Cerpen: Leni Marlina
–
Setiap malam, di terminal kecil yang nyaris terlupakan, selalu ada satu lampu yang tetap menyala: lampu gerobak mi ayam milik Pak Maman. Bukannya ia tidak ingin pulang dan beristirahat. Ia hanya takut jika malam itu ia menutup gerobaknya, Riko—anaknya—pulang saat ia tak ada. Lima tahun menunggu bukan waktu yang sebentar. Lima tahun yang mencabik-cabik hatinya perlahan.
Hujan turun gerimis, membasahi atap terminal yang karatan. Bau tanah basah bercampur aroma kaldu dari gerobak tua “Mi Ayam Harapan”—aroma yang dulu selalu membuat Riko pulang cepat dari sekolah.
Pak Maman mengaduk kuah dengan gerakan lambat. Tangannya bergetar, bukan karena dingin, tetapi karena rindu yang menumpuk tanpa batas.
Sejak Riko pergi karena pertengkaran, Pak Maman tidak pernah lagi marah, tidak pernah lagi meninggikan suara. Satu-satunya suara keras adalah suara penyesalan yang menggaung di kepalanya setiap malam:
“Seandainya dulu Ayah bisa sedikit lebih sabar… .”
Ia menatap kursi kecil di depan gerobak. Kursi di mana Riko dulu duduk sambil mengaduk mi ayam tanpa izin. Kursi yang kini penuh hujan, penuh debu, penuh kenangan yang menyiksa.
Saat hujan mulai reda, langkah tergesa terdengar dari ujung terminal. Seorang pemuda muncul. Baju basah, wajah pucat, tubuhnya kurus sekali seperti daun yang kehilangan musim.
“Pak… maaf… saya… boleh makan? Saya… nggak punya uang… .”
Suara itu seperti suara seseorang yang sudah lama tidak diperlakukan baik. Tanpa bertanya apa-apa, Pak Maman langsung menyalakan kompor kembali.
“Duduk, Nak. Uang belakangan. Perut dulu.”
Pemuda itu duduk, tetapi matanya tidak berani menatap gerobak. Perlahan ia mengusap wajahnya yang penuh luka hidup.
“Namamu siapa?” tanya Pak Maman lembut.
Pemuda itu hanya berbisik, “Fajar.”
Suaranya serak. Seperti nama itu pun terasa asing baginya.
“Ayahmu kerja apa?” tanya Pak Maman lagi.
Fajar membeku.
“Ayah?”
Ia tertawa kecil—tawa yang tidak punya kebahagiaan, hanya tawa hambar.
“Saya bahkan… nggak yakin Ayah saya mau lihat saya. Saya berubah banyak, Pak. Saya bukan siapa-siapa lagi.”
Pak Maman memandangnya lama. Hatinya menjerit. Riko… apakah kamu seperti ini sekarang? Kelaparan? Hancur? Takut pulang? Ia meletakkan mangkuk mi ayam di depan Fajar dengan tangan gemetar.
“Anak mana pun berhak pulang,” katanya pelan. “Bahkan jika ia merasa tidak layak.”
Fajar menunduk. Air matanya jatuh ke mangkuk. Saat sedang makan, Fajar membaca papan kecil di gerobak:
“Untuk Riko, anak yang selalu Ayah tunggu.”
Ia berkedip pelan.
“Riko…?” suaranya lirih. “Siapa itu, Pak?”
Pak Maman tersenyum samar. “Anakku.”
“Nama Ayahnya siapa?”
“ Maman,” jawab Pak Maman jujur.
Gerobak tiba-tiba sunyi. Uap mi ayam berhenti terasa hangat. Hujan terdengar lebih keras dari sebelumnya. Fajar menatap wajah Pak Maman —wajah tua penuh keriput dan mata lelah. Ada seseorang di masa lalunya yang memiliki mata seperti itu… tetapi lebih kuat… lebih keras…
“Ayah saya…” bisiknya, “namanya Maman juga.”
Mi ayam di tangan Pak Maman hampir jatuh.
Detak jantungnya memekakkan telinga.
