April 21, 2026

Pastor Pius Heljanan, MSC: “Introspeksi Diri Sebelum Mengoreksi Sesama”

Oleh: joko

Renungan Pagi Pastor Pius: Jangan Jadi “Orang Buta Menuntun Orang Buta, hindari Kemunafikan, Belajarlah Mencintai dengan Tulus”

http://suaraanaknegerinews.com | Saumlaki, Jumat, 12 September 2025 – Dalam suasana pagi yang tenang di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Lauran, Desa Lauran, Kecamatan Tanimbar Selatan, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Pastor Pius Heljanan, MSC, Kuasi Paroki setempat, menyampaikan pesan rohani yang menyentuh hati umat. Dalam renungan Injil Lukas 6:39-42, ia mengajak umat untuk merenung dan memperbaiki diri sebelum menilai orang lain.

Ajakan untuk Mengoreksi Diri

Mengutip sabda Yesus, “Mengapa engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di matamu sendiri tidak kau ketahui?”, Pastor Pius mengingatkan bahwa kebiasaan menghakimi sesama seringkali menjebak manusia pada kemunafikan.

“Saudaraku, ada anak-anak Tuhan yang suka bahkan terbiasa menilai, mengoreksi, dan menghakimi sesama. Sebaliknya, bila dikoreksi, ia menolak dan membenarkan diri,” ujarnya dengan suara teduh namun tegas.

Ia menegaskan bahwa sikap seperti ini adalah cerminan pribadi munafik yang disebut Yesus dalam Injil. “Ia ada di jalan sesat, namun merasa benar dan mau menuntun sesama. Ibarat orang buta menuntun orang buta, jika kita tidak menghindar, maka ikut terjebak dan terperosok dalam jurang kehancuran,” tambahnya.

Bahaya Kemunafikan dan Pencitraan

Pastor Pius juga mengingatkan bahwa kemunafikan sering terselubung di balik kata-kata manis dan sikap menarik. “Bahasa orang munafik enak didengar, sikap mereka manis dan menarik, tapi hati mereka penuh kebusukan dan rencana jahat. Pencitraan menjadi gaya hidup,” katanya.

Ia mengajak umat untuk tidak terbuai oleh penampilan luar atau perkataan yang memikat, melainkan menilai dengan kebijaksanaan dan kerendahan hati.

Menjadi Murid Yesus yang Sejati

Dalam penutup pesannya, Pastor Pius mengajak umat untuk kembali pada teladan Kristus. “Jadilah murid Yesus yang baik dan sejati. Cintailah sesama dengan tulus, saling menghargai tanpa menghakimi,” pesannya.

Renungan ini bukan hanya teguran lembut bagi umat di Lauran, tetapi juga pengingat universal untuk selalu memulai perubahan dari diri sendiri. Di tengah dunia yang sarat dengan pencitraan dan penghakiman cepat, pesan Pastor Pius Heljanan, MSC, menjadi ajakan mendalam untuk hidup lebih jujur, rendah hati, dan penuh kasih.