“Nurani Kemanusiaan (Bagian 1): Akar Menulis Langit” – Kumpulan Puisi Karya Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumbar, ASM, ACC SHILA) ☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
/1/
Nurani Kemanusiaan: Akar Menulis Langit
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di dalam bumi yang kita tinggali bersama,
akar menulis langit dengan tinta yang tak kasat mata.
Setiap simpulnya menyimpan sejarah
yang tak dapat dibakar siapa pun juga,
karena ditulis dalam bahasa nurani manusia.
Kita—yang membaca dengan jiwa,
tahu bahwa yang tumbuh menjulang bukan hanya pepohonan,
melainkan kesadaran
bahwa cahaya tak bisa dipenjara
dalam kerangka kuasa.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/2/
Yang Tulus – Yang Bertunas
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tak perlu suara lantang
untuk membela yang benar.
Daun jatuh pun mendekap bumi
dengan segala kemuliaannya yang senyap.
Di sana,
pada garis halus antara kelam dan terang,
sejarah bernafas perlahan,
seperti embun yang menunggu fajar
tanpa memaksa cahaya datang lebih cepat.
Yang memegang pena mungkin
bisa mengubah tanggal,
menghapus nama,
menata kisah seolah tak ada luka.
Namun waktu—
ialah penjaga paling setia.
Ia tak tergesa,
tak terseret ambisi,
hanya mengalir
menyimpan butir-butir yang tak sempat dituliskan.
Kebenaran,
meski dirundung kabut dan diasingkan,
tetap setia menunggu.
Tak ia lawan dusta dengan pedang,
hanya dengan keteguhan
yang menumbuhkan pohon-pohon makna
dari tanah yang dulu diinjak tanpa ampun.
Dan kelak,
saat musim tiba,
bunga-bunga sunyi itu akan mekar
di taman pemahaman,
tanpa menyebut siapa salah siapa benar—
hanya menyuguhkan keindahan
bahwa yang tulus
akan tetap bertunas.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/3/
Detak yang Tak Diatur Jam
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Jam berdetak,
tapi kebenaran bernafas dalam dada
yang tidak tunduk pada angka.
Ia mengalir lembut,
melampaui logam dan aturan.
Kita adalah waktu yang melambat
agar tak kehilangan arti.
Langkah kita tak gegas,
namun menggores makna
pada bumi yang telah letih dikejar
oleh bayangan sejarah.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/4/
Tak Semua Buku Terbit
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Tak semua buku terbit
Beberapa tinggal di udara pagi,
pada embun yang tak pernah dikutip media.
Ia menyimpan hal-hal paling jujur—
kisah orang-orang kecil
yang tak disebut dalam pidato.
Kita membaca dengan napas,
bukan mata.
Kita simpan halaman-halaman itu
di lipatan jiwa,
agar suatu hari,
manusia tahu bahwa
kebenaran tumbuh seperti lumut—
pelan, gigih, tak terbakar.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/5/
Burung yang Bersarang di Dada Kita
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ada burung yang tak lahir untuk terbang,
melainkan untuk bersarang
di dada manusia.
Ia tak berkicau lantang,
tapi menggetarkan
tiap ruang sunyi.
Kita pelihara damai,
bukan karena kita lemah,
tapi karena kita tahu:
kedamaian bukan hadiah,
melainkan kerja seumur hidup
dari hati-hati yang tak mencari panggung.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/6/
Retakan Menjadi Cahaya
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Cermin tua itu retak.
Tapi justru dari situlah,
cahaya menemukan jalan.
Retakan bukan kehancuran,
tapi pintu bagi nurani keluar
dari penjara gema.
Kita berdiri di hadapannya
tanpa menyalahkan,
tanpa menunjuk.
Kita hanya ingin melihat
pantulan masa depan
yang tidak mencuri dari masa lalu,
melainkan menyapa
dengan wajah baru
yang jujur dan ramah.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/7/
Kita, Cahaya yang Tidak Melemah
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Kita bukan tangan yang ingin menggulingkan.
Kita adalah bisikan yang menumbuhkan.
Bukan karena kita ingin menang,
tapi karena kebenaran
adalah satu-satunya jalan
yang tidak pernah meninggalkan jejak luka.
Selama kita memilih hidup
dengan kasih,
menyuarakan dengan sabar,
dan menyentuh dengan lembut,
kita sedang merajut
syair dunia yang tak akan hilang
meski musim terus berpindah
dan sejarah berkali-kali ditulis ulang.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/8/
Sebelum Kata Menjadi Luka
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di celah yang belum dinamai,
sebelum kata menjelma luka,
dunia hanya suara samar
yang berusaha mengingat dirinya sendiri.
Kita, yang tak dilahirkan untuk menghakimi,
memilih diam yang menumbuhkan,
seperti akar yang menyusup ke dalam batu
dan tetap membawa air.
Bukan untuk membuktikan kebenaran,
tetapi untuk menjaga harap
agar tak hangus oleh keserakahan waktu.
