Puisi dan Jiddahku
yusuf achmad
Pagi-pagi jiddahku menyapa lagi. Setelah malam ia desah doa
untukku. Dengan berjuta kata sayang. Menyuruhku segera
bangkit. Beribadah atau bekerja. Ia tak pedulikan semua.
Inginnya menyapa dan mengasihi saja. Menuntunku pada
Tuhan yang maha segala.
“Subhal khair,” ucapnya padaku setiap pagi. Hangat shay, ia
tuangkan pada lepek “Taal, ayo mumpung masih hangat,”
kata jiddahku bersemangat. Panggilan kasih sayang jiddahku
mengalahkan bisikan puisi pagi. Puisi pagi tak sebanding, meski
disejajarkan dengan lepek.
Lepek shay jiddahku energi tiada banding. Jangankan embun pagi
puisi. Air sungai mengalir di Nyamplungan zaman keemasan
dikumpulkan. Bukanlah tandingan sayangnya padaku. Hidup
dan kehidupanku terus menggelinding.
Teringat jiddahku shay dalam pelukan lepek. Puisi pagi menjeratku
dalam rayuan. Tapi juga memaksa air mata rindu. Tumpah deras
hangat dan menetes. Di tepi lepek shay jiddahku. Ingin kuminum
dan kuminum. Seperti puisi pagi yang selalu menggoda. Seperti
jiddahku yang selalu menunggu.
26 juni 2023