May 6, 2026
ANTOLOGI PUISI
Karya: Rizal Tanjung
PUISI 1
*Surat dari Tepi Jendela*
Malam ini aku tuliskan sebuah surat
dari tepi jendela yang basah oleh waktu,
tempat kenanganmu datang seperti kabut
dan hatiku—
hanyut dalam suara hujan
yang tak pernah ingin berhenti menyebut namamu.
Kertas ini mungkin akan lapuk
seperti cinta yang terlalu lama menunggu,
tapi biarkan kalimat-kalimatnya
menjadi angin
yang kelak menyapu pipimu
saat kau berdiri di bawah langit yang sama.
PUISI 2
*Rintik yang Membawa Namamu*
Setiap rintik adalah langkahmu
yang menjauh dari musim di dadaku.
Aku duduk mematung,
menghitung jejak yang tak sempat kujemput,
mengira kau akan kembali
seperti hujan yang selalu pulang
ke bumi.
Namun yang datang hanyalah angin
yang tahu rahasia tubuhmu:
bagaimana ia menyentuh dan pergi
seperti kau—
sebuah nama yang dibisikkan
lalu menghilang dalam gerimis.
PUISI 3
*Di Antara Kabut dan Kenangan*
Ada wajahmu di balik kabut,
pucat dan tak bisa kujamah,
tapi begitu lekat,
hingga dadaku sesak oleh sesuatu
yang tak bisa kusebut selain:
kau.
Aku ingin memeluk hujan
agar bisa merasakanmu lebih dekat
karena hanya padanya
aku percaya,
kau masih hidup
dalam setiap basah yang jatuh
ke pipi malamku.
PUISI 4
*Hujan adalah Bahasa Cinta yang Tak Pernah Usai*
Bila cinta adalah bahasa,
maka hujan adalah aksaranya,
dan aku adalah surat yang tak pernah selesai
karena kau tak pernah membaca
seluruh rintik yang kutulis
dengan air mataku sendiri.
Aku menulis tentangmu
dengan langit sebagai tinta,
dan malam sebagai halaman
yang selalu terbuka
tanpa akhir.
PUISI 5
*Ketika Langit Menangis, Aku Menyebutmu*
Langit malam ini tak kuat menahan,
ia menangis—
bukan karena duka,
tapi karena namamu
tak lagi mengudara
di dalam doa-doaku
yang patah separuh.
Tapi aku tetap menyebutmu,
seperti mantra yang tak bisa dibatalkan,
karena cinta adalah upacara sunyi
dan kau adalah dewa yang tak bisa kuhapus dari altar dadaku.
PUISI 6
*Jendela yang Menyimpan Wajahmu*
Jendela ini adalah lukisan
yang tak pernah kering catnya.
Setiap tetes hujan melukis ulang wajahmu,
dan aku…
tak pernah bosan menatapnya,
sekalipun malam menjelma kabut
dan dunia jadi buta.
Aku menunggu di jendela yang sama,
meski waktu telah tumbuh uban
di rambut rinduku.
PUISI 7
*Dialog dengan Rintik yang Jatuh di Dada*
“Hai rintik,” kataku,
“apakah kau tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang
yang tak bisa disentuh,
hanya bisa dikenang lewat aroma basah di udara?”
Rintik itu jatuh—
tepat di dadaku.
Dan jawabnya:
“Aku tahu.
Karena aku pun selalu jatuh
untuk bumi yang tak pernah bisa memelukku.”
PUISI 8
*Malam Memanggilmu Lewat Embun*
Malam berbicara dalam embun yang gemetar
dan aku mendengarnya menyebut namamu pelan,
seolah takut membuat hatiku retak lagi.
Aku bangkit, membuka pintu kepada malam
yang masih menyimpan jejak langkahmu
pada jalan-jalan yang tak pernah kulalui bersamamu.
Kau tahu?
Cinta yang tak sampai itu
adalah jalan paling sunyi dalam hidupku.
PUISI 9
*Rindu yang Tumbuh Seperti Lumut di Dinding Waktu*
Waktu berlalu—
namun rindu tak pernah layu.
Ia tumbuh
seperti lumut pada dinding yang tak dijamah cahaya,
lembab, hijau, dan diam-diam
menyesaki dinding hati.
Aku tak pernah bisa mencabutnya,
karena akarnya adalah kenangan
dan daunnya adalah harapan
bahwa suatu hari kau akan kembali
duduk di jendela yang sama,
dan mengatakan:
“Aku juga merindumu.”
PUISI 10
*Hujan Terakhir, Sebelum Kau Lupa*
Inilah hujan terakhir
yang kusebut namamu di dalamnya.
Setelah ini,
mungkin aku akan diam
seperti langit yang lelah mengirim pesan.
Tapi percayalah,
setiap hujan yang kau lihat kelak
adalah sisa cintaku yang tersisa di angkasa,
jatuh perlahan,
agar kau tahu
ada seseorang yang pernah menunggumu
di jendela waktu
dengan dada yang selalu basah oleh rindu.
Sumatera Barat,2025