Karena cinta yang paling dalam,
adalah yang tak pernah memaksa didengar,
hanya hadir sebagai tempat pulang.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/9/
Di Antara Debu dan Dada
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ada tempat yang tak ditulis di peta:
antara debu yang ditiup angin
dan dada yang masih menyimpan
napas orang-orang yang dilupakan.
Kita berjalan ke sana
bukan sebagai penyelamat,
melainkan sebagai pengingat
bahwa tak semua luka harus ditambal,
kadang cukup dikenang dengan kelembutan.
Karena kemanusiaan sejati
bukan tentang siapa yang benar,
tetapi siapa yang sanggup
menjadi tanah bagi yang roboh.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/10/
Benih yang Paling Tabah
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Benih paling tabah
tumbuh dari tanah yang tak diminta,
menyerap cahaya dari reruntuhan,
menjadi pohon diam
yang memberi teduh tanpa bertanya asal.
Kita bukan musim,
tapi ruang antara hujan dan harap.
Bukan tangan yang menunjuk,
melainkan embun
yang menyentuh luka
dengan kesabaran yang tak bisa dibeli.
Karena perdamaian sejati
adalah benih yang tak perlu panggung,
cukup ladang yang bersedia menerima.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/11/
Tangan yang Tidak Meninggi
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Ada tangan yang tak pernah diangkat,
namun menampung dunia yang runtuh.
Ia tak disebut dalam riwayat,
tapi menjadi lantai
bagi mereka yang jatuh
tanpa pernah dihitung.
Kita datang bukan sebagai suara,
melainkan gema
yang tetap hidup meski tak dijawab.
Kita tak berseru,
hanya menghamparkan dada
seperti tanah tua yang tahu
cara memeluk hujan.
Karena jiwa paling kuat
adalah yang sanggup merunduk tanpa kehilangan cahaya.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
/12/
Terus Belajar Menjadi Manusia
Puisi Oleh Leni Marlina
[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, Penyala Literasi Sumatera Barat, ASM, ACC SHILA]
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Di mana akhir berhenti menulis,
di sanalah awal memulai diam.
Bukan diam yang mati,
tapi diam yang mengandung segala cahaya
yang belum sempat disebut.
Kita bukan bayang,
tapi gema dari cahaya yang menolak dikhianati malam.
Langkah kita adalah doa
yang tidak memerlukan suara,
karena telah menjadi akar
dari bumi yang menolak dilupakan.
Ada luka yang tidak meminta balasan,
hanya dikenang dalam sebaris kelopak
yang gugur tanpa gaduh.
Dan kita,
yang merawat gugurnya,
menjadi pelindung bagi makna
yang dikhianati waktu.
Syair ini tidak hendak menang,
tidak hendak menyudutkan,
hanya ingin menjadi jembatan
antara luka dan pengertian.
Antara langit yang runtuh
dan tangan-tangan
yang masih ingin menjahitnya kembali
dengan cahaya kecil
yang tak pernah padam.
Bukan untuk dikenang.
Bukan untuk disanjung.
Tapi untuk tetap hidup
sebagai desah halus
di dada dunia
yang terus belajar
menjadi manusia.
Padang, Sumatera Barat, April 2025
———————————————
Info Singkat Tentang Penulis dan Kegiatannya:
Kumpulan puisi Leni Marlina di atas ditulis tahun 2025 dan belum pernah dipublikasikan di platform manapun sebelumnya. Karya ini diterbitkan pertama kali secara digital melalui portal literasi nasional suaraanaknegerinews.com pada tahun yang sama.
Leni Marlina adalah penulis, penyair, dan akademisi asal Sumatera Barat. Sejak tahun 2022, ia aktif sebagai anggota Perkumpulan Penulis Indonesia SATU PENA cabang Sumatera Barat. Di kancah internasional, ia terlibat dalam ACC Shanghai Huifeng International Literary Association, dan dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk komunitas tersebut. Pengalamannya dalam dunia penulisan juga mencakup keterlibatannya bersama Victorian Writers Association di Australia.
Sejak tahun 2006, Leni mengabdi sebagai dosen tetap di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang (UNP). Di luar kegiatan akademik, ia merupakan anggota tim redaksi media daring suaraanaknegerinews.com dan aktif menulis di berbagai platform sastra digital dan media nasional.
Beberapa puisinya dapat dibaca publik melalui tautan berikut:
https://suaraanaknegerinews.com/category/puisi-leni-marlina-bagi-anak-bangsa/page/3/
Selain menulis, Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin sejumlah komunitas berbasis digital yang berfokus pada bahasa, sastra, literasi, dan gerakan sosial, antara lain:
1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM-Indonesia (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat) https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia)
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community (Ling-TC)
6. Literature Talk Community (Littalk-C)
7. Translation Practice Community (PPIC)
8. English Language Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)
Melalui karya-karya dan komunitas yang dipimpinnya, Leni Marlina terus menyebarkan semangat literasi dan puisi sebagai medium reflektif, inspiratif, dan transformatif. Ia menjadi jembatan bagi dialog kreatif lintas budaya dan generasi di era digital yang terus berkembang.
Baca juga: