April 25, 2026

Mini Journal
Written by Anna Keiko

At dawn’s first light, I open my eyes to the world’s embrace.
The light unfolds, bit by bit, painting the scene with gentle grace.

Golden chrysanthemums glisten, adorned with dewdrops so bright,
I long to sip their nectar, to savor life’s pure delight.

The vibrant vitality they exude erases my memory’s trace,
Of yesterday’s hospital wanderings, lost in a somber space.

Yet, an uncontainable zest wells up within my breast,
A testament to the wonderful, unspoken bond between man and nature’s quest.

When birds chirp outside my window, their melodies a sweet refrain,
I yearn to decipher their language, to grasp the secrets they contain.

Perhaps they celebrate the host’s return, their joy a resounding cheer,
For on the balcony, food awaits, a daily treat they hold dear.

Days of feeding have taught them gratitude, a simple yet profound truth,
They frolic and play, pecking here, sniffing there, in carefree youth.

Sometimes their playful antics rouse me from my dreamy slumber,
A shared joy between lives, a moment of pure wonder.

But when I turn to the net, the war’s escalation fills me with dread,
Poets shout and protest, their voices laden with sorrow’s thread.

I’m saddened yet powerless, for I cannot change the tide,
Everyone knows war is a duel when politics has failed to guide.

How can a few lines of verse alter the grim reality’s face?
Yet, sympathy remains humanity’s warmth, a gentle embrace.

Thinking of the little lives lost in the war’s devastating wake,
I turn to the birds for counsel, but they too have taken flight.

June 26th, 2025
——————

Jurnal Mini
Ditulis oleh Anna Keiko
Penerjemah: Rizal Tanjung

Saat fajar menyingsing, aku membuka mataku untuk menikmati pelukan dunia.
Cahaya itu terungkap, sedikit demi sedikit, melukis pemandangan dengan keanggunan yang lembut.

Krisan emas berkilauan, dihiasi dengan tetesan embun yang begitu cerah,
Aku ingin menyesap sarinya, untuk menikmati kenikmatan hidup yang murni.

Vitalitas yang mereka pancarkan menghapus jejak ingatanku,
Pengembaraan di rumah sakit kemarin, hilang dalam ruang yang muram.

Namun, semangat yang tak tertahankan membuncah dalam dadaku,
Sebuah bukti ikatan yang luar biasa dan tak terucapkan antara manusia dan pencarian alam.

Ketika burung berkicau di luar jendelaku, melodi mereka adalah refrain yang merdu,
Aku ingin mengartikan bahasa mereka, untuk memahami rahasia yang mereka miliki.

Mungkin mereka merayakan kepulangan tuan rumah, kegembiraan mereka adalah sorak sorai yang menggema, Karena di balkon, makanan menanti, suguhan harian yang mereka sayangi.

Hari-hari memberi makan telah mengajarkan mereka rasa syukur, kebenaran yang sederhana namun mendalam,
Mereka bermain-main, mematuk di sini, mengendus di sana, di masa muda yang riang.

Terkadang kejenakaan mereka yang menyenangkan membangunkanku dari tidurku yang melamun,
Kegembiraan bersama di antara kehidupan, momen keajaiban murni.

Tetapi ketika aku beralih ke internet, eskalasi perang membuatku takut,
Para penyair berteriak dan memprotes, suara mereka sarat dengan benang kesedihan.

Aku sedih namun tak berdaya, karena aku tidak dapat mengubah arus,
Semua orang tahu perang adalah duel ketika politik gagal membimbing.

Bagaimana beberapa baris syair dapat mengubah wajah kenyataan yang suram?
Namun, simpati tetap menjadi kehangatan manusia, pelukan yang lembut.

Memikirkan nyawa-nyawa kecil yang hilang akibat perang yang menghancurkan,
Saya meminta nasihat kepada burung-burung, tetapi mereka juga telah terbang.

26 Juni 2025