February 11, 2026

Cerpen Marlin Dinamikanto

Biarkan Evita pergi. Meninggalkan cinta yang hambar. Setelah perjamuan suci apa yang disatukan Tuhan tidak boleh dipisahkan oleh manusia menjadi hanya semacam catatan, kata Rendra, ditulis di atas air. Drama kehidupan rumah tangga semakin berkerak. Khususnya selama dua tahun terakhir ini. Pertengkaran semakin menjadi-jadi. Hingga dia pergi membawa anaknya yang baru saja merayakan ulangtahunnya yang ke-3.

Saya harus move on. Hidup bukan sekedar menekuni tali asmara yang ruwet. Banyak bijian kopi yang harus dipetik. Dijemur. Keesokan harinya baru disangrai. Tap sialnya matahari selalu sembunyi di ketiak mendung. Hidup jadi serba canggung. Kembali mengingat cerita pernikahan yang sepertinya hanya seumur jagung.

Kring… Telepon rumah berdering. Dari Toni Listianto rupanya. Dia anggota polisi yang sudah 16 tahun bertugas di Timor Leste. Pertama ditempatkan di Los Palos, selanjutnya hingga Timor Leste merdeka ditempatkan di Polsek Ermera, wilayah perbukitan yang dikenal sebagai daerah penghasil kopi di wilayah bekas jajahan Portugis itu.

“Kau harus datang ke sini, Lin,” ujarnya

“Kenapa? Lu mau jadiin gue mata-mata? Enggak lah,” jawab saya bercanda.

Saat itu kondisi Timor Lester memang sedang bergolak. Setiap hari koran-koran nasional tidak pernah istirahat memberitakan Timor-Timur (sebutan resmi saat itu). Terakhir kali rumah Manuel Carascalo – kakak mantan Gubernur Mario Vegas Carascalo – di Jl. Martinho de Carvalho diserbu pasukan sipil bersenjata seusai Apel perngatan hari integrasi Timor Leste ke Indonesia.

“Biarlah, itu urusan orang-orang di atas. Yang penting lu datang ke sini. Sebentar lagi gue panen kopi,” ucap Toni.

“Yang betul? Hebat lu ye. Jadi polisi di wilayah konflik masih sempat-sempatnya bertanam kopi. Apa nggak diomeli komandan?” tanya saya.

“Di sini nggak seperti di kabupaten lain. Di sini relatif aman dan damai. Urusan milisi biar diurus tentara. Urusan gue jangan sampai telat apel pagi sudah itu kabur ke kebun kopi yang gue beli dari penduduk setempat,” bebernya.

“Wah, boleh juga. Tapi belikan tiket ya?”

“Ampun-ampun. Jangan ngeledek. Lu tahu sendiri berapa sih gaji bintara polisi?”

“Ya udah. Biar gue beli tiket sendiri. Gue pengen tahu apakah kopi yang lu panen sesuai ekspektasi.”

Toni memang puzzle yang tidak pernah hilang dari mozaik sejarah hidup saya. Cerita Lindi Sang Juragan Kopi tidak akan lengkap tanpa Toni. Dia orang pertama yang mengajak liburan ke perkebunan kopi Banaran milik kenalan bapaknya. Di situ saya pertama melihat pohon kopi. Namanya juga anak Kebayoran.

Toni tinggal di Gang Mangga, Tulodong Atas (sekarang SCBD) dan saya tinggal di Gunawarman. Toh begitu kami bersahabat sejak sekolah di SD Blok R, SMP 56 hingga SMA 70 Bulungan. Tamat SMA saya melanjutkan pendidikan ke Amerika, sedangkan dia langsung melamar Sekolah Calon Bintara (Secaba): dan menjadi bintara polisi yang ditempatkan di Timor Leste sejak 1983.

***

Dari Bandara di Dily saya dijemput Jeep Willys. Ternyata Toni mengajak komandan yang pikirannya sudah dia racuni dengan pernyataan ada pengusaha besar tertarik membuka perkebunan kopi di Ermera. Padahal saya hanya pengusaha kopi kecil-kecilan. Peralatan pun masih seadanya.

“Iya, Dik. Kopi Ermera tidak kalah dari Sidikalang atau Toraja. Mudah-mudahan saja otonomi khusus yang menang, biar setelah pensiun kakak tidak kembali ke Jawa tapi bekerja di perkebunan kopi milik adik di Ermera, ” ucap perwira polisi senior berpangkat Kapten di tengah perjalanan antara Dily – Liquisa.

Saya lihat Toni hanya senyum-senyum saja. Cara halus menjemput teman secara berkelas adalah menipu komandan. Sebab mobil ini tidak akan pernah dilepas tanpa mengajaknya. Dan saya pun maklum sedang diajak bersandiwara.

Meskipun sarjana. Lulusan MBA Amerika. Tapi bisnis yang saya rintis selalu gagal. Di tengah kegagalan itu saya teringat biji kopi di Banaran, daerah perbatasan antara Kabupaten Semarang, Magelang dan Temanggung. Sejak itu sisa modal dari penjualan asset saya belikan perkebunan kopi di daerah Ciwidey, sambil membuka homestay kecil-kecilan.

Itu lah sisa hidup selain tali asmara yang kusut. Evita hanya betah dua minggu di Ciwidey. Setelah itu bersama anak semata wayang yang baru berumur 3 tahun kembali ke Jakarta. Tinggal bersama orangtuanya di daerah Blok S,, Kebayoran Baru.

Di Ciwidey saya tinggal bersama lima orang pegawai yang setiap hari menekuni biji kopi. Kadang pula menerima tamu homestay untuk menambal over head yang lumayan tinggi. Namun kata Gus Lukni, kyai saya yang tinggal di Genuk, pinggiran Kota Semarang harus Istiqomah, tekun seperti penjual tasbih, minyak wangi dan perangkat sholat di masjid-masjid.

Setelah tiga jam perjalanan, melintasi check point yang bertebaran sepanjang jalan di sekitar Liquisa sampai juga kami di Ermera. Pohonan kopi jenis arabica tampak merimbun di punggung-punggung bukit. Benar kata Toni, suasana di sini lebih damai. Tidak terlihat milisi berkeliaran di jalan.

Kami langsung njujuk rumah komandan. Disuguhi kopi dan keripik singkong. Tuan rumah terus bicara tentang usianya yang sudah 46. Dua tahun lagi pensiun. Kalau harus pulang ke Boyolali repot. Maka dia putuskan tetap tinggal di Ermera. Semoga saja otonomi khusus yang menang, doanya setiap saat, baik saat makan bersama keluarga maupun saat berada di gereja.

Satu jam berbincang kami pamit. Komandan tidak keberatan mobil dinasnya saya bawa. Toni mengajak langsung ke rumahnya yang hanya berjarak sekitar 300 meter dari rumah komandan. Namun saya bersikeras langsung ke kebun kopi yang menjadi miliknya sejak 10 tahun silam.

Biji kopi terlihat merah. Sudah saatnya dipanen. Saya berjalan mengitari areal yang luasnya hanya seperempat hektar. Rupanya para pemetik kopi sudah menunggu. Tidak lama, Maria, istri Toni yang asli orang Timor Leste datang. Jalan kaki menempuh jarak 2 km dari rumah ke kebun.

“Anaknya kok nggak diajak?” tanya saya setelah berkenalan dan bercanda kecil tentang Toni kok masih ada yang mau.

“Si sulung tinggal sama embahnya di Jakarta, nomer dua dan tiga ikut buliknya di Dily dan si Ragil di rumah,” jawab Maria.

“Banyak kali anak kelian. Ada yang nggak kebagian tunjangan dan jatah beras dong?”

Toni dan Maria senyum-senyum kecil. Sebenarnya mau panen. Tapi sudah kesorean. Maka diputuskan panen besok pagi. Kami bubar. Saya ikut pulang ke rumah Toni, di sebuah asrama polisi berdinding batako yang tidak begitu luas. Halaman rumahnya ditanami tomat dan cabai.

***

Butir embun masih menyisa di bijian kopi yang dipetik tiga lelaki berbibir merah. Mereka terbiasa mengunyah buah pinang. Hidup mereka sederhana. Tidak terlihat raut kebencian kepada kami meski secara fisik kami berbeda dengan mereka.

Bahkan Toni orang Jawa kelahiran Jakarta dan komandannya yang asal Boyolali bisa menikahi penduduk setempat. Tali asmara yang sederhana, tidak penuh drama seperti Lindi dan Evita, lebih terlihat seperti burung dara. Tidak perlu diruwetkan oleh masalah kecil yang selalu diungkit dan dibesar-besarkan.

Keesokan hari setelah panen kopi, penduduk setempat yang asli Timor Leste berduyun-duyun ke sebuah lapangan dekat kantor kecamatan. Di tangan mereka nasib komandan yang hendak tetap tinggal di Ermera setelah pensiun dipertaruhkan.

Begitu juga dengan nasib Toni yang memiliki empat orang anak dari hasil pernikahannya dengan Maria. Sejak panen selesai, bijian kopi dijemur, namun topik pembicaraan bukan lagi persoalan roasting dan sejenisnya. Melainkan terbawa arus obrolan jajak pendapat yang tentu saja menyangkut masa depan karir dan tempat tinggal keluarganya.

“Lin, kamu kan yang lebih tahu. Kalau opsi menentukan nasib sendiri yang menang apakah gue masih bisa membawa Maria dan anak-anak ke Indonesia? “

“Kenapa tidak? Mereka kan keluargamu. Tapi mudah-mudahan bukan itu yang terjadi,” jawabku sekaligus melihat-lihat suasana pencoblosan.

Yang dikawatirkan Toni dan komandannya terjadi juga. Di TPS tempat Maria dan kerabat besarnya mencoblos, opsi penentuan nasib sendiri alias merdeka menang telak. Keesokan harinya semua personil ABRI dari semua matra dan kepolisian dikumpulkan di markas Kodim Ermera.

Toni bintara Polsek Ermera bergabung pasukan Lorosae diberikan tugas mengevakuasi penduduk non-Timor Leste ke Dily. Hampir semua jalanan dijejali truk dan kendaraan lainnya yang berseliweran mengangkut pengungsi beserta barang-barang bawaannya

Pertama yang dievakuasi Toni adalah keluarganya, termasuk saya yang terjebak ruang konflik yang luput dari perhitungan. Hampir semua media pro-Jakarta meyakinkan saya kalau otonomi khusus yang bakalan menang. Saya pun tidak ragu berangkat ke Timor Leste sekaligus melupakan drama keluarga yang tidak kunjung padam.

Saya berdiri di bak truk polisi bertuliskan Lorosae bersama sekitar 50 pengungsi. Antara tanggal satu dan tanggal dua September, meskipun secara resmi hasil jajak pendapat belum diumumkan, namun kami harus bergegas meninggalkan Timor Leste.

Satu kantong biji kopi dari Ermera saya ikatkan dengan tali rapia ke tangan. Kami dibawa ke areal Bandara. Pesawat terbang hilir mudik, ada yang landing ada yang terbang. Setiap pesawat datang pengungsi berebut. Petugas kewalahan mengatur antrian warga non-Timurleste yang bergegas menyelamatkan diri dari cuaca politik yang cepat sekali berubah.

Sekali kantong plastik ditabrak kerumunan pasti ambyar, jatuh berserak dan diinjak-injak. Maka tali rapia tidak boleh putus. Kelak biji kopi ini bisa bicara apa saja. Singkat cerita hidup saya, meminjam pepatah Belanda, kip zonder kop. Ayam tanpa kepala. Jalan nabrak-nabrak sejak Ciwidey hingga Ermera.

Saya tidak lagi melihat Maria dan ketiga orang anaknya. Satu orang anaknya sudah di Jakarta. Tinggal bersama embahnya, saya memanggilnya Pakde Wagiran yang tinggal di Poltangan, Pasarminggu. Ternyata Maria dan ketiga anaknya sudah lebih dulu terbang menggunakan pesawat Hercules ke Bandara Eltari, Kupang. Tinggal saya sendiri di keramaian. Menunggu pesawat yang semakin jarang datang.

Keesokan harinya, tanggal 3 September 1999, lewat Despen Oposunggu, seorang teman lama yang berprofesi wartawan, nama saya bersama sejumlah wartawan tercatat dalam manifes penumpang Hercules ke Halim Perdana Kusumah yang transit di Bandara El-Tari, Kupang. Itu pesawat terakhir. Pengungsi yang tersisa akan dievakuasi ke pelabuhan yang berlokasi tidak jauh dari kantor gubernuran.

Sesuai permintaan Toni yang masih bertugas di Dilly saya turun di Bandara El-Tari. Tentu saja sekantong plastik biji kopi tetap terikat di tangan. Di terminal kedatangan saya lihat lambaian tangan Maria dan ketiga anaknya. Kami pun berpelukan di keramaian.

Mereka sudah satu malam tidur di tenda pengungsi dekat Bandara. Sejak pagi hari Maria dan keempat anaknya berjaga di terminal kedatangan. Toni tentu saja masih bertugas menjaga ketertiban kota Dilly sebelum mereka diangkut kapal bersama sisa pengungsi lainnya.

“Ayo, ajak anak-anak ikut ke Bandung. Tunggu suamimu di sana saja,” ajak saya sambil mencari-cari calo tiket yang kala itu menjadi hal lumrah di setiap bandara.

“Terima kasih om. Tapi biarkan saya dan anak-anak menunggu bapak di sini saja. Kalau ditelepon bapak, katakan, kami menunggu di tenda pengungsi dekat Bandara El-Tari” jawab Maria.

Diam-diam saya mengagumi Toni,:sosok Bintara yang tekun menjalani hidup apa adanya. Bisa membahagiakan istri dan keempat anaknya dengan cara sederhana. Jauh berbeda dengan saya dan Evita. Bisa berantem berhari-hari hanya karena tidur lupa cuci kaki dan gosok gigi. Semua serba diatur. Bahkan saat bercinta.

“Women on top,” katanya.

Proklamasi, 6 Juli 2025