Mengedit Karakter: Konfrontasi dengan Diri Sendiri Oleh Amelia Fitriani
Oleh Amelia Fitriani
–
AWAL dari hidup yang layak adalah konfrontasi dengan diri kita sendiri. Kutipan dari pendeta dan profesor humaniora ternama Amerika Serikat, Harry Emerson Fosdick itu cukup membawa saya pada perenungan diri yang mendalam.
Barangkali selama ini saya cukup naif karena beranggapan bahwa selama kita sebagai manusia tidak menyakiti, tidak melukai dan tidak berbuat jahat pada orang lain, maka kita adalah orang yang baik. Karena itu saya kerap menghindari konfrontasi, termasuk dengan diri sendiri.
Situasi itu semacam itu selama ini saya anggap tidak keliru. Namun kemudian saya menemukan bahwa hal itu justru berbahaya, jika tidak dikelola dengan bijak, karena bisa meninabobokan “singa” di dalam dalam diri. Singa yang saya maksud di sini adalah potensi diri yang besar.
Ada ilustrasi menarik untuk menggambarkan situasi itu, yang saya baca dari buku David Brooks berjudul “The Road to Character”. Dia mengadopsi dan memodifikasi dari tulisan Joseph B. Soloveitchik dalam karyanya “Lonely Man of Faith” tahun 1965 mengenai dua sisi berlawanan manusia yang digambarkan sebagai Adam I dan Adam II.
Adam I adalah sosok yang berorientasi pada karir, kompetitif dan ambisius serta memiliki kecenderungan untuk membangun, menciptakan, dan menemukan sesuatu. Sementara Adam II adalah sosok yang berfokus pada kualitas moral dan ketenangan batin. Kecenderungan Adam II adalah mencintai secara intim, melayani orang lain dan hidup dalam ketaatan serta cinta kasih.
Adam I dan Adam II memiliki logika yang berbeda. Adam I beroperasi dengan logika ekonomi, sehingga memiliki asumsi bahwa apa yang masuk harus ada yang keluar. Sementara Adam II hidup dengan logika moral, di mana “memberi” adalah cara untuk “menerima”.
Menurut Soloveitchik, kita kerap terjebak dalam konfrontasi diri antara Adam I dan Adam II. Jika kita hanya fokus pada Adam I, maka kita bisa berubah menjadi makhluk yang cerdik, tetapi kehilangan makna dalam hidup dan terjebak dalam rutinitas tanpa eksplorasi diri yang mendalam serta mudah merasa bosan dan tidak terikat pada tujuan moral.
Di sisi lain, jika hanya fokus pada Adam II dari sifat kita, maka kita akan mudah untuk tergelincir ke dalam sikap moral yang biasa-biasa saja dan berisiko terjebak dalam kepuasan diri yang dangkal dengan berlindung pada pemaafan diri. Adam II akan membawa kita kemanapun kita disetujui, selama tidak menyaikiti orang lain.
Jika dibiarkan berlarut, tanpa disadari, kita justru akan membentuk jurang yang terbuka antara diri kita dan potensi besar diri kita yang saya gambarkan sebagai “singa” tadi.
Membaca buku itu, saya menyadari bahwa terjebak hanya pada karakter Adam I atau Adam II bukanlah pilihan yang bijak. Karakter seperti ambisius dan egois yang kuat pada Adam I, jika dikendalikan dengan bijak, bisa membangunkan singa dalam diri kita yang selama ini terlalu nyenyak dininabobokan. Karena kita tidak mudah puas dengan apa yang dikerjakan dan konsisten untuk berupaya untuk bisa lebih baik lagi.
Sementara itu, karakter pada Adam II yang lekat dengan cinta kasih dan mampu mencari ketenangan batin, jika dikendalikan dengan bijak, bisa membantu kita menjaga agar singa dalam diri kita tidak mengaum liar dan kekuatannya bisa digunakan dengan terarah untuk tujuan yang jelas dan berdampak.
Saya kemudian memahami bahwa barangkali selama ini saya terjebak pada karakter Adam II, sehingga belum maksimal membangun potensi diri.
