April 20, 2026
cbfc2764-5ce8-41cc-9c07-8713f7031950 (1)

/1/

Ibu dan Rumah Sakit

Puisi: Leni Marlina

(Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM-Indonesia; Satu Pena Sumbar)

<<1>>

Di balik pintu rumah yang menyesak napas,
Ibu memanggul beban tak berbentuk,
langkahnya menyayat hujan yang menggigilkan jiwa—
kau, anakku, terkulai di pelukanku, sunyi tak bersuara.
Peluhmu membekas di pelipis kecil,
namun kau tak menangis,
karena dunia ini terlalu luas,
lebih luas dari nyeri yang bisa kau rasa.

Telapak kaki Ibu beradu dengan jalan penuh luka,
batu-batu tajam memagut setiap langkah,
namun ia tak peduli akan perihnya.
Hanya ada satu doa yang ia kejar,
setiap detik adalah medan pertempuran,
untuk memeluk kembali harapan
yang hampir tenggelam dalam perangkap keputusasaan.

<<2>>
Rumah sakit itu,
ujung sebuah penantian,
menyerupai nirwana yang tersembunyi di balik kabut pilu.
Ibu tahu, di sana ada dinding-dinding dingin
yang memisahkan nyawa dari keajaiban.
Ada aroma obat yang menusuk napas kecilmu,
dan tangan-tangan asing yang menulis nasib
dengan tinta yang tak pernah cukup menghapus luka.

<<3>>
Namun aku, anakku, meski gemetar oleh getirnya dunia,
tetap menuntunmu dengan sisa kekuatan yang ada.
Kita berjalan di jalan berbatu ini,
tidak untuk menyerah,
tapi untuk melawan,
untuk memaksa semesta membuka jalan.

Meski pintu-pintu tertutup rapat,
meski beban ini tak tertakar beratnya,
Ibu adalah rumah yang tak akan membiarkanmu hancur.
Tak peduli tak ada uang,
tak peduli harapan tinggal serpihan,
di dalam pelukan ini,
kehidupan akan selalu menemukan jalannya.

Karena kau adalah denyut jantung yang tak terus bergetar,
dan aku adalah Ibu yang akan terus melangkah,
melintasi gelap paling pekat sekalipun.
Demi satu impian:
bahwa suatu hari,
kau akan melihat dunia yang terang,
dengan mata yang telah bebas
dari segala belenggu derita.

Padang, Sumbar, 2010

——-
*Puisi ditulis tahun 2010, diedit kembali dan dipublikasikan pertama kalinya tahun 2024.

/2/

Mahkota di Langit Rumah

Puisi: Saunir Saun

(Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM-Indonesia, Satu Pena Sumbar)

Di setiap peringatan hari Ibu,
sebuah nama terbisik di langit rumah,
Ibu, yang detaknya menyatu
dengan denyut bumi.
Bukan hanya satu hari,
namun waktu seutuhnya,
kami titipkan hormat dan bakti pada jejaknya.

Ibu seperti pohon yang tak pernah kering,
akarnya menjalar di jantung rumah,
rantingnya melindungi jiwa-jiwa kecil
dari hujan dan angin yang merobek malam.
Daunnya berbicara dalam bahasa cinta,
setiap gugurnya adalah hikmah
yang tak terbilang.

Kami belajar dari matanya,
seperti samudera yang menyimpan duka
tanpa memuntahkan gelombang.
Dari tangannya yang dingin,
lahir kehangatan yang tak pernah hambar.
Ia seperti surga yang kami temukan
di dalam setiap detak napas.

Di bawah telapak kakinya,
kami menemukan jalan ke langit,
tak ada “ah” yang keluar,
tak ada duri di antara ucap.
Ia, mahkota yang bertakhta di dunia,
yang cahayanya mengalir ke surga.

Kini, Ibu,
biarkan kami merangkai pagi
dengan doa yang tak putus,
biarkan kami menabur bakti
di ladang hatimu yang tak pernah kering.
Engkau adalah mahkota langit rumah,
penghubung bumi dan langit,
ketika dunia kami sempit,
beban menghimpit,
hidup sulit,
engkau hantarkan kami memohon ridho Allah,
agar kami tak mudah menyerah.

