April 21, 2026

Pagi di Lauran: Pastor Pius Heljanan, MSC, Serukan Ketaatan pada Tuhan dan Negara

Oleh : joko

“Jadilah Teladan, Bukan Batu Sandungan”  Pesan Pastor Pius Heljanan di Pagi Senin yang Hening

Di Desa Lauran, Tanimbar Selatan, gema khotbah Pastor Pius mengajak umat untuk setia pada kewajiban iman dan hukum, kisah Yesus dan Petrus membayar pajak menjadi cermin bagi kehidupan beriman umat.

http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, Senin pagi, 11 Agustus 2025. Embun masih bertahan di ujung dedaunan, udara lembut menyapu wajah, dan lonceng gereja di Desa Lauran berdentang memanggil umat untuk berkumpul.

Dari kejauhan, langkah-langkah para warga terdengar menapaki jalan menuju Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan.

Di dalam gereja, cahaya matahari pagi menembus kaca jendela, memantulkan siluet kayu salib di dinding altar. Di tengah suasana hening, suara Pastor Pius Heljanan, MSC, terdengar tegas namun lembut, mengalun memenuhi ruangan.

“Jangan Menjadi Batu Sandungan”

“Saudaraku, kita jangan menjadi batu sandungan bagi mereka,” ucapnya, membuka khotbah yang mengalun penuh makna.

Dengan merujuk Injil Matius 17:22-27, Pastor Pius mengisahkan momen ketika Yesus dan Petrus diminta membayar pajak Bait Allah. “Yesus tidak menolak,” katanya, “melainkan menunjukkan ketaatan pada hukum agama Yahudi.”

Pesan itu mengalir ke dalam kehidupan nyata umat: bahwa hidup beriman bukan hanya tentang menuntut hak, tetapi terlebih dahulu melaksanakan kewajiban.

“Lakukan kewajibanmu sebagai anak Tuhan yang benar, maka hakmu akan kamu terima. Dirimu adalah saksi Kristus melalui teladan hidup yang baik,” tegas Pastor Pius.

Ketaatan pada Hukum Tuhan dan Negara

Dalam nada penuh keteduhan, ia mengingatkan bahwa setiap insan beriman dituntun oleh dua pilar: hukum Allah dan aturan yang berlaku di negara.

“Taati semua aturan yang ada dengan baik,” ujarnya, “agar kita benar-benar menjadi teladan, bukan batu sandungan, dalam hidup bersama.”

Suasana gereja terasa larut dalam keheningan yang reflektif. Jemaat, yang duduk berderet di bangku kayu, menundukkan kepala, merenungkan setiap kata.

Di wajah mereka, terpancar kesadaran bahwa pesan ini bukan sekadar khotbah mingguan, tetapi panggilan untuk menata diri dalam keseharian.

Akhir yang Menggetarkan Hati

Ketika misa berakhir, umat perlahan meninggalkan gereja. Namun kata-kata Pastor Pius Heljanan, MSC, terus terngiang di telinga: bahwa menjadi saksi Kristus dimulai dari kesederhanaan, ketaatan, dan ketulusan hati.

Di luar gereja, matahari sudah meninggi. Desa Lauran kembali bergeliat, tapi ada yang berbeda: langkah-langkah pulang pagi itu seolah membawa pulang pesan yang akan mengarahkan kehidupan untuk selalu menjadi teladan, bukan batu sandungan.