May 10, 2026
narasoma doa ibu

anto narasoma
(untuk Putu Wijaya)

dag dig dug,
dag dig dug

dinding hatiku pun memenuhi ruang pementasan di samping masjid menyuarakan kemanusiaan

sebab,
setiap adegan yang mengalir ke dalam skenario yang mendebarkan, hatiku pun dag dig dig

ketika aku lupa,
ia mengingatkan agar aku terpekur ke dalam irama memprihatinkan, dag dig dug !

dari adegan pertama
wajah-wajah kemiskinan di kota-kota besar, selalu
mengutarakan berbagai kasus keuangan yang bias ke dalam praktik perampokan yang dag dig dug

o, negeri konoha memang dag dig dug
menggetarkan dadaku

sebab pada adegan kedua, pertalite membesar dalam nilai penjualan yang mendag dig dug

akibat ulah dag dig dug,
pertalite berubah nilai
karena pertamax yang menjadi cermin orang-orang gedongan harus memiskinkan hati nurani tanpa dag dig dug

aduh,
hatiku seperti digedor ribuan tangan setelah pertalite tumbuh menjadi pertamax yang mengoyak kekayaan negeri konoha

dag dig dug,
dag dig dig..

tatkala debaran jantungku semakin
dag dig dig, lampu permainan pun padam

wajah orang-orang terlibat pengoplos pertalite menjadi pertamax itu pun gelap ditutup tabir hitam dalam pentas dag dig dug

lalu,
para pemain berlari-lari
menggelapkan ratusan triliun yang mematikan hakikat hukum konoha
hingga kasus pagar laut, BLBI, menjadi skenario panggung para koruptor

o, jantungku berdag dig dug. iramanya membahana dalam nada bohemian rhapsody di atas panggung haha hihi

dag dig dug,
dag dig dug
seperti dapur ibuku,
aroma pertalite menguap, membakar kasus BLBI dan pagar laut yang diam tanpa bicara

Palembang
2 Maret 2025