May 23, 2026

Seruan Pastor Pius Heljanan MSC untuk Persatuan di Tengah Perbedaan

IMG-20260521-WA0009

http://info86news.com | Saumlaki – Pagi di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kamis (21/5/2026), berjalan tenang seperti biasanya. Di tengah suasana yang teduh itu, sebuah pesan sederhana namun tajam kembali disampaikan Pastor Pius Heljanan MSC, Kuasi Paroki Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran.

Pesan itu bukan sekadar refleksi iman. Ia hadir sebagai suara moral yang mengingatkan masyarakat tentang pentingnya menjaga persatuan di tengah kehidupan sosial yang perlahan dipenuhi sekat-sekat kepentingan.

“Bangunlah jembatan pemersatu, bukan tembok pemisah,” tulis Pastor Pius Heljanan MSC dalam renungan yang dibagikannya kepada umat.

Kalimat itu terdengar sederhana, namun mengandung kritik sosial yang dalam terhadap realitas kehidupan masyarakat dewasa ini.

Dalam refleksinya yang merujuk pada Injil Yohanes 17:20-26, Pastor Pius mengangkat doa Yesus, “Ut Omnes Unum Sint” atau “Supaya mereka semua menjadi satu.”

Menurutnya, doa tersebut bukan hanya seruan rohani, tetapi juga panggilan moral agar manusia mampu hidup dalam kasih, menghargai perbedaan, dan membangun kerja sama tanpa terpecah belah.

Ia menilai, kehidupan sosial saat ini justru memperlihatkan kecenderungan sebaliknya. Banyak orang berlomba membangun “tembok” demi kepentingan pribadi, kenyamanan kelompok, maupun ambisi diri.

“Saat ini orang berlomba membangun tembok pemisah demi kenyamanan diri dengan sikap ego, sombong, mau menang sendiri, mencari keuntungan diri, intoleransi dan lain-lain,” ungkap Pastor Pius.

Pernyataan itu menjadi refleksi kritis terhadap fenomena sosial yang kian terasa dalam kehidupan masyarakat, baik di lingkungan sosial, politik, maupun kehidupan sehari-hari.

Pastor Pius menegaskan, persatuan sejati tidak lahir dari dominasi maupun kepentingan sepihak. Persatuan hanya dapat tumbuh apabila dibangun di atas kasih dan kerendahan hati.

Di tengah perbedaan suku, pandangan, maupun kepentingan sosial, masyarakat menurutnya dipanggil untuk menjadi pribadi yang mampu merangkul, bukan menjauhkan. “Kita dipanggil untuk membangun jembatan pemersatu demi merangkul sesama,” tulisnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kedamaian sosial tidak tercipta dengan sendirinya, melainkan harus diperjuangkan melalui sikap saling menghargai dan kesediaan membuka ruang dialog.

Di akhir refleksinya, Pastor Pius Heljanan MSC mengajak umat dan masyarakat untuk tetap konsisten menjaga persatuan demi kedamaian dan persaudaraan bersama.
“Mari berkomitmen membangun persatuan dengan konsisten demi kedamaian dan persaudaraan,” pesannya.

Seruan itu terasa relevan di tengah kehidupan masyarakat yang sering kali mudah terpecah akibat perbedaan pandangan, kepentingan, maupun persoalan sosial lainnya.

Dari sebuah desa kecil di Lauran, pesan Pastor Pius Heljanan MSC hadir sebagai pengingat bahwa manusia pada akhirnya tidak dipanggil untuk membangun jarak, melainkan menghadirkan kasih yang mampu menyatukan sesama.(jk)