February 9, 2026

Cerpen Anto Narasoma

NENEK Sumirah terengah-tengah membawa dagangannya. Ia menjual kue tradisional yang ia kemas ke dalam kantong plastik. Harganya hanya Rp 5 ribu per kantong.
—–
Tapi hari itu dagangannya tidak banyak yang laku. Karena itu di dalam keranjangnya, masih banyak tersisa kantong-kantong plastik berisi kue dagangannya.

Ia berhenti lima meter dari pintu masjid tempatku salat. Ia tampak kelelahan. Tiap orang yang lewat di jalan itu, ia tawarkan dagangannya. Tapi belum seorang pun yang berminat membeli kue-kue dagangan Nenek Sumirah.

“Ya Allah, limpahkan rezeki-Mu ke padaku. Aku ingin membeli obat untuk cucuku yang sakit,” demikian Nenek Sumirah berdoa. Meski suaranya tidak terdengar jelas, tapi di telingaku tegas sekali permintaannya ke pada Allah.

Masya Allah. Hatiku tergetar mendengar suara lirih Nenek Sumirah tersebut. Apa yang harus kuberi ke pada nenek ini? Sementara aku sendiri tak mempunyai uang.

Hanya ada uang di tabunganku. Itu pun kukumpulkan untuk memenuhi niatku pergi umroh ke Tanah Suci. Ya Allah, apa yang harus kuperbuat?

Sudah sejam lebih Nek Sumirah beristirahat sembari menawarkan dagangannya ke pada para jemaah masjid yang lewat. Tapi belum ada seorang pun yang berminat membelinya.

Tak lama di antaranya, lewat seorang anak berusia 10 tahun. Anak itu mengenakan kopiah dan baju muslim putih. Wajahnya bercahaya. Anak itu menghampiri Nenek Sumirah.

“Nek, saya membeli seperuh dagangan nenek. Berapa sekantong kue yang nenek jual ini?” tanya anak laki-laki itu.

“Lima ribu rupiah, Cu?” jawab Nenek Sumirah. Orang tua itu memperhatikan si anak. “Kau mau membeli separuh dari daganganku, Nak?” tanya Nenek Sumirah dengan kening berkerut.

Anak itu tersenyum. “Iya Nek. Coba nenek hitung, berapa uang yang harus kubayar,” ujar anak itu.

Meski ragu, tapi Nenek Sumirah segera menghitung jumlah kantong kue yang hendak dibeli anak laki-laki ini. Karena itu Nek Sumirah sebentar-sebentar melihat wajah anak tersebut. Anak itu hanya tersenyum.

“Ada dua puluh bungkus, Nak?” ujar Nek Sumirah.

“Jadi uang yang harus kubayar berarti Rp 100 ribu, Nek?” tanya anak itu.

“Iya, Nak”.

Anak itu segera mengeluarkan uang dari sakunya. Lalu ia berkata, “Nek, ini uangnya. Tapi kue-kue itu tetap kuberikan ke pada nenek agar bisa dijual kembali”.

Si nenek kaget mendengar itu. “Lho, kok kau berikan lagi ke nenek, Nak?”.

“Iya tidak apa-apa, Nek. Saya ingin agar Nenek bisa memperoleh uang lebih banyak,” ujar anak itu.

Hati Nenek Sumirah gembira setengah mati. Sejak pagi selepas salat Subuh ia berdoa agar kue-kuenya laris terjual. Karena keuntungannya bisa digunakan untuk mengobati cucunya yang sakit asma. Obat semprot asma ke dalam kerongkongannya sudah habis. Makanya Nenek Sumirah gembira sekali.

Subhanallah. Setelah ia menyerahkan uang Rp 100 ribu ke pada Nenek Sumirah, anak pun berlalu. Namun sebelum jauh, anak itu kupanggil.

“Nak kau membeli kue nenek itu, tapi setelah kau bayar, kau berikan lagi ke dia?” tanyaku ke pada si anak.

“Iya, Pak,” jawabnya tersenyum.

“Uang yang kau berikan ke nenek itu pemberian orangtuamu, Nak?” tanyaku.

“Iya Pak. Itu uang jajan yang kutabung. Orangtuaku memberi Rp 10 ribu sehari, ketika saya mau ke sekolah, Pak,” jawab anak tersebut.

“Lha, kok kau berikan begitu saja ke nenek tersebut?” tanyaku lagi. Aku begitu penasaran.

‘Pak, uang itu memang penting bagi saya. Tapi ketika melihat nenek itu, ternyata ia lebih membutuhkan ua tersebut. Karena itu dengan segala keikhlasan uang itu saya belikan kue yang nenek itu jual, kemudian kuenya saya berikan ke dia lagi,” ujar anak itu.

