Lapisan Cinta
Yusuf Achmad
Bila kusebut kekasih, pasti itu untukmu. Meski dalam bait puisi yang bernafas, di dalamnya ada materi dan sunyi. Bahkan segala bunyi, tawa, dan nyanyian hati.
Kekasih mengingatkanku padamu. Dalam kekasih terdapat cintamu. Meski bencimu berlapis kabut, sayangmu tetap lembut.
Bajingan, perampok, pembunuh, pendosa, dan koruptor. Semua memiliki alasan untuk mencuri cinta, sayang, dan rindu yang ternoda. Namun, ulama, pendeta, bedande, bikhu, atau orang baik. Pernah mengenakan jubah yang ternoda.
Atas nama agama, dharma, dan cintamu. Apakah mereka salah tanpa ampunan? Mereka para pendosa atau tahanan. Padahal mereka juga berada dalam lapisanmu, kekasih. Seperti lapisan kabut yang melindungi, cinta kita tetap ada, meski tersembunyi.
Surabaya, 19-9-2024