Penantian Tiada Waktu
Oleh: Rizal Tanjung
–
dalam sunyi yang berarak pelan,
aku menanam harapan di palung malam,
kenyamanan kusemat di hari-hari kelam,
meski waktu tak pernah menanyakan,
kapan penantian ini berakhir dalam genggaman.
tersenyum kubiarkan wajahku basah,
saat kesedihan menyusup tanpa arah,
pelangi menari di balik awan gelisah,
seakan memberitahuku bahwa esok,
masih ada warna yang bersedia singgah.
tawa kulukis dalam setiap getar bibir,
meski luka menari di sudut batin yang getir,
matahari terbenam meneteskan cahaya terakhir,
menghangatkan hati yang hampir terkikis,
pada penantian yang tak pernah habis.
pelukan yang tak pernah hadir,
kuyakini masih menggantung di langit takdir,
rohku luluh lantak dalam rindu yang getir,
namun aku tetap berdiri,
menantimu tanpa tahu kapan kau akan kembali.
keindahan yang kupandang di ujung cakrawala,
menjadi cermin asa yang tak pernah pudar,
persahabatan yang dulu menerangi jiwa,
kini menjadi doa yang kupanjatkan saban malam,
agar kau tak pernah hilang dalam gelapnya jarak.
iman kupeluk dalam keyakinan,
bahwa takdir tak akan meninggalkan,
meski kau entah di mana kini berpijak,
aku percaya, kau pun menunggu,
dalam sunyi yang sama, tanpa jeda.
keyakinan kugenggam dalam dingin waktu,
meski ragu sering membisikkan namamu,
aku berani mengenal diriku sendiri,
dalam setiap kelam yang menyayat,
menyulam sabar di tiap helai mimpi yang terikat.
penantian ini mungkin tak berujung,
tapi aku percaya, cinta adalah bahasa Tuhan,
yang melengkapi setiap kisah tanpa ruang,
meski waktu tak memberi isyarat,
aku tetap menunggumu, dalam doa yang tak pernah tamat.
aku menanti, selamanya…
Papua, 11 Maret 2025.