April 20, 2026
leni14

Ilustrasi Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) "Kekuatan Cinta Ibu". Sumber gambar: Starcom Indonesia's Artwork No. 811 assisted by AI.

/1/

Kekuatan Cinta Ibu

Puisi oleh Leni Marlina

Ibu, di rahimmu kami – anak-anakmu,
anak negeri,
adalah magma mendidih, mencari celah untuk menjadi dunia.
Langkahmu membangun puncak-puncak,
di mana angin memahat doa menjadi harapan.

Di Semeru, kami mendengar namamu,
gugur bersama letusan cinta,
menghidupkan lembah-lembah jiwa.
Di Rinjani, kabutmu menyelimuti lelah kami,
dingin yang engkau ubah menjadi pelukan sejati.

Bromo adalah bisikanmu,
menjaga ritme hati kami,
sementara abu pengorbananmu
menghidupkan tanah subur hidup kami.

Bagi kami anak negeri,
engkau bukan sekadar tanah, ibu,
engkau adalah gunung yang melahirkan matahari.
Dan ketika senja akhirnya memanggilmu,
langit memerah, seakan memberi hormat sepanjang waktu.

Clayton, Monash, Australia, 2013

/2/

Samudra Cinta Ibu

Puisi oleh Leni Marlina

Ibu, engkau seperti samudra,
air yang memenuhi ruang kosong jiwa kami,
anak-anakmu,
anak negeri.

Ombakmu memecah karang keras di hati kami,
membentuk pantai-pantai keberanian.

Di Samudra Hindia, kami mendengar degupmu,
gelombang cinta yang pantang surut.
Di Laut Banda, rahasiamu dalam,
seperti doa-doa yang engkau bisikkan saat fajar.

Raja Ampat adalah cahayamu,
keindahan yang tak mampu kami ceritakan,
hanya kami rasakan dalam diam.

Ibu, samuderamu tidak bertepi.
Kami hanyalah kapal kecil
yang mengarungi pelukanmu,
terombang-ambing namun tak pernah tenggelam,
karena kasihmu yang memberi rasa aman.

Clayton, Monash, Australia, 2013

/3/

Ibu dan Hutan yang Bernafas

Puisi oleh Leni Marlina

Ibu, engkau laksana kanopi hutan,
melindungi tubuh kecil kami dari terik kehidupan.
Daun-daunmu seperti jari,
menghapus debu kesedihan dari mata kami.

Di Kalimantan, kami mendengar napasmu:
rintik hujan yang menembus dedaunan,
gemuruh sungai yang membawa pesan cinta.
Engkau pohon-pohon tua,
menyimpan rahasia dunia dalam akar panjangmu.

Di Papua, warna-warni burung Cenderawasih
menjadi nyanyianmu yang tak pernah mati.
Engkau hutan yang tak pernah tumbang,
meski badai bertubi mencoba menumbangkan rindangnya kasihmu.

Engkau biarkan kami menjelajah,
namun setiap langkah membawa kami pulang,
ke pelukan akar-akar cintamu,
yang mengikat jiwa tanpa meminta imbalan.

Clayton, Monash, Australia, 2013

/4/

Padang Bunga Ibu

Puisi oleh Leni Marlina

Ibu, engkau bagaikan padang bunga yang tak berujung.
Di bawah langit hatimu, kami berlari,
mengejar mimpi di antara bunga yang engkau tanam.

Di Sumba, kami melihat langkahmu,
menghidupkan savana dengan hujan doa.
Ilalang bermain bersama angin,
seperti kami bercengkrama dalam kasihmu.

Di Kebun Raya, bunga-bungamu bagaikan pelukan,
meneduhkan jiwa-jiwa yang lelah.
Setiap kelopak menjadi cerita,
merekah dari akar cinta yang tak mudah layu.

Ibu,
engkau seperti taman yang tidak pernah pilih kasih,
engkau menerima setiap luka dan mimpi kecil kami.
Di bawah naunganmu,
kami belajar menjadi pohon kecil,
berakar kuat pada tanah kasihmu.

Clayton, Monash, Australia, 2013

/5/

Ibu, Cahaya yang Membelah Langit

Puisi oleh Leni Marlina

Ibu, engkau seperti api biru,
memancar dari kedalaman Kawah Ijen,
menghangatkan malam-malam kami yang beku.

Lihatlah,
aurora di Danau Sentani adalah matamu,
melukis doa di langit kelabu,
memecah gelap dengan cahaya yang lembut.

Engkau membelah langit,
memanggil pelangi dengan senyummu.
Cahaya itu tidak pernah padam,
meski hujan mencoba memadamkannya.

Ibu, engkau adalah pelita sejati,
menerangi jalan panjang kami,
hingga batas dunia ini dan nanti.

Clayton, Monash, Australia, 2013

——–
Biografi Singkat

Kumpulan puisi ini awalnya ditulis oleh Leni Marlina hanya sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2012, saat penulis menjalani program master of Writing and Literature di Australia, dengan beasiswa pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2024.

Leni Marlina merupakan pendiri dan ketua Komunitas PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat); pendiri dan ketua Poetry-Pen International Community.

Leni sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya: (1) Komunitas Sastra Anak Dunia (WCLC): https://rb.gy/5c1b02, (2) Komunitas Starcom Indonesia (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia): https://rb.gy/5c1b02, (3) ECSC (English Chilit Smart Course), dan (4) MEC (Marvelous English Course).