Yuliana: Ratu Anak dari Tanimbar (2)
Oleh: Rizal Tanjung
–
Di antara riak laut dan nyanyian angin di kepulauan Tanimbar, di tanah Papua yang saban pagi didoakan burung cendrawasih dan malamnya ditimang bintang, lahirlah seorang anak perempuan dari rahim sunyi dan cahaya. Namanya Yuliana.
Ia lahir bukan di rumah sakit, bukan pula di rumah adat, tetapi di antara karang yang membisik doa-doa para leluhur. Ibunya, seorang perempuan muda yang bisu, melahirkan di bawah cahaya bulan penuh — tanpa suara, tanpa keluhan, hanya air mata yang jatuh ke pasir dan menjadi mutiara-mutiara halus.
Orang-orang di Desa La’uhi percaya, Yuliana bukan anak manusia biasa
> “Ia datang ketika laut pasang tiba-tiba surut. Ia menangis, dan ombak berhenti. Ia tertawa, dan ikan melompat seperti menari.”
– kata Ama Tenias, penatua desa yang sudah hidup melewati lima musim panen sagu dan delapan badai besar.
Yuliana tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya. Ibunya tetap bisu, hanya menatapnya dengan mata penuh cahaya. Tapi anak itu tumbuh bukan seperti anak lainnya. Ia bisa berbicara dengan binatang. Ia bisa membuat hujan turun saat ladang-ladang mulai retak. Di usia tiga tahun, ia menyanyikan lagu yang membuat ibu-ibu berhenti bertengkar dan ayah-ayah menangis sambil mencium kaki anak-anak mereka.
Lalu orang mulai memanggilnya Ratu Anak — bukan karena ia berkuasa, tapi karena semua anak kecil di kampung dan pulau-pulau tetangga datang padanya setiap malam, meminta pelukan dan cerita.
Desas-desus tentang Anak Tuhan
Ketika Yuliana genap berumur tujuh tahun, datang sekelompok orang asing dari kota besar, membawa kamera dan alat pencatat suara. Mereka mendengar cerita tentang seorang anak yang bisa membuat air laut berubah warna jika ia sedih. Mereka menyebutnya “fenomena religius.”
> “Anak ini bukan sekadar anak,” kata salah satu dari mereka, seorang wanita berjas putih. “Ia mungkin manifestasi dari sesuatu yang lebih tinggi. Anak Tuhan, mungkin.”
Orang-orang desa awalnya marah. Tapi Yuliana hanya tersenyum. Ia mendekati wanita itu, memegang tangannya, dan berkata:
> “Kalau aku anak Tuhan, maka semua anak di dunia ini juga anak Tuhan. Kita semua sama, hanya berbeda di bagaimana cahaya mencium kulit kita.”
Wanita itu menangis. Kamera-kamera dimatikan. Tak ada tayangan televisi, tak ada viral. Hanya hujan rintik kecil turun malam itu, dan keesokan harinya, seekor paus muncul di teluk — pertama kali sejak 40 tahun lalu.
Ratu yang Menolak Takhta
Saat umur Yuliana sembilan tahun, kepala adat ingin menjadikannya simbol upacara suci. Diberikan mahkota kerang dan jubah dari bulu kasuari putih. Tapi Yuliana menolak.
> “Ratu bukan yang duduk di atas takhta. Tapi yang berjalan tanpa alas kaki, yang duduk bersama anak-anak saat malam, mendengarkan mereka menangis.”
Ia terus hidup seperti biasa. Makan ubi. Menangkap ikan kecil di sungai. Bercakap dengan burung nuri. Tapi setiap kali seseorang merasa sedih atau kehilangan harapan, mereka akan mendaki ke bukit belakang desa, tempat Yuliana biasa duduk, dan ia akan berkata:
> “Apa yang Tuhan tanam dalam hatimu, tak akan pernah mati, meski dunia mencoba membunuhnya.”
Dan Ia Menghilang
Tepat saat matahari pertama di musim bunga ke-12, Yuliana menghilang. Tak ada jejak. Hanya bekas telapak kaki kecil yang mengarah ke laut.
Orang-orang tak pernah menemukannya lagi.
Tapi setiap malam bulan penuh, di antara nyanyian ombak dan doa burung malam, terdengar suara gadis kecil:
> “Aku tidak pergi. Aku ada di dalammu. Aku adalah setiap anak yang mencintai tanpa syarat. Aku adalah kamu.”
Kini, puluhan tahun berlalu. Di Tanimbar, jika seorang anak menangis karena kehilangan ibu, atau jika seorang wanita tua duduk di dermaga memandang laut dengan air mata, orang akan berkata:
> “Yuliana lewat di sini tadi malam. Ia anak Tuhan, tapi lebih dari itu: ia adalah hati dunia yang masih bisa mencintai tanpa meminta imbalan.”
Dan legenda Yuliana pun terus hidup — sebagai cahaya kecil di jantung Tanimbar yang tak pernah padam.
Sumatera Barat,2025