April 20, 2026

Puisi Krisis dan Tipu Daya Kemakmuran: Esai Leni Marlina Untuk Puisi Anna Keiko “Everything Is Going Down” (2021)

keiko1

By Leni Marlina

Puisi tidak selalu hadir sebagai perayaan keindahan. Dalam banyak momen sejarah, ia justru lahir sebagai kesaksian, bahkan peringatan, ketika bahasa formal, statistik, dan wacana resmi tak lagi mampu memikul beban kenyataan. Puisi “Everything is Going Down” karya Anna Keiko, yang ditulis pada tahun 2021 di Shanghai, berada dalam tradisi ini. Ia lahir dari dunia yang sedang goyah, ketika pandemi global meruntuhkan ilusi stabilitas, kemajuan, dan kemakmuran.

Sebagai bagian dari buju kumpulan puisi berjudul “Sunrise of Hope”, puisi karya penyair asal Tiongkok – Anna Keiko ini tampak paradoksal. Alih-alih menghadirkan matahari terbit, ia menyuguhkan kejatuhan yang sunyi dan sistemik. Namun justru di situlah letak kejujurannya: harapan tidak selalu berbentuk cahaya terang; terkadang ia hadir sebagai keberanian untuk menyebut keruntuhan apa adanya.

Esai ini membaca “Everything is Going Down” secara terpadu melalui analisis stilistika, semiotika, dan kritik humanistik, sambil menempatkan pengalaman penerjemah Inggris–Indonesia sebagai bagian inheren dari proses pembacaan. Saya menterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai pembaca intens pertama, dengan kesadaran bahwa setiap pilihan kata adalah keputusan estetik sekaligus etis. Dengan demikian, esai ini tidak hanya menafsirkan puisi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana puisi itu bekerja di dalam bahasa lain dan di dalam pengalaman pembacanya.

Pembacaan ini memadukan beberapa pendekatan sastra yang saling melengkapi. Stilistika digunakan untuk menelaah diksi, metafora, citraan, dan ritme larik yang membangun atmosfer kejatuhan. Semiotika membantu membaca simbol-simbol kunci, musim dingin, malam, virus, cahaya, dan mawar, sebagai sistem tanda yang saling berkelindan. Kritik humanistik menjadi bingkai nilai: bagaimana puisi ini memandang manusia modern, kerentanannya, dan ilusi yang dibangunnya.

Di atas semua itu, esai ini berpijak pada resepsi pembaca, dengan posisi khusus penerjemah. Penerjemah adalah pembaca yang paling intens: ia tidak sekadar memahami, tetapi harus memutuskan. Setiap keputusan, memilih menurun alih-alih runtuh, mempertahankan metafora alih-alih menjelaskannya, merupakan bagian dari tafsir. Dengan demikian, refleksi personal bukanlah penyimpangan dari akademisitas, melainkan perluasan yang sahih.

Judul “Everything is Going Down” bersifat deklaratif dan menyeluruh. Kata everything menutup kemungkinan pengecualian; tidak ada ruang aman. Frasa going down menandai proses, bukan peristiwa tunggal. Kejatuhan di sini tidak meledak, tetapi merayap, perlahan, sistemik, dan melelahkan.

Dalam terjemahan, saya memilih “Segalanya Menurun”. Pilihan ini disengaja. Menurun menyiratkan degradasi bertahap, moral, sosial, spiritual, yang sering kali luput disadari. Pilihan ini menjaga kesetiaan pada semangat puisi: kejatuhan yang sunyi justru paling berbahaya.

Musim Dingin dan Malam: Gravitasi Kejatuhan:

“Winter is coming and everything is falling
Only the night is getting fuller and fuller”

Musim dingin, dalam tradisi sastra, kerap menandai akhir siklus, stagnasi, atau kematian simbolik. Anna Keiko menggunakannya sebagai metafora kondisi dunia. Namun yang lebih mencolok adalah kontras pada larik kedua: ketika segalanya jatuh, malam justru mengembang. Kegelapan bukan berkurang, melainkan meluas.

