Puasa: Terbang Menjadi Kupu-Kupu
yusufachmad Bilintention
Ketika ditanya makna puasa,
Jawaban beragam: etika, cara, dan kala.
Ada yang menyamakannya dengan ular,
Ada pula kepompong yang merasa paling benar.
Puasa berbusana ṣawm atau ṣiyām,
Bersaudara dengan Lent, Vrata, atau tanpa nama.
Ia boleh berganti rupa kapan saja,
Namun puasaku bukan milik ular, bukan pula kepompong semata.
Mereka diam dalam tapa berkepanjangan,
Tak makan, tak minum, hanya menunggu perubahan.
Aku tak mampu begitu,
Karena mentari menyalakan bara di tubuhku.
Aku berdiri di bawah sinar yang membakar,
Menghitung detik hingga azan memanggil berbuka.
Wejangan ustaz dan kiai menuntunku,
Meski jalanku tak seperti ular atau kepompong.
Mereka mulia dalam diam,
Namun puasa bukan sekadar menahan lapar,
Ia adalah perjalanan jiwa,
Melebihi sekadar kulit yang berganti,
Melebihi sekadar tubuh yang bertransformasi.
Di benak ular dan kepompong kutelusuri,
Mereka hanya mampu diam dalam lapar dan dahaga.
Namun dalam ajaran, puasa lebih dari itu:
Ia menumbuhkan indahnya jiwa,
Seperti kupu-kupu yang terbang menuju pelita.
Puasaku bukan sekadar menunggu,
Ia adalah sayap yang menggapai ridha-Nya.
Puasaku terbang bak kupu-kupu,
Menyongsong harapan dan cinta yang kutunggu.
Surabaya, 16 Januari 2025
Untuk tulisan lain silahkan buka:
https://yusufachmad-bilintention.blogspot.com
https://www.kompasiana.com/yusufachmad7283/dashboard/write
https://www.instagram.com/yusufachmad2018/?hl=en
https://web.facebook.com/profile.php?id=61559794614211
Suaraanaknegerinews.com
https://medium.com/@yusufachmad2018
https://flipboard.com/@yusufachmad4bpu/bilintention-puisi-refleksi-atau-bilintention-literasi-sosial-spiritual-7barjr9ly