May 10, 2026

Oleh Paulus Laratmase

Reputasi aktual karya Alasdair MacIntyre bertumpu pada “After Virtue”, “Whose Justice” dan “Which Rationality” yang ditulis dalam bukunya “A short History of Ethics, 1998”. Inti konsep-konsep filsafati MacIntyre adalah sebuah rasionalitas, ajakan untuk kembali pada tradisi (tradition-based rationatity) sebagai unsur dasar  filsafat moral yang koheren dan masuk akal bertumpu pada keyakinan dasar bahwa tradisi merupakan sumber kamajuan ilmu pengetahuan baik dalam teori dan praksis. Baginya, “Tidak ada praksis dan teori yang muncul dari  kekosongan.”

“Jejak Sayap di Langit Merdeka” karya Yusuf Achmad, merupakan sebuah karya pengungkapan sebuah prinsip moralitas pada konsep-konsep fenomena relasi  sosiologis yang dialami dalam sebuah prinsip moralitas. Puisi ini  dimuat di media suaraanakengerinews.com pada rumbrik “Puisi Hari Ini”. Demikian bait pertama puisi Yusuf Achmad:

“Kubiarkan burung itu melepaskan dirinya,
sayapnya mengoyak batas yang dulu mengurung,
melayang di arus angin yang menggulung sarang,
menyapu segala debu yang merintangi perjalanan.” 

MacIntyre dalam “After Virtue” menekankan sebuah wacana moral masa kini yang di era teknologi modern mesin pun menjadi sarana pemikir yang bisa menggeser rasionalitas manusia. Demikian debat antara tesis dan anti tesis  terhadap prinsip-prinsip moralitas manusia menjadi tak mendapatkan titik temu. Relasi-relasi sosiologis yang dialami seorang Yusuf Achmad dialami sebagai pengalaman empirik dalam mana ending sebuah perjuangan melampauan diri subjek yang pada akhirnya menulis, “Kubiarkan burung itu melepaskan dirinya, sayapnya mengoyak batas yang dulunya mengurung, melayang di arus angin yang menggulung sarang, menyapu segala debu yang merintangi perjalan”.

Sebuah kegamangan pada realitas “ketidak-pastian” dalam durasi waktu yang dialaminya sebagai fenomena relasi sosio-psikologis pada keteguhan kebenaran sebuah kebajikan (virtus-viertuae) berahadapan dengan  relasi historisitas seorang Yusuf Achmad  yang telah dipegang teguh sebagai warisan prinsip moral pada perjuangan sebuah kebenaran baik untuk dirinya, keluarga dan masyarakat luas sebagai bagian dari Hablum Minanas pengabdiannya.

Kegamangan itu kini dialaminya sebagai sebuah factum est bahwa relasi-relasi sosio-psikologis itu telah dilampauinya dalam sebuah fakta sejarah yang baginya tak mungkin menjadi mungkin, sebuah pelampauan diri subjek yang rasional.  Demikian diekpresikan dalam bait kedua pusi Yusuf Achmad:

Kubiarkan segala beban tenggelam,
dalam lambung waktu yang mengayun tak gentar.
Kubiarkan aroma, rasa, dan getirnya meresap,
menjadi tinta yang menuliskan takdir di angkasa.

Bagi MacIntyre, manusia harus kembali pada tradisi keutamaan Aristoteles. Tradisi bagi seorang filsuf Aristoteles,  telah lahir dalam transisi dari bentuk-bentuk relasi-relasi sosiologis. Dan oleh MacIntyre, tradisi keutamaan itu dikonstruksi sedemikian rupa dalam berbagai teori praksis di mana kualitas-kualitas pemikiran dan watak yang memungkinkan pemilikannya mencapai kebaikan-kebaikan  internal dalam praksis-praksis seperti kesenian dan ilmu pengetahuan.

Keutamaan-keutamaan itu menurut MacIntyre, merupakan kualitas-kualitas yang memugkinkan  individu meraih kehidupan yang dikembangkan berdasarkan kebaikan-kebaikan itu yang merupakah hal terbaik untuk diraih. Dan yang terakhir adalah kualitas-kualitas yang memungkinkan sebuah realitas berkembang baik dan mencapai konsepsi yang memadai tentang kebaikan manusia secara menyeluruh.

Demikian realitas kebajikan dialami oleh seorang Yusuf Achmad dalam narasi faktualnya pada sebuah pengalaman empirik, “Kubiarkan segala beban tenggelam, dalam lambung waktu yang mengayun tak gentar. Kubiarkan aroma, rasa dan getirnya meresap menjadi tinta yang menuliskan takdir di angkasa,”  sebagai kualitas sebuah makna.

