved Teachers” (2025) dan “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi English Stories for Literacy (2024–2025).

Selain menulis puisi, Leni juga aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, dan resensi, serta menerjemahkan berbagai teks sastra dan jurnalistik untuk platform digital nasional dan internasional. Karya-karyanya secara konsisten menempatkan bahasa sebagai ruang refleksi, empati, dan peneguhan martabat kemanusiaan.

Di samping aktivitas akademik, Leni terlibat aktif dalam jurnalisme sastra dan kebudayaan. Ia bekerja sebagai penulis lepas dan kontributor di berbagai platform digital, serta dipercaya sebagai editor dan redaktur di sejumlah media. Di antaranya adalah Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com), yang berfokus pada isu-isu pendidikan, literasi, sastra, kebudayaan, serta nilai-nilai kemanusiaan. Kedua media tersebut digerakkan oleh komitmen yang sama, yakni “menyuarakan mereka yang tak bersuara”.

Kontribusi Leni dalam dunia sastra telah mengantarkannya menerima penghargaan Penulis Terbaik 2025 dari SATU PENA Sumatera Barat pada ajang The 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai oleh Sastri Bakry. Ia juga dianugerahi ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre serta diberikan penghormatan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025).

Sejak tahun 2025, Leni dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus diamanahkan sebagai Direktur ASEAN untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk oleh Capital Writers International Foundation sebagai Direktur Nasional (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan di India pada Januari–Februari 2026.