Rumahku, Padang,
22 Desember 2024

—————–
Penulis adalah pensiunan Dosen Departemen Bahasa dan Sastra Inggris, FBS, Universitas Negeri Padang dan Universitas Muhammad Yamin Solok. Penulis dianugerahi penghargaan Penyair Prolifik Tahun 2023 dari Satu Pena Sumbar. Penulis juga dikenal dengan salah satu buku kumpulan puisinya yang berjudul “Goresan Puisi di Hari Tua”; dan novelnya berjudul “Lelaki yang Berhijrah”.

/3/

Perempuan dalam Bayang-Bayang

Puisi: Yusuf Achmad

(Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM-Indonesia, Satu Pena Jatim)

Di tengah kabut zaman yang remang,
wajah-wajah memucat oleh bayang cemas,
di mana pelipur, di mana terang?
Namun, ini hanyalah permainan kekanak.
Layar-layar kaca bertebar rupa,
makanan, wisata, tangan yang berpegangan—
hidup maya jadi simbol kenyataan.

Ini dunia kita,
atau rekayasa para pendengki,
yang mengaburkan peta peradaban tinggi?
Penyakit latah menjalar, menggerogoti jiwa,
tak tampak, namun nyata.

Lihatlah depot kopi berhiaskan nama asing,
menjual rasa yang hanya gincu;
mulut siapa yang mencicip manis pahitnya,
sedang lautan kopi meluap di tanah ini?
Dulu warung Telkom ramai,
atau penjaja akik bertebar di sudut negeri.
Kini, mereka sunyi,
menjadi makam tanpa penghuni.
Penyakit latah ini memahat kemandirian,
melahirkan generasi terkibiri,
kalah oleh tangan cukong bertabur dolar,
emas murni yang memenjarakan mimpi.

Namun, lihatlah!
Perempuan bukan bayang yang rapuh.
Di pundak mereka,
tonggak negeri bertumpu.
Aku ingin mereka di depan,
melangkah tegap membawa perubahan.
Dengan ilmu sebagai lentera sejati,
dan malu sebagai pakaian yang suci.

Aku rindu para lelaki berhati lembut,
yang bersikap perkasa tanpa keangkuhan.
Mari didik, motivasi, dan ajak anak negeri
membangun dunia dari akar yang kokoh,
dimulai dari perempuan-perempuan yang tangguh,
tak latah, tak menyerah pada arus yang menipu.

Lihatlah mereka!
Di tangan perempuan,
zaman akan dilipat,
masa depan dijahit,
dan mimpi negeri dirajut dengan kasih.

Surabaya,
12 Desember2024
————————————–
*Penulis saat ini merupakan Kepala SMK SAINTREN Al -Hasan Surabaya; dan Ketua MKKS SMK Swasta Surabaya. Penulis juga dikenal dengan salah satu buku himpunan puisinya “Belanggur di Nyamplungan”.

/4/

Perempuan dan Cahaya Perjuangan

Puisi :Mitha Pisano

(Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM -Indonesia, Satu Pena Jakarta)

Dalam hening malam yang memeluk dunia,
kau tetap terjaga,
merajut asa di tapal luka,
mengusap air mata yang tersembunyi di balik senyuman permata,
perempuan, engkau pelita melawan gelap dunia.

Di punggung penat, kau pikul dunia,
memupuk harapan di ladang kehidupan,
merajut mimpi untuk anak-anak bangsa,
mengukir sejarah dengan langkah nyata.

Tak gamang melawan badai kesewenangan,
membelah langit untuk keadilan,
walau dunia kadang tak berpihak,
hatimu kokoh,
tak kan koyak.

Engkaau adalah cahaya bagi generasi
yang mengajarkan arti berdiri di kaki sendiri,
dengan tanganmu,
kau ubah dunia ,
mengusir kelam,
mendekap cerah dan cinta.

Perempuan, engkau bagaikan cahaya jagad raya,
yang menciptakan keajaiban dengan cinta,
dalam perjuanganmu,
berkibar impian,
agar semesta ini lebih adil dan aman.

Bukittinggi, Sumbar,
12 Desember 2024

—————————
*Penulis adalah anggota aktif Satu Pena Jakarta, kelahiran Sumbar dan berdomisili di Jakarta

/5/

Rerumputan Ajari Aku Kekuatanmu

Puisi:
Muslimin (Cak Mus)

(Komunitas Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM-Indonesia; Satu Pena Jatim)

Maafkan aku, rerumputan,
aku yang melangkah tanpa menyapamu,
meninggalkan jejak kotor di tubuhmu,
menjadikanmu abu dalam nyala yang angkuh.
Gelak tawa dan paving beton
merampas tarianmu di pangkuan bumi.

