April 25, 2026

Langkah Bersama Merajut Harmoni: Ziarah Toleransi dari Ranah Minang ke Bumi Khatulistiwa

Oleh: H. Edy Oktafiandi, S.Ag., M.Pd
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Padang

Langit Minangkabau belum sepenuhnya membuka tabir siangnya ketika kami melangkah menuju gerbang perjalanan panjang, bukan sekadar menyeberangi pulau, tetapi menjelajah makna dari Sumatra Barat ke Kalimantan Barat, dari suara azan di surau-surau kampung hingga denting lonceng di gereja-gereja kota. Kami bukan sekadar pelancong, kami adalah pengemban pesan: menjaga Indonesia melalui simpul-simpul kerukunan yang nyaris tak kasat mata namun menjadi fondasi peradaban.

Pagi itu, di Bandara Internasional Minangkabau, senyum para tokoh lintas iman dan pejabat pemerintah tampak seperti embun yang menetes di atas dedaunan, jernih dan menyegarkan. Rombongan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Padang, didampingi oleh Pemerintah Kota Padang dan Kementerian Agama, bersiap untuk perjalanan suci: sebuah ziarah kebangsaan yang bertujuan menyerap nilai dari tanah yang dikenal akan semangat pluralismenya Singkawang, Sambas, dan Pontianak.

Kami tidak membawa konsep, apalagi dogma. Kami membawa niat dan tekad. Di dalam ransel kami, terlipat harapan-harapan: agar perbedaan tidak menjadi jurang, tapi jembatan; agar keragaman bukan alasan untuk berjauh hati, tetapi ruang untuk saling memahami.

Sebagaimana dikatakan oleh Prof. H. Salmadanis, Ketua FKUB Kota Padang, “Kerukunan tidak diwarisi, ia diperjuangkan.” Maka kami menapak jejak di Bumi Khatulistiwa bukan untuk menggurui atau menilai, tetapi untuk belajar—dari cara mereka menyulam perbedaan menjadi kekuatan, dari kearifan lokal yang menjadikan rumah ibadah berdiri berdampingan tanpa sekat prasangka.

Dari Rantau ke Rumpun, Dari Kota ke Jiwa

Singkawang menyambut kami dengan keramahan yang hampir mistis—udara tropisnya seolah menghidupkan ingatan tentang bagaimana di kota itu, budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu tak sekadar hidup berdampingan, tapi saling bersenyawa. Kami menyerap bukan hanya struktur kelembagaan, tapi juga denyut kehidupan sosial: bagaimana masyarakatnya menciptakan ritme harmoni dari aneka nada keyakinan.

Lalu nanti di Sambas, sejarah akan berbicara melalui sungai-sungai dan pasar tradisional. Kami disambut bukan hanya dengan tangan, tetapi juga dengan hati. Ada dialog, ada diskusi, ada tatapan tulus yang melampaui protokol. Di sana, kami merasa bukan tamu, tetapi saudara yang sekian lama berpisah dan akhirnya berjumpa.

Pontianak menjadi titik simpul dari perjalanan ini. Di aula Pemerintah Kota, kami duduk bersama: pejabat, tokoh agama, penyuluh, dan masyarakat sipil. Pertemuan bukan hanya membicarakan program, tetapi membingkai harapan. Kata-kata yang meluncur dalam forum bukanlah jargon, melainkan nurani yang menyuarakan bahwa Indonesia yang damai bukan utopia, tapi keniscayaan yang harus dijaga dengan kesabaran dan kerja sama.

Wali Kota Pontianak, H. Edi Rusdi Kamtono, menyambut kami dengan kata-kata yang hangat: “Inilah bentuk nyata Indonesia. Berbeda-beda, namun mampu duduk bersama.” Dalam sambutan itu, saya menangkap sesuatu yang lebih dari sekadar retorika—ada kepercayaan bahwa bangsa ini masih memiliki daya hidup karena rakyatnya tak pernah lelah merajut harmoni.

Silaturahmi: Jantung yang Berdetak Bagi Bangsa

Kegiatan koordinasi dan konsultasi ini adalah cermin dari niat tulus kami untuk menjadikan toleransi sebagai praktik, bukan sekadar wacana. Pertemuan lintas FKUB dan Kemenag ini adalah bukti bahwa ketika ruang dibuka dengan ikhlas, maka kebaikan akan menemukan jalannya sendiri. Kami berbagi pengalaman, strategi, dan inspirasi—seperti petani yang bertukar benih agar ladangnya tumbuh subur.

Saya, sebagai Kepala Kementerian Agama Kota Padang, percaya bahwa akar kerukunan tumbuh paling kuat dari tanah yang disiram kasih sayang, dihujani pemahaman, dan disinari oleh keadilan. Kegiatan ini bukan hanya agenda birokratis, tetapi adalah zakat ruhani kita sebagai bangsa sebuah pengabdian yang mendalam terhadap cita-cita kemerdekaan: menciptakan rumah bersama yang aman bagi semua anak bangsa, apapun suku, agama, atau latarnya.

Wakil Wali Kota Padang, H. Maigus Nasir, dalam sambutannya menyebut bahwa kami bukan hanya membawa nama daerah, tetapi membawa pesan kebangsaan. Benar adanya. Sebab setiap langkah kami adalah doa, setiap dialog kami adalah ikhtiar untuk memastikan bahwa cucu-cucu kita kelak bisa hidup di negeri yang tidak saling curiga karena perbedaan, tapi saling percaya karena cinta.

Menjahit Masa Depan dengan Benang Kearifan

Apa yang kami bawa pulang dari Kalimantan Barat bukan sekadar laporan kegiatan atau dokumentasi pertemuan. Kami membawa pulang semangat, harapan, dan pelajaran hidup. Bahwa kerukunan bukan tujuan akhir, melainkan jalan yang harus terus dirawat dan diperbaharui. Bahwa toleransi bukan hanya kata dalam pidato, tetapi napas dalam kehidupan sosial yang nyata.

Kami akan menjahit semua benang itu ke dalam kain batik kebijakan dan pelayanan kami di Kota Padang agar tercipta ruang-ruang damai di sekolah, rumah ibadah, pasar, dan rumah tangga. Karena saya percaya: tidak ada Indonesia yang utuh tanpa kerukunan yang kuat.

Langkah kami mungkin kecil, tapi ia adalah bagian dari langkah besar bangsa ini. Dari Ranah Minang ke Bumi Khatulistiwa, kami belajar bahwa merawat harmoni bukan beban, melainkan kehormatan.

Dan kepada bangsa ini, kami bisikkan sebuah janji dalam sunyi: kami akan terus berjalan, menapak, dan merajut. Sebab selama kita masih bisa bersalaman dan tersenyum, Indonesia masih punya harapan. Editor dan Kontributor : Dafril, Tuanku Bandaro