Masya Allah. Apa maksud anak ini memberikan uangnya dengan cara seperti itu?

Tampaknya anak laki-laki itu bisa membaca perasaanku. Ia tersenyum lembut. “Nak, uang yang diberikan oleh orangtuamu itukah untuk kebutuhanmu. Kok kau berikan ke nenek penjual kue tersebut?” tanyaku.

“Pak, menurut ustadz di tempat saya mengaji, uang itu memang bermanfaat bagi kebutuhan saya. Namun ketika saya melihat orang susah, ternyata uang itu lebih dibutuhkan orang lain. Alangkah eloknya jika uang itu saya berikan ke orang yang lebih membituhkannya. Allah SWT tidak tidur. Ia melihat apa yang saya perbuat. Apabila saya membutuhkan rezeki yang sama, Insya Allah dia akan mengembalikan rezeki yang saya berikan ke nenek tersebut,” jawab anak itu.

Subhanallah, anak ini demikian cerdas merinci jalan kehidupan. Anak siapa dia?

“Kalau kau mau jajan, berarti kau sudah tidak punya uang lagi si sekolahan, Nak?”.

“Masih ada, Pak. Setiap saya mau ke sekolah, ibuku sudah menyiapkan bekal untuk saya menikmatinya,” ujar si anak.

Anak itu pun pamit. Ia pergi menyandang tas sekolahnya. Tampaknya ia baru pulang dari sekolah.

Cuaca siang itu cukup panas. Karena sudah memasuki fase musim kemarau. Namun sesekali hujan masih turun meski tidak lebat dan mendatangkan banjir.

Aku segera menghampiri Nenek Sumirah yang sibuk menawarkan dagangannya ke orang-orang yang lewat di jalan itu. Tampaknya baru ada dua hingga tiga orang yang membeli kuenya.

“Bagaimana Bu, anak tadi telah membeli kue ibu. Kemudian ia membayar dan kuenya diberikan ke ibu lagi. Sikap anak itu istimewa sekali, ya?” ujarku ke pada Nenek Sumirah.

“Benar Nak. Anak itu sangat istimewa. Ia mampu menelaah baik buruk perilaku kita,” kata Nenek Sumirah.

“Iya. Tadi saya juga bertanya ke anak itu. Ia lebih memperhatikan kebutuhan orang lain yang lebih membutuhkan biaya hidup. Tak banyak anak seusia dia yang mengerti dengan nasib orang lain,” kataku.

“Makanya ibu bersyukur ketemu anak kecil yang berpandangan luas tentang baik buruk kehidupan ini,” ujar Nenek Sumirah tersenyum. Giginya hanya tinggal dua di bagian bawahnya saja.

Aku bertanya tentang latar belakang Nenek Sumirah yang sudah berusia sekitar 70 tahunan itu masih sibuk berjualan setiap hari.

“Saya menghidupi dua cucu, Nak. Yang satu baru tamat SMA. Yang kecil berusia 14 tahun, Nak. Ia anak perempuan yang menderita menyakit asma dan jantung bocor. Harusnya jantungnya dioperasi. Tapi nenek tak mempunyai biaya, Nak,” ujar Nenek Sumirah. Dari matanya mengucur airmata sedih.

Aku jadi terharu mendengar latar belakang kehidupan nenek itu. “Orangtua anak itu ke mana, Bu?” tanyaku.

Nenek Sumirah mengatakan, ayahnya meninggal dunia sejak usia anak itu tiga tahun. Sedangkan sekarang, ibunya ditahan di Malaysia karena membunuh majikannya. “Kok ia ditahan, Bu,” tanyaku.

“Ia terpaksa harus membunuh laki-laki itu karena akan memperkosa diri anakku itu,” kata Nek Sumirah. Raut wajahnya kelam menahan sedih.

Hatiku tergetar mendengar itu. Ah, uang tabunganku yang rencananya akan kugunakan untuk umroh, harus kekeluarkan. Harus kuberikan untuk biaya operasi cucu Nenek Sumirah. Ini harus. Sebab ketika kecil dulu, aku pernah diberi pandangan tentang keikhlasan oleh seorang laki-laki tua.

“Ketika kita memberi ssseorang disaat kita ada, itu biasa. Karena saat itu kita sedang memiliki banyak harta. Tapi bisakah kau membantu orang disaat kau tidak memiliki sepeser uang pun?” kata orang tua itu.

Aku tertegun mendengar itu. Hatiku pun tergerak. Barangkali rencanaku untuk umroh harus kutunda dahulu. Allah tidak akan tidur. Apabila uang simpananku itu kuberikan ke Nenek Sumirah untuk biaya operasi cucunya, itu akan lebih baik. Insya Allah Dia akan mengganti dengan rezeki yang lebih besar. (*)

Palembang,
25 September 2020