SKK Migas Dorong Keterlibatan Masyarakat Lokal di Proyek Masela
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki – SKK Migas mendorong keterlibatan masyarakat lokal dalam proyek strategis nasional Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, baik sebagai tenaga kerja maupun pelaku usaha yang dapat mendukung aktivitas industri migas.
Hal tersebut disampaikan Kepala Kelompok Kerja Pemberdayaan Masyarakat dan Pengembangan (PPM) SKK Migas Roy Widiartha dalam kegiatan buka puasa bersama yang digelar INPEX Masela Ltd bersama pemerintah daerah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Saumlaki serta jurnalis di Aula Hotel Galaxy Saumlaki, Kamis (12/3/2026).
Standar kompetensi tetap menjadi prioritas
Roy mengatakan harapan masyarakat untuk terlibat dalam proyek tersebut cukup besar.
Namun ia menegaskan keterlibatan tersebut harus tetap mengikuti standar kompetensi yang berlaku dalam industri migas.
“Kami sadar yang dipertaruhkan ini sangat besar sekali. Jangan sampai proyek gagal hanya gara-gara kita mengakomodir tanpa standar-standar yang baku,” ujarnya.
SKK Migas bersama INPEX, kata Roy, terus mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia lokal agar mampu bersaing dalam industri migas yang membutuhkan keahlian teknis.
“Kami mencoba mendorong tenaga kerja yang berpotensi untuk bisa dididik dan dilatih agar tidak hanya sekadar bekerja di pekerjaan kasar, tetapi juga bisa terlibat pada aspek teknis bahkan sampai ke level manajerial,” katanya.
Izin kawasan hutan telah terbit
Roy menjelaskan bahwa proyek Masela saat ini memasuki fase baru setelah pemerintah menerbitkan persetujuan pelepasan kawasan hutan pada bulan lalu.
“Alhamdulillah tahun ini kita ditandai dengan terbitnya persetujuan dari menteri untuk pelepasan kawasan di bulan lalu. Setelah penantian proses yang panjang, kami secara formal sudah bisa beraktivitas,” ujarnya.
Selain izin kawasan hutan, persetujuan terkait aspek lingkungan juga telah diterbitkan sehingga kegiatan proyek secara bertahap dapat mulai berjalan.
“Memang kami tidak boleh ada aktivitas tanpa dasar. Beberapa kewajiban terkait aktivitas di lapangan juga sudah dikoordinasikan dengan pemerintah daerah dan gubernur,” katanya.
Target produksi 2029
Pemerintah pusat, lanjut Roy, menargetkan proyek Abadi Masela dapat mulai beroperasi pada 2029.
“Pak Menteri Bahlil juga sangat mendorong agar 2029 bisa on stream, tetapi kami perlu dukungan semua pihak agar semuanya bisa berjalan lancar,” ujarnya.
Roy mengaku dalam kunjungannya ke sejumlah desa di Kepulauan Tanimbar, masyarakat menyampaikan harapan besar terhadap kehadiran proyek tersebut.
“Saya dua hari ini berkunjung ke Desa Latdalam, kemudian ke Desa Lermatang dan Bomaki. Secara prinsip mereka menyambut dan menunggu kapan proyek ini jalan, bahkan bertanya apa yang bisa mereka bantu,” katanya.
Peluang ekonomi bagi masyarakat
Menurut Roy, proyek Masela tidak hanya membuka peluang kerja langsung, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat.
Berbagai peluang usaha dapat berkembang seiring hadirnya aktivitas industri, seperti penyediaan logistik, konsumsi, pasokan makanan hingga penyediaan tempat tinggal bagi pekerja yang datang dari luar daerah.
“Dalam proyek itu dibutuhkan logistik, konsumsi, food supply, bahkan tempat tinggal bagi pekerja yang datang. Multiplier effect ekonominya sangat tinggi, di situlah peluangnya,” ujarnya.
Roy menambahkan bahwa tahun ini masih menjadi tahap evaluasi dan persiapan sebelum aktivitas proyek dilakukan secara lebih masif.
“Tahapan tahun ini lebih banyak kita melakukan evaluasi kondisi lapangan dan kondisi sosialnya. Tahun depan mungkin baru kita bisa melihat aktivitas yang lebih masif,” katanya menutup.(rls:joko)