“Melebur dalam Santapan Ruhani”
ANTOLOGI PUISI SUFI
Oleh: Rizal Tanjung
–
I
Pintu Fana
Di gerbang pagi yang dilumuri cahaya,
aku meletakkan seluruh nama yang pernah kupakai.
Burung-burung melintas seperti ayat-ayat terbang,
menyampaikan salam dari langit kepada tanah.
Di antara hembusan angin,
aku mendengar panggilan yang tak diucapkan bibir—
sebuah gema dari abad yang jauh
mengajakku menanggalkan segala milik
dan menjadi sekadar debu
yang rela dibawa ke mana saja oleh hembusan-Nya.
Kekasih,
aku berdiri di depan-Mu tanpa baju waktu,
tanpa cincin dunia,
hanya dengan dada yang dibuka
seperti halaman kosong
menunggu firman-Mu ditulis.
II
Tasbih Batu-Batu
Aku duduk di tepi sungai,
airnya membawa doa-doa yang pernah
terlontar dari bibir para nabi.
Batu-batu di dasar sungai
berdzikir tanpa suara,
namun getarannya memukul hatiku
lebih kencang daripada lonceng dunia.
Di sela deras arus,
aku menemukan huruf-huruf
yang mengalir sejak penciptaan,
menyatu dengan cahaya bulan,
mengajarkan bahwa setiap beku
pun menyimpan nadi yang memuji-Mu.
III
Cahaya di Balik Kelopak
Aku menatap bunga yang mekar di tengah gurun,
kelopaknya seperti gulungan ayat
yang diselipkan di antara pasir waktu.
Setiap pagi,
matahari menciuminya dengan lembut,
dan ia menyerahkan keharumannya
kepada angin yang menuju ke Timur.
Aku belajar darinya
bagaimana mencintai tanpa menuntut,
bagaimana memberi tanpa menyisakan diri.
IV
Langkah di Karpet Bintang
Malam ini aku berjalan
di atas karpet yang ditenun dari cahaya bintang.
Setiap pijakan terasa seperti menyentuh
urat nadi alam semesta.
Kekasih,
di setiap titik cahaya itu
aku melihat wajah-Mu.
Di setiap kelam di antaranya
aku menemukan rahasia-Mu.
V
Waktu yang Berlutut
Jam di dinding masjid tua
berhenti saat azan berkumandang.
Seakan waktu pun tahu
kepada siapa ia harus tunduk.
Aku pun berlutut,
membiarkan detik-detik lebur
dalam satu keabadian
di hadapan-Mu.
VI
Surat dari Angin Timur
Angin Timur datang membawa aroma kayu gaharu,
membawa pesan yang tak tertulis
namun bisa kurasakan dalam tulang.
Ia berkata:
“Lepaskan peta, lepaskan jarum kompas,
karena arahmu kini hanyalah Dia.”
VII
Embun yang Bersujud
Embun di ujung daun
menunduk sebelum matahari tiba.
Ia tahu,
cahaya akan membuatnya lenyap.
Aku pun belajar dari embun:
kadang lenyap adalah bentuk terindah dari hidup.
VIII
Laut yang Tak Mempunyai Pantai
Kekasih,
aku hanyut di laut-Mu
yang tidak punya pantai.
Arusnya membawa
semua pertanyaanku,
menenggelamkan ego
dan meninggalkan jiwa
yang hanya bisa berkata: “Engkaulah tujuan.”
IX
Pasir yang Menghafal Langkah
Pasir padang sahara
menyimpan jejak kaki para musafir.
Namun setiap hembusan angin
menghapus semuanya.
Begitulah Engkau,
menghapus setiap kebanggaanku,
agar aku mengerti bahwa
hanya Engkaulah yang abadi.
X
Lentera di Tengah Badai
Badai datang merobek langit,
namun lentera kecil di hatiku
tetap menyala,
karena sumbu dan apinya
terbuat dari doa yang tak pernah padam.
XI
Burung yang Tak Kembali
Seekor burung terbang ke langit tinggi
dan tak pernah kembali.
Orang-orang mencarinya,
namun aku tahu ia telah menyatu
dengan birunya takdir.
XII
Gerimis di Jubah Nabi
Gerimis turun di tanah tandus,
membasahi jubah yang telah robek oleh waktu.
Namun setiap tetesnya
membawa kesuburan rahmat,
mengubah gurun menjadi taman tasbih.
XIII
Sungai yang Berputar ke Sumber
Kekasih,
aku hanyalah sungai
yang lelah mengalir.
Kini aku berputar,
kembali mencari sumberku,
tempat aku pertama kali
dicipta dari cahaya-Mu.
XIV
Doa yang Tidak Ditiupkan
Ada doa-doa
yang tidak keluar dari bibir,
hanya berputar dalam dada
seperti burung yang enggan meninggalkan sarang.
Namun Engkau tahu
bahkan sebelum ia mengepakkan sayap.
XV
Bulan yang Meminjam Cahaya
Bulan tahu ia tak punya cahaya,
namun ia setia memantulkan matahari.
Ajarkan aku, Kekasih,
bagaimana menjadi cermin
yang setia pada-Mu
meski tanpa sinar sendiri.
XVI
Bayang-Bayang yang Menghilang
Pagi datang,
dan bayang-bayangku menghilang.
Hanya cahaya yang tersisa.
Begitulah yang kuharapkan:
hilangnya diriku
dalam terang-Mu.
XVII
Taman yang Tidak Berpagar
Kekasih,
izinkan hatiku menjadi taman
yang tidak berpagar,
agar siapa pun yang haus
bisa masuk dan menemukan-Mu.
XVIII
Cermin yang Pecah di Langit
Aku melemparkan cermin
ke langit malam,
ia pecah menjadi bintang-bintang.
Setiap pecahannya
memantulkan wajah-Mu
di segala arah.
XIX
Nafas yang Pulang
Pada hembusan terakhir,
aku akan mengirim nafasku
pulang kepada-Mu,
seperti surat yang akhirnya
sampai di alamat yang benar.
XX
Menjadi Santapan Kekasih
Di meja cahaya,
aku dihidangkan untuk-Mu—
bukan sebagai daging atau darah,
melainkan sebagai dzikir yang tak pernah usai.
Kekasih,
makanlah aku sampai habis,
hingga tak tersisa lagi aku,
hanya Engkau yang duduk di singgasana sunyi.
Sumatera Barat,2024.