February 11, 2026

anto narasoma

layar televisi pun membuka diri
lalu secangkir kopi itu
panas mendidih
karena serangan drone iran yang menembus perlawanan israel, menusuk tajam ke ulu hati orang-orang yahudi

herzi haveli pun tergelimpang dari jabatannya. ia pun terkepung ajal yang sesak asap ledakan kematian di kancah pertempuran itu

langit kota pun menangis dalam hujan serangan yang mematikan di ujung pertahanan itu mengepung pintu-pintu gedung

iran,
awalnya sunyi dan sepi dari kemarahan. langit dan buminya pasrah ketika tangisan anak-anak palestina raib dalam kematian panjang

maka,
magma itu pun bergolak panas, memancarkan letusan api dalam erupsi paling gencar yang meruntuhkan harga diri israel sedingin salju

api pun padam
ketika listrik menyengat situasi yang seram mematikan. sebab, dalam pertempuran prajurit-prajurit drone,
tak menatap anak-anak dan orang tua yang bergeletakan di ranjang-ranjang kematian

israel seperti barang dagangan yang dipermainkan dalam lakon satu babak cerita bratayudha

lalu,
herzi haveli pun harus tumbang dari putiknya.
nyawanya yang kembang-kempis diburu maut, masuk kerangkeng ribuan nyawa anak-anak palestina dari balik tanah kematian

o, maut dan mati !!

begitu kisah pilu yang tak memilukan,
tampil sebagai babak permainan dalam lakon kematian yang sunyi dari tangisan

balasan perilaku
memang tak hadir
dari orang-orang penerima kezaliman

hanya tangan-tangan ajal yang memberondong peluru, hingga gedung dan ribuan nyawa orang-orang yahudi ambruk menjadi debu

Palembang
22 Juni 2025