O, DAG DIG DUG
anto narasoma
(untuk Putu Wijaya)
–
dag dig dug,
dag dig dug
dinding hatiku pun memenuhi ruang pementasan di samping masjid menyuarakan kemanusiaan
sebab,
setiap adegan yang mengalir ke dalam skenario yang mendebarkan, hatiku pun dag dig dig
ketika aku lupa,
ia mengingatkan agar aku terpekur ke dalam irama memprihatinkan, dag dig dug !
dari adegan pertama
wajah-wajah kemiskinan di kota-kota besar, selalu
mengutarakan berbagai kasus keuangan yang bias ke dalam praktik perampokan yang dag dig dug
o, negeri konoha memang dag dig dug
menggetarkan dadaku
sebab pada adegan kedua, pertalite membesar dalam nilai penjualan yang mendag dig dug
akibat ulah dag dig dug,
pertalite berubah nilai
karena pertamax yang menjadi cermin orang-orang gedongan harus memiskinkan hati nurani tanpa dag dig dug
aduh,
hatiku seperti digedor ribuan tangan setelah pertalite tumbuh menjadi pertamax yang mengoyak kekayaan negeri konoha
dag dig dug,
dag dig dig..
tatkala debaran jantungku semakin
dag dig dig, lampu permainan pun padam
wajah orang-orang terlibat pengoplos pertalite menjadi pertamax itu pun gelap ditutup tabir hitam dalam pentas dag dig dug
lalu,
para pemain berlari-lari
menggelapkan ratusan triliun yang mematikan hakikat hukum konoha
hingga kasus pagar laut, BLBI, menjadi skenario panggung para koruptor
o, jantungku berdag dig dug. iramanya membahana dalam nada bohemian rhapsody di atas panggung haha hihi
dag dig dug,
dag dig dug
seperti dapur ibuku,
aroma pertalite menguap, membakar kasus BLBI dan pagar laut yang diam tanpa bicara
Palembang
2 Maret 2025