April 25, 2026

Oleh Leni Marlina

(UNP Padang, PPIPM-Indonesia, PPIC, ACC SHILA, SatuPena Sumbar, KEAI, Littalk-C, E4LC, Trans_PC, PLS, WPM, Komunitas Mutiara Sastra: KMS)

Setelah menikmati puisinya, mari kita bicarakan tentang puisi “Lara Titian Cerita” karya Edi S. Febi ini. Begitu membacanya, rasanya kita diajak berjalan perlahan di atas sebuah titian—rapuh, tapi penuh makna. Titian ini bukan sekadar jembatan biasa; ia simbol perjalanan hidup, tempat kita bertemu harapan dan kenyataan. Ingat kata Roland Barthes: “A text is a tissue of quotations drawn from the innumerable centres of culture”—artinya, teks itu hidup, dan di sini, puisi ini benar-benar hidup di antara pengalaman pribadi dan universal kita semua!

Sekarang, perhatikan baris-baris pendeknya. Luar biasa, karena setiap jeda membuat kita merasa napas tertahan—seperti ikut menunggu sesuatu yang tak pasti. Ini mengingatkan kita pada Heidegger dan konsep Dasein, di mana kita selalu “being-in-the-world”, hadir sepenuhnya dalam pengalaman nyata. Puisi ini membawa kita merasakan kesedihan, kehilangan, dan penantian secara langsung. Kita benar-benar berdiri di titian itu, menatap kosong ke ujungnya, menunggu.

Dan simbolismenya! Malam, hujan, kenangan—ini bukan sekadar latar. Malam menjadi saksi, hujan membersihkan atau malah menyayat kenangan, dan kenangan itu sendiri… wow, itu benar-benar menusuk hati. Kristeva bilang ini soal “abjek”—luka dan kesedihan yang memaksa kita menghadapi kerapuhan diri. Puisi ini tidak menutupi luka, justru membiarkan kita merasakannya.

Nah, lihat juga cara penyair menulis “kau” dan “aku” secara vertikal. Ini genius! Memberi ruang visual, membuat jarak emosional terlihat. Baris “aku diam di ujung titian, menunggu keajaiban”—disinilah harapan muncul, tipis tapi nyata. Paul Ricoeur bilang, narasi membantu memberi makna pada peristiwa dalam hidup kita. Nah, puisi ini seperti itu: walaupun kita terluka, ada makna di ujung perjalanan.

Dan gaya bahasanya—sederhana tapi kuat. Seperti yang Ezra Pound bilang: “direct treatment of the thing”. Tidak ada kata-kata berlebihan, semua yang ditulis terasa hidup, nyata, dan menghujam. Kita ikut merasakan tiap langkah di atas titian itu, ikut berdiri di tengah hujan dan kenangan yang menyayat.

Kesimpulannya, puisi “Lara Titian Cerita” ini bukan sekadar cerita sedih. Ia adalah perjalanan batin yang membuat kita merenung, menunggu, dan menaruh harapan—meski hanya seberkas kecil. Puisi ini mengajarkan kita bahwa lara itu bukan akhir, tapi ruang untuk memahami, merenung, dan membuka diri terhadap kemungkinan baru.

REFERENSI

Barthes, R. (1975). The pleasure of the text (R. Miller, Trans.). Hill and Wang.
https://archive.org/details/pleasureoftext0000bart

Eliot, T. S. (1920). The sacred wood: Essays on poetry and criticism. Methuen.
https://www.gutenberg.org/ebooks/57795

Heidegger, M. (1962). Being and time (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). Blackwell.
https://archive.org/details/beingtime0000heid

Kristeva, J. (1982). Powers of horror: An essay on abjection (L. S. Roudiez, Trans.). Columbia University Press.
https://archive.org/details/powersofhorrores00kris

Pound, E. (1935). Make it new. Alfred A. Knopf.
https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.185999

Ricoeur, P. (1984). Time and narrative (K. McLaughlin & D. Pellauer, Trans., Vol. 1). University of Chicago Press.
https://archive.org/details/timenarrative0001ricu

————————————–

LARA TITIAN CERITA

Puisi: Edi S. Febri

Ada kecewa
Tapi harus diterima

Memendam keinginan
Tak bisa menolak

Pilihan telah kau dapatkan
Rengkuh tangan yang entah milik siapa
Melabuh pada malam
Luruh penantian
Nyanyian sumbang untuk sebuah alasan

Bukan sekedar rasa
Ada hati yang bicara
Penantian terputus jalan

Bisik yang pernah terlantunkan
Senyap dihening hujan
Menyayat kenangan

kau
tak lagi menjadi bagian

aku
diam di ujung titian
menunggu keajaiban

Ada lara
Prahara sebuah cerita

GRS, 08 10 2025

—————-

Tentang Penulis: Edi S. Febri

Edi S. Febri lahir di Batang, Jawa Tengah, pada 6 Februari. Ia mengawali hobi menulis sejak duduk di bangku SMP, dan sejak itu menekuni dunia puisi dengan konsisten. Hingga kini, ribuan puisinya telah tercipta, dan karyanya terangkum dalam ratusan buku antologi bersama, serta satu antologi puisi tunggal berjudul METAMORFOSIS (Anara, 2021).

Selain menulis puisi, Edi juga menekuni cerpen meskipun tidak seproduktif puisinya. Pada Maret 2025, ia menerbitkan novel berjudul Nyanyian Pucuk Cemara, menandai langkah pentingnya dalam dunia prosa. Saat ini, Edi S. Febri aktif bekerja sebagai jurnalis, tetap menggabungkan kecintaannya pada kata-kata dengan profesi yang dijalaninya sehari-hari.

—————–

Tentang Reviewer

Leni Marlina — penulis, penyair, dan dosen di Universitas Negeri Padang (sejak tahun 2006), Sumatera Barat, Indonesia. Ia adalah Pendiri dan Ketua dari sejumlah komunitas sosial digital di bidang literasi, sastra, terjemahan dan wirausahawan kreatif pemula. Diantaranya komunitas Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat Indonesia (PPIPM-Indonesia), Poetry-Pen International Community (PPIC), Translation Practice Community (Trans-PC), English Language, Literature and Literacy Community (E4LC), Literary Talk Community (Littalk-C), World Children’s Literature Community (WCLC), Starcom Indonesia, dsb. Leni juga merupakan anggota aktif ACC Shanghai Huifeng International Literary Association (ACC SHILA), Asosiasi Penulis Indonesia (SatuPena – Sumbar), Penyala Literasi Sumbar (PLS), World Poetry Movement (WPM) Indonesia, dsb.