“Fajar,” katanya pelan, hampir berbisik, “bolehkah Ayah lihat wajahmu lebih dekat?”
Fajar mendongak perlahan. Mata itu—Bentuk alis itu—Cara ia menahan tangis—
Semua terasa seperti potongan kenangan yang tersisa di hati tua itu. Fajar mengangkat kepala perlahan. Dan di balik luka, lelah, dan kepucatan…ada mata yang sangat ia kenal. Mata yang dulu meminta uang jajan. Mata yang dulu menangis saat jatuh dari sepeda. Mata Riko.
“Riko…?” suara itu pecah, gugur bersama hujan.
Fajar kaget dan menjatuhkan mangkuk dan tangisnya pecah.
“Yah… aku minta maaf… Aku takut pulang… Aku takut Ayah nggak kenal aku lagi…”
Pak Maman memeluknya, memeluk jiwa yang ia kira hilang selamanya.
“Anakku… Ayah pun berubah. Makanya kamu tak mengenali Ayah. Tapi Ayah tidak pernah… sedetik pun… berhenti menunggumu.”
Air mata mengalir seperti hujan pertama setelah kemarau panjang. Malam itu terminal menjadi rumah yang paling hangat.
Ketika mereka masih menangis dalam pelukan, seorang petugas medis datang tergesa sambil membawa map basah oleh hujan.
“Pak Maman?” katanya.
Pak Maman melepaskan pelukan, menatap dengan mata sembab.
“Ada kabar… tentang Riko.”
Fajar menunduk. Ia menunggu kabar itu seperti menunggu vonis. Petugas membuka map.
“Kami… menemukan Riko tadi pagi.”
Pak Maman menggenggam tangan Fajar erat-erat.
“Bagaimana kondisi anak saya? Dia baik-baik saja, kan?”
Petugas itu meneteskan air mata. Sesuatu yang jarang dilakukan orang berseragam.
“Maaf, Pak…Riko ditemukan… di bantaran sungai… Ia meninggal… kemungkinan sejak dua hari lalu. Sekarang masih di rumah sakit menunggu keputusan visum.”
Dalam pandangan Pak Maman, dunia runtuh tanpa suara. Mangkuk-mangkuk di gerobak tak lagi terlihat. Lampu terminal terasa seperti lilin berkabung. Hujan kembali turun, deras—seolah langit pun ikut berduka. Pak Maman membeku. Tubuhnya limbung.
“Tidak… Riko baru saja pulang… Dia di sini… Dia bersama Ayah…”
Ia menoleh pada Fajar dengan mata penuh panik dan harapan terakhir yang tersisa.
Fajar menggigit bibirnya hingga berdarah.
“Pak… aku… bukan Riko.”
Suaranya nyaris tidak terdengar.
“Aku cuma anak yang gagal pulang… yang kehilangan ayah… Dan aku ingin… ingin sekali Ayah seperti Bapak… .”
Tangis Pak Maman pecah seperti anak kecil. Bukan hanya karena kehilangan Riko, tetapi karena ia baru merasakan sesuatu yang lebih berat: ia baru saja mencintai seorang anak… yang bukan anaknya… di saat ia tahu anak kandungnya telah pergi selamanya.
Namun ia tiba-tiba memeluk Fajar kembali—erat, kuat, penuh luka.
“Nak…” katanya dengan suara hancur,
“Kalau aku tidak bisa memeluk Riko lagi… biarkan aku memelukmu… karena malam ini… kamu menyelamatkan ayah yang kehilangan semuanya…”
Fajar menangis keras dalam pelukan itu. Dan di tengah terminal tua yang basah oleh hujan dan air mata, dua jiwa yang sama-sama kehilangan menemukan satu-satunya hal yang masih bisa menyelamatkan mereka: menjadi rumah bagi satu sama lain, ketika rumah yang mereka cari tak akan pernah kembali.
Tiba-tiba hujan turun bertambah deras, petir menyambar, listrik padam, tulisan “Mi Ayam Harapan” di gerobak tua tidak kelihatan, terminal menjadi gelap. Tapi Pak Maman dan Fajar merasa seolah masih ada cahaya terang dan hangat mengelilinginya.