Puisi Esai
Oleh Tb Mhd Arief Hendrawan
–
Dahulu, air adalah sahabat.
Ia mengalir lembut di urat-urat sungai, membersihkan, memberi kehidupan.
Di sekitarnya, janji peradaban ditegakkan; rumah-rumah berdiri, sawah-sawah menghijau.
Namun, manusia lupa, setiap persahabatan memiliki batas hormatnya.
Hutan, paru-paru yang setia menampung nafas air, perlahan dianggap tak lebih dari stok kayu, ditebang tanpa jeda, dilucuti tanpa ampun.
Bukit-bukit telanjang, dada bumi dibiarkan terbuka. Kota-kota membesar, bukan lagi tumbuh, melainkan melahap.
Semua pori-pori tanah yang seharusnya menyerap tangisan langit, kini disemen, dibeton, ditutup rapat.Air menyaksikan. Ia mencatat dalam keheningan yang lama.
—-000—
Audit Dosa dan Kemarahan yang Terkumpul
Di mana nurani saat kita membuang sampah, bukan pada tempatnya, melainkan ke jantung alirannya?
Plastik, kaca, sisa-sisa kesenangan sesaat; mereka menumpuk, menjadi bendungan buatan yang angkuh.
Lalu datang para penguasa modal, yang membeli lembah, menimbun rawa, dan mendirikan menara kaca di atasnya.
Mereka mengusir air dari rumahnya yang alami—tempat resapan—mengubahnya menjadi kolam renang pribadi atau basement mewah.
Ini bukan semata-mata hujan yang deras. Ini adalah kalkulasi.
Tiap sentimeter kubik air yang tidak dapat meresap karena keserakahan manusia, kelak akan menjadi palu godam yang menghantam balik.
Alam tak pernah menagih hutang tunai. Ia menagih dalam bentuk murka yang terakumulasi.
—-000—
Dialog Saat Arus Membawa Petaka
Malam itu, air bah tak lagi bersuara lirih.
Ia datang meraung, berderap, membawa sertanya bukan hanya air, tapi balok kayu yang kita curi, lumpur dari bukit yang kita telanjangi, dan segala macam sampah yang kita janji untuk urai.
Musibah ini adalah dialog paling jujur antara alam dan manusia.
Air berkata: “Kalian menghancurkan rumahku, maka aku datang mengambil rumah kalian.”
Air berkata: “Kalian menyumbat jalanku, maka aku datang membuka jalanku dengan paksa.”
Wajah-wajah panik, teriakan minta tolong, dan ratapan yang mengambang di atas air keruh.
Baru saat ini, di tengah bencana, kita sadar betapa rapuhnya beton dan betapa kecilnya uang yang kita kumpulkan, di hadapan hukum gravitasi dan ekologi.
Nurani tersentak, bertanya dengan suara parau: “Mengapa kita baru sadar di tengah air, setelah semua lenyap?”
—-000—-
Rekonsiliasi Nurani
Ketika air surut, yang tersisa hanyalah duka, puing, dan lumpur yang dingin. Lumpur itu adalah saksi bisu dari keserakahan kolektif.
Ia bukan hanya lumpur, ia adalah amarah yang mengering, siap menjadi debu yang menyesakkan di musim kemarau berikutnya.
Kita membangun lagi, tentu saja.
Namun, yang paling mendesak untuk dibangun bukanlah rumah baru, melainkan nurani yang baru.
Musibah ini adalah kesempatan terakhir bagi kita untuk melihat:
Bukan alam yang kejam, tapi kita yang berlaku curang pada keseimbangan.
Air bah akan datang lagi.
“Apakah kita akan menyambutnya dengan tumpukan sampah dan hutan yang gundul?”
“Atau dengan tangan terbuka, dengan hati yang sadar, dan dengan sungai yang kembali dihormati?”
Pilihlah. Sebab air, kini, hanya menunggu jawaban kita.
Musibah saat air bah murka, adalah air mata bumi yang menagih janji tanggung jawab.