Oleh : Ria Oktaviantina
Guru SMKN 6 Padang
–
Jika berbicara tentang bahasa banyak hal yang jadi perbincangan. Biar bagaimanapun manusia tidak bisa dilepaskan dari bahasa, sebab bahasa adalah salah satu alat atau media penyalur aspirasi dan juga alat komunikasi. Lancarnya komunikasi seseorang disebabkan oleh bahasa yang digunakan. Dalam kegiatan apa saja bahasa memiliki peran yang besar baik dalam bentuk ucapan maupun dalam bentuk isyarat atau lisan.
Manusia dilahirkan melewati tahap-tahap atau proses tertentu disebut juga dengan keterampilan (maharah). Dimulai dari proses mendengar (maharartul istima’) kemudian dilanjutkan dengan keterampilan mengucapkan dari apa yang didengarnya (maharatul kalam), setelah proses mengucapkan sampailah pada tahap menulis (maharatul kitabah) dan tahap paling akhir adalah proses membaca (qiraah). Setelah empat proses tersebut terpenuhi barulah manusia bisa menggunakan bahasa dengan baik.
Penggunaan bahasa yang baik itu ditandai dengan pahamnya seseorang dalam penyampaian bahasa yang digunakan baik melalui lisan maupun bentuk tulisan. Kemudian bahasa tercipta karena adanya masyarakat. Dalam hal ini masyarakat tidak bisa dilepaskan karena bahasa dan masyarakat memiliki kaitan erat. Masyarakat tidak bisa berjalan tanpa bahasa begitu juga sebaliknya tidak akan ada jika tidak ada masyarakat. Bangsa yang baik, maju dan berperadaban terlihat dari bagaimana penduduknya berbahasa.
Lalu berbicara kaitan bahasa dengan sastra pada saat ini merupakan aspek yang sangat rumit. Dewasa ini banyak mempelajari kajian-kajian sastra asing seperti sastra Arab, sastra Jepang dan sastra Inggris di tingkat universitas menjadi probelamatika tersendiri bagi penikmat sastra. Bagaimana tidak, tanpa disadari bahasa berperan penting dalam mengkaji kajian-kajian sastra. Seseorang tidak akan bisa melakukan sebuah analisis teks sastra tanpa mengetahui bahasanya.
Keluhan sering terjadi saat dihadapkan dengan teks sastra. Sebenarnya yang rumit itu bukanlah analisis sastra, akan tetapi persoalan bahasa yang tidak dimengerti oleh si pengguna. Tercapainya sebuah karya, berarti tergarap pula bahasanya dengan baik. Jika bahasa sudah dimengerti, segala sesuatu dapat dengan mudahnya dipahami.
Namun, seiring berjalannya waktu tuntutan pun semakin banyak. Tuntutan untuk membaca lalu tuntutan untuk di aplikasikan dalam bentuk tulisan sehingga melahirkan sebuah karya sastra. Lalu, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi jika membacanya saja sudah terkendala. Karya seseorang akan bernilai tinggi ketika bahan acuannya adalah dari bahasa sastra itu sendiri.
Kita tidak bisa hanya semata-mata cinta terhadap sastra. Mencintai sastra juga harus mencintai bahasanya. Mencintai sastra Arab misalnya juga harus mencintai bahasa Arab. Mencintai sastra jepang juga harus mencintai bahasa Jepang dan begitu juga dengan sastra Inggris. Fenomena-fenomena inilah yang sudah mengakar dan menjadi bumerang bagi kalangan intelektual sastra. Sastrawan-sastrawan hebat itu tidak lahir begitu saja tetapi banyak proses yang dilalui terutama proses membahasakan dengan baik karya sastra sehingga bisa dipahami oleh pembaca umum.
Miris memang, jika kita melirik permasalahan di atas. Universitas menawarkan dengan bermacam sastra asing akan tetapi konsep dasar tidak dibekali dari awal sehingga perkuliahan pun berjalan hambar. Sama-sama kita sadari bahwa untuk mendalami sastra harus paham bahasa. Lalu untuk menyebarkan peran bahasa adalah kerjanya sastra. Membekali diri itu penting, akan tetapi jauh lebih penting lagi menyadari akan kapasitas diri. Agar tidak terombang ambing dalam kebingungan, adakalanya mata pelajaran yang berkaitan dengan sastra dimasukkan dalam kurikulum. Melalui implementasi inilah setidaknya ada bekal untuk menuju perguruan tinggi.