Nyanyian dari Tubir Tanimbar (3)
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di ujung timur yang dilupakan peta, di antara gugusan karang dan rahim laut tua, Tanimbar duduk seperti seorang ibu yang telah kehilangan dan melahirkan pada saat yang sama. Angin di sana bukan sekadar angin—ia adalah bisikan para leluhur yang menyelipkan mantera dalam helai rambut perempuan dan dalam diam seekor ikan.
Dan di antara ribuan suara itu, suara tentang seorang gadis selalu kembali lembut dan suci seperti embun yang belum disentuh pagi. Namanya Yuliana. Tapi bagi pulau ini, ia bukan sekadar nama. Ia adalah nyanyian yang disusun dari deru ombak, dari air mata camar yang patah sayap, dari kelopak kamboja yang gugur tanpa alasan di atas makam tak bernama.
Yuliana tidak lahir dari tubuh manusia biasa. Ia dilahirkan dari pasir yang dibuai mimpi, dari malam yang lupa lelap, dari karang yang menanti ombak dengan kesetiaan buta. Ia adalah anak laut—tapi lebih dari itu, ia adalah anak doa yang tak pernah selesai diucapkan.
Ketika ia berjalan, tanah tak berani retak. Ketika ia tertawa, awan menyingkir untuk memberi ruang pada matahari. Ia tidak bertanya tentang ayahnya, tidak pula menggugat langit. Ia hanya duduk di tepi dermaga, berbicara dengan nuri dan ikan-ikan kecil, menyanyikan lagu-lagu tanpa bahasa, yang entah bagaimana, dimengerti oleh semua makhluk.
Orang-orang menyebutnya anak Tuhan bukan karena ia ajaib, tapi karena cinta di matanya tak bisa dijelaskan dengan teologi mana pun. Ia memeluk siapa pun yang menangis, dan saat seorang ibu kehilangan bayinya di malam badai, Yuliana menghilang sebentar, lalu kembali membawa sehelai rambut bayi yang basah dan mengabarkan: “Ia sudah pulang, ke pelukan bintang.”
Ketika kota-kota datang membawa kamera dan mikrofon, ketika suara-suara asing menyebutnya fenomena, Yuliana hanya tersenyum. Ia pegang tangan perempuan berjas putih, dan berkata, “Kalau aku anak Tuhan, maka semua anak yang menangis di pelukan ibunya juga anak Tuhan. Bedanya hanya pada cara cahaya mencium kulit kita.”
Perempuan itu menangis. Kamera mati. Dunia digital bungkam. Tapi malam di Tanimbar mencatat semua itu, dalam bentuk hujan kecil yang turun bersama suara paus yang muncul di teluk untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun.
Lalu Yuliana hilang. Pada suatu pagi yang terlalu sunyi untuk musim bunga. Tak ada jejak. Hanya bekas telapak kaki kecil yang menuju laut, dan aroma kelapa muda yang tertinggal di angin.
Tapi ia tidak benar-benar pergi.
Kini, setiap kali seorang anak menangis dalam tidur, atau seorang wanita tua menatap laut terlalu lama dari ujung dermaga, orang-orang tahu: Yuliana sedang lewat. Ia menyapu malam dengan sayap cahaya. Ia duduk bersama luka-luka, dan menyanyikan lagu yang hanya bisa didengar oleh hati yang belum mati sepenuhnya.
Karena di Tanimbar, cinta tidak pernah lahir dari mulut. Ia tumbuh dari tanah, berenang dalam air, dan hidup di antara karang. Dan Yuliana, gadis dari cahaya dan debur sunyi itu, adalah bukti bahwa di ujung dunia pun, cinta bisa lahir tanpa sebab, tanpa balas, tanpa akhir.
Sumatera Barat,2025