Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

KUMPULAN PUISI LENI MARLINA: SUDAHKAH KAU MENANAM KEMBALI?

/1/

Sudahkah Kau Menanam Kembali?

Puisi: Leni Marlina

Di atas mahkota awan,
air jatuh perlahan
seperti seorang ratu
yang menurunkan doa dari jemarinya.
Ia mengalir ke lembah,
menyentuh daun-daun
dengan kelembutan yang hanya dimiliki alam
ketika ingin mengingatkan manusia
tentang arti kesetiaan.

Hutan berdiri sebagai istana tua
yang menyimpan bisikan leluhur.
Ia menunduk bukan karena tunduk,
melainkan karena terlalu lama
menanggungkan kenangan
yang sebagian bukan miliknya.

Semua tetesan air
seperti utusan kecil dari tanah:
bahwa luka tak selalu menjerit,
namun diamnya dapat
menyelubungi satu negeri.

Rumah-rumah hanyut,
dagangan dan kendaraan terseret lumpur,
perahu kehilangan arah—
semuanya menjadi halaman sejarah
yang sedang mencari tempat baru
untuk dituliskan ulang.

Dan ketika air memasuki laut,
ia tidak mengadukan apa pun.
Ia hanya berharap
agar kita – manusia kembali belajar
menyentuh bumi
seperti menyentuh wajah ibu—
dengan hormat,
dengan hati yang tak tergesa,
dengan kesadaran
bahwa semua yang hidup
memiliki martabatnya sendiri.

Masihkah mereka menebas hutan
sekehendak nafsunya?
Ataukah telah mereka tanam kembali
sebatang harapan yang hilang?
Kapan mereka berhenti
mengubur nurani
di hutan yang telah lama gundul itu?

Sebab segala kekayaan
yang mereka timbun dari hutan
takkan pernah cukup
menyembuhkan luka negeri
yang lahir dari keserakahannya itu.

Padang, Sumbar, 2025

/2/

Saat Tanah Membuka Matanya

Puisi: Leni Marlina

Tanah malam itu memejam perlahan,
seperti penjaga tua
yang telah menyaksikan terlalu banyak
hal-hal yang seharusnya dibiarkan gelap.
Ia tidak marah,
tidak menuntut apa pun—
ia hanya ingin rehat
dari kelelahan
yang diwariskan manusia
dari satu zaman ke zaman berikutnya.

Air datang menghampirinya
dengan langkah ringan,
mengusap punggung kakinya
yang letih menahan beban ratusan musim.
Dalam sentuhan itu
tak ada ancaman,
tak ada pertarungan—
hanya percakapan sunyi
antara manusia dan alam
yang merindukan keseimbangan.

Pohon-pohon berdiri
di pinggir malam,
menggenggam ingatan mereka
seperti lentera kecil;
cahayanya lembut,
cukup untuk menunjukkan
ke mana manusia seharusnya
menyusuri jalan pulang.

Di bawah langit yang perlahan menjernih,
banjir bandang bukan hukuman,
melainkan panggilan halus
untuk membuka mata hati—
bahwa segala yang kita jaga
bukanlah milik kita seluruhnya,
melainkan titipan
yang wajib kita jaga
dengan jalan yang terang,
bukan cara yang curang.

Dan ketika pagi tiba,
tanah membuka matanya kembali
dengan kelembutan
yang tak dimiliki malam banjir itu.
Ia memaafkan tanpa diminta,
memulihkan tanpa syarat,
seolah berkata,
“Kita tetap boleh pulang,
asal kita tak lupa
menjadi penjaganya.”

Padang, Sumbar, 2025

/3/

Keberanian untuk Mengakui Pernah Salah

Puisi: Leni Marlina

Kita datang ketika pagi
belum selesai membuka matanya.
Lembah berdiri tenang—
seakan mengenali langkah kita
lebih baik daripada kita
mengenali diri sendiri.

Rumput yang basah
menggeser waktu perlahan;
tak ada yang tergesa
di dunia yang pernah dijaga dengan kasih.

Kita menyentuh udara
yang membawa suara hutan
yang kini tinggal riwayat samar.
Dan di antara gema itu
ada satu kalimat
yang tak pernah diucapkan:
“Kembalilah sebelum kalian terlalu jauh.”

Kita berhenti.
Di hadapan kita,
tanah membuka ruang
yang tidak menawarkan janji
atau menagih luka.
Ia hanya menyiapkan tempat
bagi manusia
yang ingin menemukan dirinya kembali.

Dan kita tahu,
beberapa perjalanan
tidak dimulai oleh langkah—
melainkan oleh keberanian
mengakui
bahwa kita pernah salah
menjaga dunia.

Padang, Sumbar, 2025

/4/

Sungai yang Tidak Lagi Meminta Penjelasan

Puisi: Leni Marlina

Setelah banjir bandang tahun ini,
sungai itu mengalir
tanpa mencari perhatian.
Airnya bening,
namun tak memamerkan kejernihan—
seperti seseorang
yang telah mengerti sejak lama
bahwa kekuatan sejati
berjalan tanpa suara.

Kita duduk di tepinya—
bukan untuk bertanya,
bukan untuk menagih makna—
melainkan untuk melihat diri kita
di dalam dirinya
yang terus bergerak.

Angin menuruni lereng
dengan langkah lembut,
mengusap permukaan air
yang menerima segala bentuk
tanpa memaksa apa pun
menjadi dirinya.

Dan kita mengerti:
sungai tak pernah meminta
kita memilih antara masa lalu dan masa depan.
Ia hanya menunjukkan
bahwa keduanya dapat mengalir bersama
jika hati cukup jujur dan lapang.

Ketika kita bangkit,
air itu tetap berjalan.
Ia tidak menahan kepergian kita—
dan mungkin itulah cara paling halus
untuk mengingatkan kita – manusia
apa arti merdeka
tanpa meninggalkan kewajiban menjaga alam.

Padang, Sumbar, 2025

/5/

Tanah yang Tetap Bertahan

Puisi: Leni Marlina

Tanah di bawah kaki kita
mengembuskan napas panjang.
Kita merasakannya
sebagai detak halus
yang menyimpan usia dunia.

Ia tidak menegur,
tidak menggertak dengan ancaman—
hanya membuka ruang kecil
bagi siapa pun
yang ingin merendahkan suara
dan mendengar.

Di sela retakan-retakannya
tersimpan kisah musim yang pergi,
akar yang masih mencari rumah,
dan kesetiaan
yang tak pernah menuntut balasan.

Kita meletakkan telapak tangan,
dan tanah itu menerima
tanpa memilih,
tanpa menimbang—
seperti seorang ibu
yang tak bertanya
dari mana anaknya datang
atau apa yang telah ia lakukan.

Dalam keheningan itu,
tumbuh satu kalimat
yang lahir bukan dari mulut,
melainkan dari kedalaman
yang lebih tua daripada bahasa yang kita kenal:

“Jagalah aku,
sebelum aku berubah menjadi sesuatu
yang hanya bisa kalian kenang.”

Tanah diam setelahnya,
namun diam itu penuh makna—
diam yang mengikat manusia
pada kewajiban yang tak tertawar:
menjadi penjaga
bagi dunia
yang membuatnya ada.

Padang, Sumbar, 2025

—————

Tentang Penulis: Leni Marlina (UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, SatuPena Sumbar, KEAI, ACC SHILA, PLS, PIPF)

Leni Marlina lahir di Baso, Agam, Sumatera Barat, dan kini menetap di Padang. Ia adalah penyair, penulis, dan dosen pada Program Studi Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (sejak 2006).

Sejak mulai menulis puisi pada tahun 2000, ia telah melahirkan ribuan karya yang merekam pergulatan batin, refleksi kontemplatif, isu-isu lingkungan alam dan sosial, gagasan kemanusiaan, serta kerinduan yang tak pernah padam akan perdamaian. Ketika menempuh studi Magister of Writing and Literature di Melbourne (2011–2013), ia terus menulis tanpa henti—menjadikan puisi sebagai ruang sunyi yang menyalakan kesadaran, menjaga kejernihan hati, dan menuntunnya menuju pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Sejak tahun 2024, ia mulai membuka “samudra kata”-nya kepada publik melalui berbagai platform digital.

Karya-karya terbarunya meliputi “The Beloved Teachers” (2025), “L-BEAUMANITY: Love, Beauty, and Humanity” (2025), serta trilogi “English Stories for Literacy” (2024-2025)—perpaduan antara pengabdian, bahasa, dan nilai-nilai kemanusiaan. Selain menulis puisi, ia aktif menulis cerpen, esai, kritik sastra, ulasan karya sastra, serta menerjemahkan beragam teks sastra dan teks jurnalistik. Karyanya tersebar dalam berbagai antologi cerpen, antologi puisi, dan publikasi digital. Di luar aktivitas akademik di Departemen Bahasa dan Sastra Inggris FBS Universitas Negeri Padang, ia terlibat dalam komunitas literasi nasional dan internasional, serta mendirikan sejumlah gerakan literasi yang relevan dengan dinamika era digital.

Sebagai pendiri sekaligus ketua berbagai gerakan sosial, literasi, dan sastra digital—seperti Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat (PPIPM-Indonesia): Komunitas Pembaca dan Penulis Puisi Indonesia, Poetry-Pen International Community (PPIC), Literature Talk Community (Littalk-C), dan EL4C (English Language Learning, Literature, and Literacy)—ia terus menjembatani berbagai generasi melalui sastra, menumbuhkan budaya membaca, menulis, berdiskusi, dan merenung secara berkelanjutan.

Atas dedikasinya pada dunia literasi dan kesusastraan, ia menerima penghargaan Best Writer 2025 dari SatuPena Sumatera Barat pada International Minangkabau Literary Festival ke-3 (IMLF-3), serta ACC International Literary Prize 2005 dari ACC Shanghai Huiyu International Literary Creative Media Centre.

Tahun 2025, Leni ditunjuk dan dipercayakqn sebagai Indonesian Poetry Ambassador untuk ACC Shanghai Huifeng Internatioanl Literary Association (ACC SHILA), sekaligus the ASEAN Directors for ACC SHILA Poets. Di tahun yang sama, Leni ditunjuk dan dipercayakan oleh Capital Writers International Foundation sebagai National Director (Indonesia) untuk Panorama International Literary Festival (PILF) Januari-Februari 2026 di India. (Informasi acara selengkapnya: www.panoramafestival.org).