Secara semiotik, malam di sini dapat dibaca sebagai ketidakpastian, kecemasan kolektif, dan kekosongan makna. Ketika struktur lama runtuh, ruang gelap melebar. Sebagai penerjemah, saya menjaga ritme larik tetap sederhana dan dingin, karena ketenangan inilah yang menciptakan rasa ngeri yang tertahan.

 

Langit yang Tenang dan Manusia yang Panik:

“The pupils of the luminous sky are clear
They are apparently unharmed by fear”

Langit dipersonifikasikan dengan “pupil” yang jernih, tenang, bercahaya, dan tak tersentuh rasa takut. Kontras ini penting. Alam tidak panik; manusialah yang panik. Dalam bingkai ekokritik, larik ini menyindir kecenderungan manusia memproyeksikan krisisnya ke alam, padahal ketakutan itu lahir dari sistem sosial dan nilai yang rapuh.

Ketenangan langit mempertegas keterasingan manusia dari kosmos. Modernitas, dengan segala klaim kontrolnya, justru melahirkan kecemasan yang tidak dialami alam.

Virus dan Keruntuhan Ilusi Modern:

“But humans are knocked back to their origin by the virus
Which looks for any weak body it can attack”

Virus hadir sebagai agen biologis sekaligus metafora eksistensial. Ia “mengembalikan manusia ke asalnya”: tubuh yang rapuh, fana, dan tak sepenuhnya dapat dikendalikan. Modernitas, teknologi, kapital, kecepatan, runtuh di hadapan makhluk mikroskopis.

Dalam terjemahan, saya memilih metafora akar: “bagai akar yang dicabut dari tanahnya”. Pilihan ini lahir dari pengalaman kolektif pandemi: ketercerabutan dari rutinitas, identitas, dan rasa aman. Di sini, penerjemahan menjadi ruang empatik, bahasa Indonesia membuka resonansi yang berbeda namun setara.

Kekacauan Wacana dan Hasrat yang Membelokkan Cahaya:

“Furious lips and teeth add to the confusion
Desire bends the path of light”

Citra “bibir dan gigi yang marah” menghadirkan agresivitas verbal, pertengkaran, ujaran kebencian, dan banjir informasi. Krisis tidak hanya biologis, tetapi juga diskursif. Larik berikutnya adalah pusat kritik puisi: hasrat membelokkan cahaya.

Cahaya, simbol kebenaran atau harapan, tidak padam, tetapi arahnya dipelintir oleh kepentingan. Dalam konteks pandemi, ini dapat dibaca sebagai manipulasi informasi, politisasi krisis, dan komodifikasi ketakutan. Sebagai penerjemah, saya menolak memperjelas makna secara eksplanatoris. Puisi ini bekerja melalui sugesti; pembaca harus diberi ruang untuk menafsir.

Mawar dan Kemakmuran sebagai Tipu Daya:

“The image of a world wrapped in roses
Covers its vast ugliness of reality,
A deception called prosperity.”

Inilah klimaks moral puisi. Mawar, simbol keindahan, cinta, dan kemewahan, berubah fungsi menjadi selubung. Dunia dibungkus estetika untuk menutupi luka struktural. Prosperity disebut sebagai deception, tipu daya.

Dalam terjemahan, tekanan ironi dijaga agar penutup ini terdengar seperti vonis, bukan deskripsi. Kemakmuran, bila tidak disertai keadilan dan empati, hanyalah kosmetik yang menunda kesadaran.

Menerjemahkan puisi ini berarti terus-menerus berhadapan dengan pilihan etis. Tantangannya bukan menemukan kata yang indah, melainkan menjaga suhu emosi. Saya memilih kesederhanaan diksi, mempertahankan metafora, dan menolak “menyuntikkan” harapan palsu. Kejujuran puisi ini justru terletak pada keberaniannya untuk gelap.

Sebagai penerjemah perempuan Indonesia yang membaca penyair perempuan China, saya merasakan ikatan lintas budaya yang hening namun kuat. Krisis ini global; bahasa berbeda, tetapi kegelisahannya sama. Penerjemahan menjadi jembatan empatik, antara pengalaman, bukan sekadar kata.

