May 26, 2026
elza1

Elza Peldi Taher

Ke mana kita mencari makna dan ketenangan hidup di tengah kesibukan yang datang tanpa henti? Di dunia yang bergerak semakin cepat, hari-hari kerap terasa seperti lintasan panjang tanpa jeda. Jadwal bertumpuk, tuntutan berdatangan dari berbagai arah, dan kebisingan—baik suara maupun ekspektasi—perlahan menekan dada. Kita bergerak terus, tetapi jarang benar-benar berhenti untuk bertanya: ke mana semua ini membawa kita?

Adalah penting bagi kita untuk membaca Walden, karya Henry David Thoreau—sebuah buku yang lahir dari keberanian untuk menepi. Thoreau menulis, “Aku pergi ke hutan karena ingin hidup dengan sengaja, menghadapi hanya fakta-fakta yang esensial dari kehidupan.” Ia memilih kesederhanaan bukan karena membenci masyarakat, melainkan karena merasa kehidupan modern telah berjalan terlalu cepat, terlalu sibuk, dan terlalu jauh dari inti.

Thoreau mengingatkan, “Kebanyakan manusia hidup dalam keputusasaan yang sunyi.” Kalimat itu terasa menggema hari ini. Kita tampak sibuk dan bergerak, tetapi sering kehilangan arah. Dari kejauhan, kota selalu tampak seperti mesin yang terus berputar. Dari dekat, kita sering terjebak di dalamnya—mengejar target, jadwal, dan pengakuan, hingga lupa bertanya: untuk apa semua ini?

Thoreau juga menulis, “Harga sebuah benda adalah jumlah kehidupan yang harus ditukar untuk mendapatkannya.” Kalimat ini menampar kesadaran kita tentang biaya tersembunyi dari kemajuan—bukan hanya uang dan waktu, tetapi juga ketenangan batin dan, kini semakin jelas, biaya ekologis.

Indonesia, sesungguhnya, adalah tanah yang ramah bagi laku menepi. Bumi ini hijau. Hutannya panjang. Lautnya luas. Dari Sumatra hingga Papua, kita dianugerahi bentang alam yang memungkinkan manusia belajar tentang batas, kesederhanaan, dan harmoni. Indonesia adalah Walden yang terbentang luas—sebuah ruang kontemplasi alam yang semestinya dijaga, bukan ditebang habis. Sayangnya, anugerah itu kian tergerus. Penebangan tak terkendali, alih fungsi lahan, dan logika pembangunan yang memandang alam semata sebagai komoditas membuat hijau perlahan memudar.

Di titik inilah, kegelisahan personal bertemu dengan kenyataan ekologis yang tak bisa lagi kita abaikan.

Dalam beberapa dekade terakhir, laju penebangan hutan Indonesia tercatat sebagai salah satu yang paling tinggi di dunia. Jutaan hektare hutan—termasuk hutan primer yang membutuhkan ratusan tahun untuk tumbuh—hilang dalam waktu relatif singkat. Hutan dibuka untuk perkebunan skala besar, pertambangan, dan berbagai proyek pembangunan, sering kali tanpa memberi waktu bagi alam untuk memulihkan dirinya.

Dampaknya bersifat sistemik dan berlapis. Ketika hutan ditebas, air hujan tak lagi tertahan oleh akar dan lapisan tanah. Sungai meluap, banjir datang lebih sering dan lebih ganas, sementara longsor menjadi ancaman rutin di wilayah perbukitan. Keanekaragaman hayati menyusut drastis, satwa kehilangan habitat, dan masyarakat lokal—yang hidup paling dekat dengan hutan—menjadi pihak pertama yang menanggung risiko. Kerusakan itu bukan sekadar angka statistik; ia menjelma menjadi rumah yang terendam, ladang yang rusak, dan masa depan yang kian rapuh.