Namun akarmu bagaikan ibu,
yang menyimpan rindu dalam sabar purba,
menghisap kekuatan dari gelap tanah,
merapal doa dalam diam
hingga hujan memelukmu,
dan pucukmu kembali mendekap cahaya.

Kau seperti perempuan
yang bangkit dari luka,
yang menjahit senyuman
di setiap helai daunmu,
mewarnai bumi
dengan hijau yang tak pernah menyerah.

Ajarkan aku keteguhanmu, rerumputan.
Ajarkan aku menjadi seperti ibu-ibu di ladang,
yang memetik teh dengan tangan penuh harap,
meski lelah menghias langkahnya,
tapi peluh mereka adalah hujan
bagi dapur kecil yang lapar.

Aku yang sering gugur di hembus angin,
aku yang kerap lupa menghargai pagi.
Ajarkan aku memeluk badai
dan tetap tumbuh seperti dirimu,
mencintai bumi dengan senyum yang kokoh,
meski diinjak, dibakar, dan dilupakan,
engkau semakit kuat mengakar dan bertahan.

Lamongan, Jatim
25 Desember 2024
——————–
Nama lengkap penulis: Muslimin, panggilan Cak Mus. Lahir di Lamongan, 20 Mei 1969. Setamat dari SMAN 2 Lamongan, kuliah di IKIP Negeri Surabaya jurusan Bahasa Indonesia. Mengajar sejak 1991 di MTs A. Wahid Hasyim Tikung, SMP-SMA Tashwirul Afkar Sarirejo, SMP Islam Tikung, PKBM Mahayana dan PKBM Mizan Lamongan. Aktif di PERGUNU Lamongan dan Lembaga Bahtsul Masail MWC NU Tikung Lamongan.

/6/

Sayang yang Tak Bermayang

Puisi:
Dewit Zamza Welita

(Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM – Indonesia; Poetry-Pen International Community)

Bahagia kini adalah bayangan rapuh,
terpaut jauh di tepian sunyi.
Bukan lagi milikku,
tapi senyum di wajah mereka,
cahaya kecil di tengah badai tak bernama.
Duhai dunia…
jangan tetesi aku dengan tajam matamu,
aku ini daun yang menggigil,
takut gugur sebelum musim berganti.

Aku merindui waktu yang lama,
sebuah fajar di ujung luka
di mana bahagia menanti, meski perih.
Izinkan aku, meski hanya sesaat,
melukis senyum di kanvas polos tanpa dosa,
menitipkan pelangi di lengkung mata mereka.

Berilah langkahku nafas panjang,
agar dapat kususuri jalan berduri
yang membawa cahaya ke masa depan.
Izinkan aku berbicara dengan Sang Pemilik malam dan siang,
menawar dosa, menakar cinta,
memohon ampun bagi hati yang kerap lalai.

Duhai dunia…
Aku hanyalah ibu dengan tangan yang gemetar,
sayangku tak bermayang,
seperti pohon yang kehilangan bunga
di tengah angin tak bersahabat.
Namun aku terus menanam doa
di ladang keraguan,
berharap ia tumbuh,
walau diguyur hujan tangis sebelum mekar.

Meski rinduku hanyalah layar tak berlabuh,
aku akan terus mengayuh harapan,
hingga surga menemukan jalannya
di antara tapak kecil mereka.

Pasa Rabaa,
Padang Panjang, Sumbar,
23 Desember 2024

———
*Penulis berprofesi menjadi pendidik mulai dari tahun 2005 sampai sekarang. Penulis pernah mengajar diberbagai jenjang pendidikan mulai dari tingkat PAUD, SD, SLTP, SLTA dan perguruan tinggi. Penulis pernah mengajar di kota Perawang Pekanbaru, Kota Padang, Dharmasraya,dan di Kalimantan Selatn. Dan mulai tahun 2022 sd sekarang penulis aktif mengajar di SDQU Uswatun Hasanah Pandai Sikek, Sumbar.

/7/

Ibu, Menggenggam Dunia yang Terbakar

Puisi: Leni Marlina

(Komunitas Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat: PPIPM-Indonesia; Satu Pena Sumbar)

<<1>>
Dinding ini retak, tapi aku masih berdiri.
Di belakang langit yang koyak dan terbelah,
kau bertanya—
“Kapan, Bu? Kapan seragam baru itu?”
Kata-katamu menusuk seperti panah,
bisu yang pecah menjadi luka,
menghantam ruang yang tak mampu lagi
meredam tangis tak bersuara.