“Everything is Going Down” tidak menawarkan solusi. Ia menawarkan kejujuran, dan itu sudah merupakan bentuk harapan yang paling bertanggung jawab. Puisi ini mengingatkan bahwa kejatuhan sering datang perlahan, dibungkus mawar, dan diberi nama kemakmuran. Tugas puisi dan penerjemah adalah membuka bungkus itu, agar pembaca tidak lupa bahwa dunia pernah, dan mungkin sedang, menurun.

Lampiran

Everything is Going Down

Poem by Anna Keiko

Winter is coming and everything is falling
Only the night is getting fuller and fuller
The pupils of the luminous sky are clear
They are apparently unharmed by fear

But humans are knocked back to their origin by the virus
Which looks for any weak body it can attack
Furious lips and teeth add to the confusion
Desire bends the path of light

The image of a world wrapped in roses
Covers its vast ugliness of reality,
A deception called prosperity.

Shanghai, China, 2021

——
Note:

The poem by Anna Keiko (China) above is taken (poem no. 13) from her solo poetry collection book entitled “SUNRISE OF HOPE” (2021). It was originally translated from Chinese into English by Germain Droogenbroodt.

———-
Versi Terjemahan

Segalanya Menurun

Puisi: Anna Keiko

Penerjemah (Inggris-Indonesia): Leni Marlina

Segalanya menurun.
Musim dingin menjelang,
dan segala yang ada pun terjatuh perlahan.
Hanya malam yang kian mengembang,
pupil-pupil langit bercahaya, begitu tenang,
seolah takut tak pernah menyentuhnya.

Manusia, bagai akar yang dicabut dari tanahnya,
dipaksa kembali ke asal oleh virus yang lihai,
mencari tubuh lemah untuk digerusnya.
Bibir dan gigi yang marah
beraksi dalam kekacauan,
keinginan membelokkan cahaya,
membawa gelap di jalan yang seharusnya terang.

Dunia yang dibungkus mawar
menutupi cacat dan luka kenyataan,
tipu daya yang lembut tapi mematikan
mereka menyebutnya kemakmuran.

Shanghai, China, 2021

———–

Catatan:

Puisi Anna Keiko (China) di atas merupakan salah satu puisi (puisi no. 13) dari kumpulan puisi tunggalnya yang berjudul “SUNRISE OF HOPE” (2021). Puisi tersebut sebelumnya diterjemahkan dari bahasa Cina ke bahasa Inggris oleh Germain Droogenbroodt.

Picture: Anna Keiko — internationally acclaimed poet from Shanghai.
Image source: AK’s doc. (LM-SAN).

Tentang Penyair: Anna Keiko

Anna Keiko adalah penyair dan esais kontemporer asal Shanghai, Tiongkok, yang suaranya telah menjadi salah satu benang paling hidup dalam sastra dunia modern. Lulus dari East China University of Political Science and Law, ia memilih mendedikasikan hidupnya sepenuhnya pada sastra, menempatkannya di persimpangan penciptaan puisi, diplomasi budaya, dan pertukaran sastra internasional.

Karya-karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 30 bahasa dan diterbitkan di lebih dari 500 jurnal, majalah, dan media internasional di 40 negara, menunjukkan jangkauan global sekaligus kemampuan puisi Anna Keiko untuk berbicara lintas budaya, sejarah, dan krisis.

Anna Keiko adalah Pendiri sekaligus Pemimpin Redaksi ACC Shanghai Huifeng Literature Association dan menjabat sebagai Perwakilan Tiongkok serta Direktur International Cultural Foundation Ithaca. Ia juga aktif dalam organisasi internasional seperti Imagine & Poesia (Italia) dan Canadian–Cuban Literary Union, memperlihatkan komitmennya terhadap dialog lintas budaya melalui sastra.

Korpus puisi Anna Keiko mencakup enam volume utama, termasuk Lonely in the Blood dan Absurd Language, yang mengeksplorasi kerentanan manusia, kecemasan ekologis, ketidakpastian eksistensial, dan retakan moral kehidupan modern. Gaya inovatifnya, penuh citraan, resonansi simbolik, dan kedalaman filosofis, memperkuat reputasinya sebagai penyair yang mampu merespons krisis global tanpa menjadi bersifat didaktik.