Sebagai orang Sumatra Barat, saya menyimpan duka yang tak selalu menemukan kata. Setiap kabar tentang banjir dan longsor di tanah Sumatra terasa seperti kabar dari rumah sendiri—tentang sesuatu yang perlahan hilang, tapi tak sempat kita jaga. Hutan-hutan yang dulu teduh kini tinggal ingatan, sungai-sungai yang dulu jernih membawa lumpur, dan kampung-kampung yang dulu tenang hidup dalam waswas yang berulang. Ada kesedihan yang sunyi ketika menyadari bahwa yang rusak bukan hanya alam, melainkan juga ikatan batin kita dengannya.

Hari-hari ini, ketika bencana datang silih berganti—banjir, longsor, kebakaran hutan—kita sering menyebutnya musibah. Padahal, banyak di antaranya adalah konsekuensi. Alam tidak tiba-tiba marah; ia lelah. Bencana bukan peristiwa tunggal, melainkan surat panjang yang ditulis oleh waktu: tentang hutan yang ditebang, sungai yang disempitkan, dan gunung yang dikeruk. Surat itu terlalu lama kita abaikan.

Di titik inilah Walden berubah dari catatan personal menjadi etika publik. Menepi bukan hanya soal menyelamatkan batin, tetapi juga membangun cara pandang baru terhadap alam. Thoreau mengingatkan bahwa hidup sederhana bukan kemunduran, melainkan keberanian untuk berkata cukup. Orang yang mengenal alam secara intim—yang pernah duduk diam mendengar angin dan dedaunan—akan berpikir dua kali sebelum merusaknya. Kedekatan melahirkan kepedulian; kepedulian melahirkan batas.

Kita sering menyebut bencana sebagai cobaan, tetapi jarang bertanya: bagian mana dari cara hidup kita yang ikut menyumbang pada luka itu?

Etika ekologis berangkat dari kata yang sederhana: cukup. Cukup dalam konsumsi. Cukup dalam ambisi. Cukup dalam pembangunan. Banyak krisis lahir bukan karena kekurangan, melainkan karena ketidakmampuan membatasi. Thoreau menolak kemajuan yang tidak menumbuhkan jiwa. Ia mengkritik percepatan yang mengorbankan kedalaman—kritik yang menemukan gaungnya di Indonesia hari ini, ketika proyek demi proyek berdiri, tetapi daya dukung alam kian menipis.

Ada pula dimensi moral yang kerap terlewat. Merusak alam bukan sekadar kesalahan teknis; ia adalah krisis etika. Alam bukan objek mati, melainkan amanah. Dalam tradisi spiritual apa pun, menjaga air, tanah, dan hutan adalah bagian dari tanggung jawab manusia. Dosa ekologis sering terjadi bukan karena kita tak tahu, melainkan karena terlalu sibuk untuk peduli.

Ketika kita mengambil jarak, kota tampak kecil dan alam terasa besar. Di sanalah saya menyadari: hidup yang bermakna tidak selalu lahir dari penaklukan, melainkan dari keselarasan. Kita tidak harus semua hidup menyendiri seperti Thoreau. Tetapi kita bisa belajar menepi—berhenti sejenak, mendengar, dan menimbang ulang arah. Menepi adalah perlawanan sunyi terhadap kebisingan yang menipu. Ia mengajarkan kita memilih: tidak semua yang bisa dibangun harus dibangun; tidak semua yang menguntungkan harus diambil.

Barangkali, jika lebih banyak orang bersedia berhenti sejenak dan memandang hidup dari kejauhan, keputusan-keputusan kita akan berbeda. Barangkali, jika kita memberi ruang bagi sunyi, kita akan lebih bijak pada bumi. Sebab bumi ini, seperti hidup kita sendiri, tidak membutuhkan percepatan tanpa arah—melainkan perhatian, batas, dan rasa cukup.

Mungkin yang perlu kita selamatkan bukan hanya hutan, melainkan kemampuan kita untuk diam, mendengar, dan merasa cukup—agar dunia ini tetap punya tempat untuk pulang.

Pondok Cabe Udik 27 Desember 2026

Elza Peldi Taher