May 10, 2026

Karya: Rizal Tanjung

Aku duduk di tepi jendela,
di antara rintik yang jatuh seperti puisi dari langit,
mengguratkan sajak di kaca yang mulai berembun,
dan kau,
entah di mana,
adalah satu-satunya bait yang tak pernah selesai kutuliskan
dalam malam yang menunggu tanpa nama.

Hujan mengetuk pelan,
seperti jari-jari kenanganmu yang dulu pernah
menyentuh rambutku,
menyisipkan sunyi ke dalam pori-pori angin,
dan aku bertanya kepada rinainya:
“Masihkah ia menyebut namaku dalam tidur yang paling jauh?”

Angin mengelus tengkukku,
serupa napasmu yang pernah menjadi musim,
dan langit,
—oh langit yang berselimutkan mendung dan cahaya bulan—
menganga seperti dada penuh luka,
menceritakan kisah tentang dua kekasih
yang tak pernah berhasil
menemukan pertemuan dalam satu senja.

Aku ingin berbicara kepada hujan
seperti aku pernah bicara kepadamu,
dengan kalimat-kalimat yang tak selesai,
dengan mata yang diam-diam menangis
tanpa pernah meminta pelukan.

Kataku pada hujan:
“Apakah rindu itu hanya kabut
yang turun diam-diam dan hilang
saat matahari menyenggol pagi?”

Dan hujan menjawab dengan diam panjang:
“Tidak, rindu adalah sungai yang tak pernah mengering,
yang bahkan setelah musim berganti,
masih mengalir dalam dada setiap insan
yang pernah mencintai dengan segala keberanian.”

Aku percaya.
Karena di wajahmu yang hadir dalam kenanganku,
ada musim gugur yang selalu jatuh di antara matamu dan pipi,
ada lembah yang hanya bisa kulewati
dengan memanggil namamu dalam isak tak bersuara.

Bunga-bunga di bajuku turut menangkap isyarat langit—
mereka mekar tanpa sebab,
karena kau masih menjadi alasan
mengapa aku tak ingin menutup jendela
meski malam makin dingin.

Dan malam pun bersuara,
“Kenapa kau menunggu begitu setia di balik jendela itu?”
Aku menjawab:
“Aku sedang berdialog dengan hujan,
tentang cinta yang tak selesai,
tentang rindu yang tumbuh di antara denting waktu
dan desir embun di rambutnya yang dulu kusebut rumah.”

Kau tahu,
setiap tetes hujan adalah pertanyaan,
setiap gemuruhnya adalah jawab,
dan setiap hembusan udara basah
adalah tubuhmu yang berjalan dalam kenanganku
tanpa alas kaki,
meninggalkan jejak di lantai dadaku yang masih mencintaimu.

Rindu itu seperti hujan:
ia turun tanpa peringatan,
mengguyur tanah-tanah yang lama kering,
dan di antara bau tanah basah dan kenangan,
namamu tumbuh seperti semak liar
yang tak bisa kutebas dengan logika.

Maka biarkan aku menyapa malam dari balik jendela,
biarkan aku menggenggam udara hujan
seolah itu tanganmu yang datang dari jauh,
dan biarkan aku percaya,
bahwa percakapan ini akan terus hidup
dalam bisikan daun,
dalam peluk angin,
dalam degup jantung yang tak pernah bisa lupa.

Dan bila esok hujan kembali turun,
aku akan kembali ke jendela ini,
mengirimkan sajak kepada langit,
dengan satu nama yang terus kuucap pelan
di antara deras dan desir:
namamu.

Sumatera Barat,2025