Aku, ibumu,
di ujung ruang yang menggugurkan mimpi,
meraba udara yang beratnya seperti batu.
Seragam itu,
bukan hanya sehelai kain,
melainkan cermin dunia yang menatap kosong—
petunjuk yang hilang di rimba kemiskinan.
Aku menggenggam harapan,
bukan dengan tangan,
tapi dengan darah yang mengering di tanah tempat kita berpijak.

Uang, ilusi yang selalu menguap
sebelum sempat kugenggam.
Kita hidup di antara sisa-sisa janji,
di antara reruntuhan dunia yang tak lagi mengenali kita.
Anakku,
kau melihat masa depan dalam selembar seragam,
tapi yang kulihat hanyalah bayang-bayang:
lapisan debu yang tak pernah bisa kuhapus
dari tembok kehidupan kita yang telah retak.

<<2>>
Tangan ini,
yang pernah mengukir luka dan harapan,
tak mampu menjahit kembali dunia yang koyak.
Setiap benang yang kupintal adalah darah,
setiap jahitan adalah mimpi yang terurai.
Seragam itu, kau pikir hanya kain,
tapi bagiku, itu adalah serat-serat lapuk,
seperti tanah yang kehilangan daya untuk menumbuhkan.

Namun, anakku,
di tengah ketidakmampuan ini,
kita tetap bertahan.
Aku adalah ibu yang menggenggam dunia yang terbakar,
dan aku tak akan membiarkanmu padam.
Seragam itu tak akan mendefinisikanmu,
karena di matamu,
aku melihat dunia yang tak pernah menyerah.

<<3>>
Kau telah belajar memanggul dunia
dalam langkah kecilmu yang tak kenal lelah.
Kita adalah tanah yang hancur,
namun di dalam retaknya masih tumbuh benih.
Kita mungkin tak punya seragam,
tapi kita punya kehidupan—lebih tangguh
dari apa pun yang bisa dibeli dengan uang kertas itu.

Kita, yang membangun dunia dari luka,
akan terus berjalan, dengan atau tanpa seragam.
Karena harapan kita adalah bara yang lebih panas,
lebih kokoh dari apa pun yang bisa dihancurkan.
Aku, ibumu,
tak akan pernah menyerah—
akan terus menggenggam dunia yang terbakar ini
dengan tangan yang tak pernah lelah,
agar kau, anakku, selalu punya kekuatan
untuk melawan dunia yang menjajah,
agar kau terus sekolah sampai tamat kuliah,
kita takkan menyerah.

Padang, Sumbar, 2010
————————-

*Puisi awalnya ditulis sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2010, diedit kembali dan dipublikasikan pertama kalinya tahun 2024.

*Penulis selain menjadi anggota aktif Satu Pena Sumbar, ia juga pendiri dan ketua komunitas PPIM (Pondok Puisi Inspirasi Masyarakat). Selain itu ia anggota aktif komunitas Penyair dan Penulis ACC Shanghai Huifeng International Literary Association; pendiri dan ketua Poetry-Pen International Community.
Ia dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Ia juga anggota FSM (Forum Siti Manggopoh). Penulis sudah mengabdi sebagai dosen Departemen Bahasa Inggris FBS Universitas Negeri Padang sejak tahun 2006.

*Dalam proses editan puisi, Leni juga terinspirasi dari sejumlah karya puisinya yang sudah terpublikasi pada link berikut:
1]

Kumpulan Puisi Leni Marlina (Padang) “Kekuatan Cinta Ibu”


2] https://suaraanaknegerinews.com/ibu-dan-perempuan-titipan-tuhan-kumpulan-puisi-selektif-komunitas-ppipm-pondok-puisi-inspirasi-masyarakat/
3]

“Perempuan, Ibu dan Kehidupan (1)”: Kumpulan Puisi Selektif Komunitas PPIPM-Indonesia


4]
https://potretonline.com/2024/11/di-antara-peluh-dan-impian-yang-tumbuh/
5]

Puisi Leni Marlina: “Jejak Ibu di Ujung Senja”


6]
https://potretonline.com/2024/11/di-balik-piring-dan-gemericik-air/
7]
https://bonuasastra.kim.id/berita/read/kumpulan-puisi-leni-marlina-padang-19976-720104103102/0
8]
https://hatipena.com/puisi/kumpulan-puisi-leni-marlina-padang-beringin-di-ranah-minang/
Dll