Dari buku David Brooks saya belajar bahwa hal itu bukan tidak mungkin diubah. Brooks mengulas soal pola pembentukan karakter yang telah diadopsi selama berabad-abad untuk menanamkan besi ke dalam hati (karakter Adam I) sembari menumbuhkan hati yang bijak di waktu bersamaan (karakter Adam II).
Salah satu hal yang menarik, dan saya amini, Brooks sepakat dengan moralitas “kayu bengkok” yang dipopulerkan oleh filsuf ternama Immanuel Kant yang menekankan bahwa pada hakikatnya manusia berdosa dan memiliki banyak kelemahan.
Di satu sisi, hal itu bisa dipandang sebagai tradisi yang menuntut kerendahan hati dalam menghadapi keterbatasan kita sendiri. Namun di sisi lain, tradisi ini juga menyatakan bahwa kita masing-masing memiliki kekuatan untuk menghadapi kelemahan kita sendiri. Justru dengan melakukan konfrontasi dengan diri kita sendiri, kita membangun karakter yang kuat yang bisa menjadi jembatan antara Adam I dan Adam II.
Konfrontasi diri ini bisa juga digambarkan sebagai cara kita mengedit karakter bawaan diri kita, apakah itu Adam I atau Adam II. Dari buku Brooks, saya memahami bahwa konfrontasi diri atau proses mengedit karakter ini bukan hal yang bisa selesai dalam waktu satu malam. Perlu konsistensi dan keberanian menghadapi perubahan yang akan mungkin akan menimbulkan ketidaknyamanan.
Saya kemudian teringat dengan Personal Trainer (PT) di sebuah pusat kebugaran di mana saya intensif berolahraga, dua bulan terakhir ini. Pada minggu-minggu awal latihan, saya mengeluhkan kepada PT saya karena sering merasa sakit badan usai latihan angkat beban, seperti nyeri otot, pegal dan kadang bengkak di anggota tubuh tertentu. PT saya kemudian menjelaskan bahwa rasa sakit yang muncul itu adalah hal yang wajar dan disebut sebagai DOMS atau Delayed Onset Muscle Soreness.
Meski kadang membawa ketidaknyamanan, namun DOMS akan selalu muncul setiap kali saya melakukan olahraga dan angkat beban untuk tujuan kesehatan dan pembentukan tubuh. PT saya juga menjelaskan bahwa lama kelamaan saya akan terbiasa dengan DOMS, dan bahkan “ketagihan”, jika konsisten berolahraga.
Dari hal itu saya kemudian menarik benang merah. Bagi saya, DOMS menjadi indikator bahwa tubuh saya sedang berproses “mengedit diri”, dari yang semula kurang sehat karena malas berolahraga, menjadi aktif bergerak untuk membentuk postur tubuh lebih ideal dan bugar.
Mulanya DOMS muncul membawa ketidaknyamanan, namun lama kelamaan ketidaknyamanan itu pun menjadi hal yang biasa saya rasakan. Karena saya tahu, bahwa DOMS adalah indikator saya sedang berproses.
Hal yang sama juga bisa dilakukan pada proses mengedit karakter. Perlu keberanian untuk mengkonfrontasi kelemahan diri agar bisa melakukan proses mengedit karakter diri dan membangun jembatan bagi Adam I dan Adam II dalam diri kita. Pada mulanya akan muncul ketidaknyamanan, sebagaimana DOMS. Namun lama kelamaan kita akan terbiasa dengan hal itu.
Tapi mengingat tujuan akhir, yakni membangunkan potensi diri yang jelas, konsisten dan terarah, proses tersebut layak diperjuangkan. Kata Brooks, kemampuan mengkonfrontasi diri tersebut, bisa memunculkan kohesi dan integrasi batin yang kuat. Karakter yang dikembangkan adalah tenang namun teguh dan berakar, sehingga tidak mudah terhempas badai dan hancur dalam kesulitan.
Proses mengedit karakter diri ini juga merupakan cara kita mencintai diri kita sendiri. Sebagaimana dikatakan Tulus pada lagunya:
“Jangan cintai aku apa adanya jangan. Tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan”. [*]
https://www.mnctrijaya.com/news/detail/68644/opini-mengedit-karakter-konfrontasi-dengan-diri-sendiri