Pastor Pius Heljanan, MSC: Iman Sejati Tercermin dalam Persaudaraan Sehari-hari
http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, 12 Juni 2025 — Suasana pagi di Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, terasa sejuk dan damai meski awan kelabu menyelimuti langit.
Dari balik altar Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, suara lembut namun penuh makna mengalun, mengajak umat untuk merenung lebih dalam tentang makna iman sejati.
Adalah Pastor Pius Heljanan, MSC, pemimpin umat Katolik di Kuasi Paroki tersebut, yang hari ini kembali mengingatkan tentang hakikat beriman yang sesungguhnya.
Dalam refleksi paginya, Pastor Pius menekankan bahwa iman tak cukup hanya ditunjukkan lewat doa, ibadat, atau persembahan, melainkan harus terwujud dalam relasi penuh kasih dan damai dengan sesama.
“Barangsiapa marah terhadap saudaranya, harus dihukum,” kutip Pastor Pius dari Injil Matius 5:20-26.
Menurutnya, seorang anak Tuhan bisa saja rajin mengikuti misa, berdoa, bahkan gemar memberi, namun jika hatinya masih menyimpan dendam, amarah, atau permusuhan terhadap sesama, maka semua perbuatan baik itu menjadi sia-sia di hadapan Allah.
“Persembahan kepada Tuhan memang mulia, menolong sesama itu perbuatan luhur. Tapi bagi Yesus, memperbaiki relasi dan mengampuni jauh lebih utama. Tuhan lebih berkenan kepada hati yang damai dan penuh persaudaraan dibandingkan ritual ibadat semata,” tutur Pastor Pius.
Lebih jauh, ia mengajak umat untuk berani bersikap rendah hati, mau memperbaiki hubungan yang retak, meminta maaf, dan memaafkan sebelum berdoa atau melayani orang lain.
Sebab hanya dengan hati yang bersih dan damai, iman seseorang menjadi utuh dan berkenan di mata Tuhan.
“Orang beriman benar adalah orang yang menjaga persaudaraan,” pesan penutup Pastor Pius, menyiratkan harapan agar setiap umat tak hanya tekun berdoa, tetapi juga rajin merawat relasi kasih dengan sesama.
Di tengah dunia yang mudah memicu pertikaian, pesan sederhana namun mendalam dari Pastor Pius ini seakan menjadi pengingat yang relevan bagi siapa pun: bahwa ibadat tanpa cinta kasih kepada sesama, hanyalah hampa belaka.