May 26, 2026

Oleh: Tb Mhd Arief Hendrawan

Seorang wanita berhijab duduk di tepi danau saat senja, memandangi cahaya matahari yang memantul di air dengan wajah teduh dan damai.

“Cinta sejati tidak selalu harus dimiliki. Kadang ia hadir untuk mengajarkan kita arti ikhlas dan kekuatan hati.”

Senja turun perlahan di tepi danau. Langit berwarna lembayung, memantulkan cahaya lembut ke permukaan air yang beriak kecil. Khalida duduk di bangku kayu tua yang mulai lapuk, menatap tenang ke arah air yang memantulkan bayangan dirinya. Wajahnya tampak damai, namun dalam hati masih tersimpan kisah yang pernah membuatnya belajar tentang makna cinta dan ikhlas.

Ia pernah mencintai seorang lelaki bernama Rahmadi. Sosok sederhana yang dikenalnya di pengajian kampus. Pertemuan mereka bermula dari kegiatan dakwah, saling bantu dalam urusan kecil, hingga akhirnya tumbuh rasa yang tak disadari. Cinta itu datang perlahan, tanpa janji, tanpa kata manis, hanya lewat perbuatan yang tulus.

Rahmadi bukan tipe pria yang banyak bicara. Ia menunjukkan rasa sayangnya lewat tindakan. Saat Khalida sakit, Rahmadi datang membawa bubur hangat dan menitipkan do’a agar cepat sembuh. Saat kegiatan kampus melelahkan, ia hadir memberi semangat. Begitulah cara Rahmadi mencintai, sederhana tapi penuh makna.

Namun kehidupan tak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Setelah lulus kuliah, Rahmadi diterima bekerja di luar negeri. Khalida bahagia sekaligus sedih. Ia meyakini bahwa jarak tidak akan menghapus cinta yang berlandaskan do’a.
Namun waktu membuktikan sebaliknya. Pesan-pesan dari Rahmadi mulai jarang datang, dan kabar pun makin lama menghilang.

Hingga suatu hari, teman lama mengirim kabar. Rahmadi telah menikah dengan rekan kerjanya di luar negeri. Tanpa penjelasan, tanpa pamit, tanpa pesan terakhir. Dunia Khalida seolah berhenti. Namun air matanya tidak menetes. Ia hanya diam lama, menatap mushaf Al-Qur’an yang terbuka di pangkuannya. Dalam diam itu, ia berbisik pada Allah, memohon kekuatan untuk menerima segalanya.

Hari-hari berlalu. Luka itu perlahan sembuh. Khalida menyelesaikan kuliah, lalu mengajar di sebuah madrasah kecil di pinggir kota. Ia mengajari anak-anak membaca Al-Qur’an, menuntun mereka mengeja huruf-huruf suci dengan sabar. Di tengah tawa dan suara riuh anak-anak, Khalida menemukan kembali ketenangan. Ia merasa lebih hidup, lebih damai.

Setiap kali menatap wajah polos murid-muridnya, ia sadar bahwa kebahagiaan sejati bukan tentang memiliki seseorang, tapi tentang memberi manfaat. Malam hari, Khalida masih berdoa.

Namun kini bukan lagi untuk meminta cinta lama kembali, melainkan agar orang yang pernah ia cintai mendapatkan bahagia sesuai takdirnya.

Beberapa tahun berlalu. Khalida menjadi pribadi yang kuat dan penuh kedewasaan. Di tengah rutinitasnya di madrasah, suatu siang datang seorang tamu. Lelaki itu berjalan pelan dengan membawa seorang anak kecil di pelukannya, diikuti seorang perempuan berhijab sederhana di belakangnya.

Khalida mengenal wajah itu. Rahmadi berdiri di depannya dengan senyum tenang. Mereka berbincang ringan tentang madrasah dan kegiatan sosial. Tidak ada perbincangan masa lalu, tidak ada tanya tentang yang telah berlalu. Hanya rasa saling menghargai di antara dua hati yang pernah terhubung.

Sebelum pergi, Rahmadi menatap Khalida dan berkata pelan, “Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupku.”
Khalida tersenyum lembut dan menjawab, “Semua sudah menjadi bagian dari takdir. Tidak ada yang sia-sia selama niatnya baik.”

Khalida menunduk sejenak, lalu berpamitan. Anak kecil di pelukannya melambaikan tangan, dan Khalida membalas dengan senyum penuh kedamaian. Saat mereka berlalu, angin sore berhembus lembut, membawa aroma tanah basah setelah hujan.

Khalida kembali duduk di bangku kayu tua. Di hadapannya, danau memantulkan cahaya jingga dari matahari yang mulai tenggelam. Dalam hatinya tak ada lagi luka. Ia tahu bahwa cinta sejati tidak harus dimiliki untuk menjadi abadi. Ikhlas bukan berarti berhenti mencinta, tetapi menerima dengan lapang segala yang telah Allah tulis.

Sore itu, di bawah langit yang berubah warna, Khalida merasa damai. Ia telah menemukan cinta paling tulus, cinta yang hidup di dalam keikhlasan.