April 18, 2026

MAN Sawahlunto Gelar Lokmin KBC : Lahirkan Rancangan Ko Kurikuler Kolaboratif Antar Mapel

IMG-20260212-WA0182

SAWAHLUNTO, Suara Anak Negeri– 12 Februari 2026 Sebuah semangat baru tumbuh dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kota Sawahlunto. Siang itu, ruang Pertemuan yang dipenuhi guru, tenaga kependidikan, dan para pemangku kepentingan pendidikan. Mereka berkumpul bukan sekadar untuk rapat rutin, melainkan untuk merajut gagasan besar dalam sebuah Loka Karya Mini bertajuk KBC( Kurikulum Berbasis Cinta) dengan fokus pada integrasi deep learning dalam penguatan kokurikuler abad ke-21.Kegiatan ini bukan sekadar agenda administratif, melainkan sebuah ikhtiar intelektual dan spiritual.

Kepala MAN Kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro dalam sambutannya menegaskan bahwa pendidikan hari ini tak lagi cukup hanya mentransfer pengetahuan. “Kita sedang mendidik manusia masa depan. Maka, kurikulum harus bertumpu pada cinta—cinta pada ilmu, cinta pada proses, dan cinta pada kemanusiaan,” ujar Dafril disambut anggukan penuh kesadaran.

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) menjadi napas baru dalam praksis pendidikan di madrasah ini. Cinta dimaknai bukan sebagai retorika, tetapi sebagai landasan pedagogis: membangun relasi guru dan siswa yang hangat, menciptakan ruang belajar yang aman dan inklusif, serta menumbuhkan empati sebagai fondasi karakter.

Dalam sesi pemaparan materi, Kepala MAN kota Sawahlunto Dafril Tuanku Bandaro menguraikan bagaimana KBC diterjemahkan ke dalam desain pembelajaran kokurikuler. Kegiatan seperti riset ilmiah remaja, literasi digital, kewirausahaan sosial, hingga proyek pengabdian masyarakat dirancang tidak hanya untuk mengasah keterampilan, tetapi juga membentuk kepekaan sosial dan tanggung jawab moral.

Di sinilah konsep deep learning menemukan relevansinya. Pembelajaran tidak lagi berhenti pada hafalan atau capaian kognitif semata, melainkan menggali makna, mengaitkan pengetahuan dengan konteks nyata, serta mendorong refleksi kritis. Siswa diajak memahami “mengapa” dan “bagaimana”, bukan sekadar “apa”.

Loka karya ini juga menyoroti pentingnya penguatan kokurikuler sebagai jembatan antara teori dan realitas. Dalam diskusi kelompok, para guru merancang skema integratif yang menghubungkan mata pelajaran dengan proyek nyata lintas disiplin. Kolaborasi, kreativitas, komunikasi, dan berpikir kritis empat kompetensi utama abad ke-21—menjadi pilar yang diperkuat.

Salah satu rancangan program yang mengemuka adalah proyek “Madrasah Menyapa Kota”, di mana siswa melakukan riset sosial tentang lingkungan sekitar, memetakan persoalan, lalu menawarkan solusi berbasis data dan nilai-nilai keislaman. Pendekatan ini memadukan literasi digital dengan kepedulian sosial, membuktikan bahwa teknologi dan nurani dapat berjalan seiring.

Loka karya di ikuti oleh seluruh GTK MAN Kota Sawahlunto yang tampak antusias. Diskusi berlangsung dinamis, gagasan bersilang, dan catatan demi catatan memenuhi lembar kerja. Ada kesadaran kolektif bahwa perubahan kurikulum bukan sekadar mengganti dokumen, melainkan mengubah paradigma.

Loka Karya Mini KBC ini menjadi penanda bahwa MAN Kota Sawahlunto tidak ingin berjalan di tempat. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan tantangan global, madrasah ini memilih untuk berpijak pada nilai, namun melangkah dengan inovasi.

Integrasi deep learning dalam penguatan kokurikuler bukan sekadar strategi pedagogis, melainkan komitmen untuk menanam masa depan—masa depan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan kokoh secara spiritual.