Yuliana, Ratu Anak dari Tanimbar (1)
Cerpen: Rizal Tanjung
–
I
Kelahiran di Antara Karang dan Cahaya
Di malam ketika bulan penuh menggantung rendah di langit Tanimbar dan laut berkilau seperti kaca retak, seorang bayi perempuan lahir dari rahim seorang perempuan bisu. Ia tidak menangis seperti bayi pada umumnya, melainkan tertawa pelan, seolah menyambut dunia yang ia kenal sebelum dilahirkan. Perempuan bisu itu, yang selama ini hidup menyendiri di antara karang-karang La’uhi, hanya menatapnya dengan mata yang basah bukan karena sakit, tapi karena cahaya yang tak tertampung dalam dada.
Orang-orang berkata, bayi itu adalah titipan. Bukan dari laki-laki, bukan dari perempuan, tapi dari sesuatu yang lebih tua dari laut, lebih sunyi dari batu karang. Mereka menamainya Yuliana, yang dalam bahasa tua berarti: “Cahaya yang tidak mencari tempat.”
II
Anak yang Membuat Ombak Diam
Yuliana tumbuh seperti rumput ilalang yang tahu kapan harus menari dan kapan harus diam. Di usia dua tahun, ia membuat seekor ular laut jinak dan melingkar di kakinya seperti gelang. Di usia tiga tahun, ia bicara kepada burung dan mendapat balasan dalam bentuk nyanyian. Dan ketika ia tertawa, ombak berhenti sejenak seperti mendengarkan cerita dari masa sebelum manusia datang.
Anak-anak dari pulau lain datang untuk bermain dengannya. Mereka memanggilnya Ratu Anak, tapi bukan karena ia memerintah. Ia hanya tahu cara mendengar. Ketika seorang anak menangis karena dipukul ayahnya, Yuliana hanya berkata, “Ayahmu sedang menangis di dalam dirinya sendiri.”
III
Mulut yang Membuka Langit
Pada ulang tahunnya yang ketujuh, datanglah orang-orang dari kota: wartawan, ilmuwan, pemburu keajaiban. Mereka membawa kamera dan mikrofon, mengajukan pertanyaan yang bahkan tidak bisa dijawab oleh langit. Yuliana tidak takut. Ia hanya duduk dan berkata:
> “Kalau aku anak Tuhan, maka semua anak adalah anak Tuhan. Hanya saja sebagian lupa cara menyapa matahari.”
Wanita berjas putih itu menangis. Tak satu pun dari mereka menayangkan hasil wawancara itu. Tapi keesokan harinya, seekor paus muncul di teluk, dan seisi pulau berdiri di dermaga, menyaksikan air memantulkan cahaya seperti altar.
IV
Penolakan Sang Ratu
Ketika para tetua ingin menjadikan Yuliana simbol dalam upacara adat, memberinya mahkota dan jubah kasuari, ia menolak. Ia melepas semua itu dan berjalan ke hutan. Anak-anak mengikutinya. Di bawah pohon-pohon tua, ia mengajarkan mereka bahasa dedaunan dan sunyi.
> “Yang memerintah tidak harus terlihat. Tapi yang mengasihi akan terasa meski tak disebut.”
Yuliana tidur di rumah lumpur, makan ubi, dan membantu memandikan bayi-bayi yang ibunya kelelahan. Orang-orang datang diam-diam, hanya untuk melihat cahaya di matanya. Sebagian yakin ia melihat masa depan. Sebagian yakin ia adalah masa depan itu sendiri.
V
Kepergian Tanpa Jejak
Suatu pagi, di tahun ke-12 hidupnya, Yuliana hilang. Tidak ada jejak, tidak ada tangis, tidak ada pesan. Hanya bekas telapak kaki kecil di pasir yang menuju laut. Di sana, karang-karang membentuk lingkaran sempurna, dan air laut tenang seperti cermin.
Mereka mencari. Mereka menangis. Tapi seorang anak berkata:
> “Dia tidak hilang. Dia hanya berubah menjadi lagu di dada kita.”
Malam itu, suara burung malam bernyanyi dalam irama yang tak biasa, dan semua anak-anak tidur dalam pelukan ibu mereka — tanpa mimpi buruk.
VI
Legenda yang Terus Dihidupkan
Kini, bertahun-tahun kemudian, di setiap bulan purnama, anak-anak dan orang tua berkumpul di bukit kecil di belakang desa. Mereka menyalakan api dan menyanyikan lagu yang tidak diajarkan, tapi semua tahu. Lagu itu tentang Yuliana.
> “Ia adalah pelukan yang tidak tampak, mata air yang tidak mengering, suara yang membuatmu berhenti menyakiti.”
Para tetua menulis kisahnya dalam tenun. Anak-anak melukis wajahnya di dinding rumah. Tapi yang paling penting, mereka mendidik anak-anak mereka seperti Yuliana mengasihi: dengan kesabaran, kelembutan, dan cahaya.
Karena siapa pun yang pernah bertemu Yuliana tahu:
> Ia bukan hanya anak Tuhan. Ia adalah bukti bahwa kasih bisa lahir dari rahim dunia yang remuk dan tetap bercahaya.
Sumatera Barat,2025