Pengalaman Empirik seorang Yusuf Achmad pada akhirnya sampai pada puncak narasi dari praksi hidup yang dijalani dan dirasakan sebagai  kebajikan rasionalitas diri yang oleh MacIntyre disebutnya  pelaku moral atau keutamaan-keutamaan  dalam upaya manusia untuk hidup lebih baik dari hari ini.

Pelaku moral  dalam “Whose Justice” dan “Which Rationality” adalah aktivitas kerja sama melalui relasi-relasi sosial yang koheren yang rumit dalam tesis dan anti tesis  entah itu internal atau eksternal,  yang pada akhirnya dicapai dalam  kebaikan- kebaikan khusus dengan memenuhi patokan-patokan keunggulan dari setiap subjek dalam kebersamaan komunitas subtansial melalui sebuah peristiwa yang menjadi subtansi rumusan puisi seorang Yusuf Achmad.

Kebaikan-kebaikan eksternal dan internal kini telah dialami seorang Yusuf Achmad dalam actus humanus yang pada akhirnya nampak dalam narasi bait ketiga, keempat  dan kelima berikut:

Aku ingin burung-burung gesit,
menari di antara serpihan cahaya,
sayapnya melukis aksara,
huruf-huruf menyala: BRAVO!

Layaknya pesawat yang melintas di hari merdeka,
menabur ucapan selamat di langit yang bergema,
tak hancur oleh badai, tak hilang oleh angin kelam,
tetap bernyanyi, tetap melangkah,
meninggalkan jejak bagi hari yang gemilang.

Masa di mana senja tak lagi berlumur luka,
dan awan yang menggendong duka
menjadi nyanyian keberanian,
yang tak pernah sirna.

MacIntyre menekankan virtue (Kebajikan) pada tataran subjek otonom yang mengambil “Keputusan” dan “Pilihan” yang berakar pada “Akal Budi dan Kehendak Bebas.” Katanya, “Aku adalah apa yang kupilih untuk menjadi. Aku senantiasa jika aku kehendaki, dapat mempertanyakan apa yang dianggap hanya sebagai sifat-sifat eksistensiku.

A Story Telling seorang Yusuf Achmad pada narasi puisi berjudul “Jejak Sayap di Langit Merdeka” oleh seorang MacIntyre menawarkan pertanyaan ini, “Apa yang harus seorang Yusuf Achmad lakukan?” Jika seroang Yusuf Achmad dapat menjawabnya, maka pertanyaan lebih mendasar dari seorang MacIntyre adalah “Dari Puisi ini, apakah Seorang Yusuf Achmad  sungguh menemukan diri sebagai bagian dari realitas objektif itu? Demikian melalui bait terakhirnya, seorang Yusuf Achmad menjawabnya:

“Masa di mana senja tak lagi berlumur luka,
dan awan yang menggendong duka
menjadi nyanyian keberanian,
yang tak pernah sirna.”

Berikut Puisi Yusuf Achmad Dengan Judul: Jejak Sayap di Langit Merdeka  

Kubiarkan burung itu melepaskan dirinya,
sayapnya mengoyak batas yang dulu mengurung,
melayang di arus angin yang menggulung sarang,
menyapu segala debu yang merintangi perjalanan.

Kubiarkan segala beban tenggelam,
dalam lambung waktu yang mengayun tak gentar.
Kubiarkan aroma, rasa, dan getirnya meresap,
menjadi tinta yang menuliskan takdir di angkasa.

Aku ingin burung-burung gesit,
menari di antara serpihan cahaya,
sayapnya melukis aksara,
huruf-huruf menyala: BRAVO!

Layaknya pesawat yang melintas di hari merdeka,
menabur ucapan selamat di langit yang bergema,
tak hancur oleh badai, tak hilang oleh angin kelam,
tetap bernyanyi, tetap melangkah,
meninggalkan jejak bagi hari yang gemilang.

Masa di mana senja tak lagi berlumur luka,
dan awan yang menggendong duka
menjadi nyanyian keberanian,
yang tak pernah sirna.

https://suaraanaknegerinews.com/jejak-sayap-di-langit-merdeka/

SMK Saintren, 12 Juni 2025

Referensi:

1. Brian V. Johnstone, Political Assassination and Tyrannicide: Tranditions and Contemporary Conflicts” dalam Sudia Moralia.2003.

2. Ranon Sharkey, “Vertus, Communautes et Ponlitique: La philosophie d’Alasdair MacLntyre” dalam Nouvelle revue theologique, Janvier-Mars.2002.

3. Frans Ceunfin, Merujuk Tradisi Mengolah Hidup, Ledalero.2005.