Penghargaan internasional yang diterimanya meliputi Penghargaan Puisi Internasional ke-30 (Italia) dan Sertifikat Duta Perdamaian Dunia (2024). Pada 2023, ia menjadi penyair Tiongkok pertama yang menerima Medali Pertukaran Lintas Budaya atas Kontribusi Signifikan bagi Sastra Dunia di Amerika Serikat, menandai tonggak penting dalam diplomasi sastra internasional.

Karya terkenalnya, termasuk Octopus Bones, membawanya ke festival puisi internasional, simposium, dan konferensi sastra di seluruh dunia. Selain puisi, ia juga menulis prosa, esai, lirik, dan drama, menunjukkan keberagaman kreatifnya.

Hingga kini, Anna Keiko telah menerbitkan lebih dari sebelas buku, menerima lima penghargaan puisi nasional di Tiongkok, serta 35 penghargaan dan sertifikat internasional. Pada 2020, ia dinominasikan oleh Universitas Yale untuk Penghargaan Nobel Sastra, menegaskan posisinya sebagai salah satu suara sastra Tiongkok kontemporer yang paling berpengaruh di panggung global.

Dengan semangat tanpa henti yang melampaui batas geografis, Anna Keiko terus membawa sastra Tiongkok ke dunia, menyuarakan kemanusiaan yang hidup dalam setiap bahasa.

Picture: the Indonesian Poet– Leni Marlina. Image Source: IPLF 2026 (https://www.panoramafestival.org/)

Tentang Penulis Esai & Penerjemah Puisi – Leni Marlina

Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatra Barat, dan saat ini berdomisili di Padang. Ia adalah seorang penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra³ Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang, tempat ia mengabdi sejak tahun 2006. Karya terbarunya meliputi kumpulan puisi penulis tunggal “The Beloved Teachers” (2025) dan “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi “English Stories for Literacy” (2024–2025). Selain puisi, ia juga menulis cerpen, esai, kritik sastra, dan ulasan, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan jurnalistik. Karyanya secara konsisten menempatkan bahasa sebagai ruang refleksi, empati, dan peneguhan martabat kemanusiaan.

Di samping karier akademiknya, Leni aktif dalam jurnalisme sastra dan kebudayaan. Ia bekerja sebagai penulis lepas dan kontributor di berbagai platform digital, serta dipercaya sebagai editor dan redaktur di sejumlah media. Di antaranya adalah Suara Anak Negeri News (suaraanaknegerinews.com) dan Negeri News (negerinews.com), dengan fokus pada isu pendidikan, literasi, sastra, budaya, dan kemanusiaan. Kedua platform tersebut digerakkan oleh komitmen bersama untuk “menyuarakan yang tak bersuara.”

Kontribusinya di bidang sastra telah memperoleh pengakuan nasional dan internasional. Ia dianugerahi Best Writer 2025 oleh SATU PENA Sumatra Barat pada 3rd International Minangkabau Literary Festival (IMLF-3) yang diketuai Sastri Bakry; menerima ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre; serta mendapat penghargaan dari komunitas sastra internasional The Rhythm of Vietnam (2025). Sejak 2025, Leni menjabat sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), sekaligus memegang posisi ASEAN Director untuk ACC SHILA Poets. Pada tahun yang sama, ia ditunjuk oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) yang diselenggarakan di India pada Januari–Februari 2026. (Informasi lebih lanjut: https://www.panoramafestival.org/) & https://suaraanaknegerinews.com/festival-sastra-panorama-internasional-pilf-2026-angkat-tema-bumi-di-tengah-krisis-global/

(LM-SAN – Padang, West Sumatra, Indonesia, 2026)

Silahkan baca esai lainnya tentang review puisi karya Anna Keiko:

Hidup yang Dipilih: Kesadaran Lintas Bahasa Dalam Puisi Bilingual Anna Keiko “If You Want to Live”